TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui adanya persoalan sampah yang cukup serius dalam beberapa waktu terakhir ini.
Penumpukan sampah terjadi di sejumlah titik, seperti yang sempat terjadi di dekat Rusun Angke Tambora hingga Pasar Induk Kramat Jati.
Pramono mengatakan, kondisi ini dipicu gangguan di TPST Bantargebang, khususnya di Zona 4 yang sebelumnya mengalami longsor.
“Jadi, hampir satu minggu sebelum lebaran memang ada persoalan sampah di Jakarta. Saya sampaikan apa adanya ini, karena Zona 4 di Bantargebang pada waktu longsor itu baru tertangani,” ucapnya dikutip Senin (30/3/2026).
Insiden longsor itu pun sempat membuat pembuangan sampah di Zona 4 TPST Bantargebang ditutup sementara.
Hal ini yang kemudian membuat proses pengangkutan sampah dari Jakarta ke lokasi pengolahan akhir tersendat.
Akibatnya, sejumlah titik penampungan sementara mengalami penumpukan sampah.
Meski demikian, Gubernur Pramono menjamin, kondisi ini sudah mulai berangsur normal kembali seperti semula.
Zona 4 TPST Bantargebang yang sempat ditutup pun sudah mulai kembali beroperasi lagi.
“Sehingga dengan demikian kalau dilihat sekarang, hari-hari ini praktis sampah-sampah yang ditimbun sementara sudah mulai kami angkut kembali,” ujarnya.
Sebagai solusi jangka menengah, Pemprov DKI Jakarta kini tengah berupaya mengoptimalkan fasilitas pengolahan sampah RDF Rorotan.
Sebagian sampah yang biasa dikirim ke TPST Bantargebang kini mulai diolah di fasilitas pengolahan sampah modern warisan Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono itu.
Saat ini, sampah yang diproses menjadi energi alternatif di RDF Rorotan berkisar di angka 700 hingga 800 ton per hari.
“Sehingga nanti dari tempat-tempat pengumpulan (sampah), kami akan atur kembali apakah akan dibawa ke Bantargebang atau ke Rorotan,” tuturnya.