TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) dunia akibat ditutupnya Selat Hormuz buntut perang antara Iran dengan Amerika tidak berdampak pada aktivitas nelayan di Trenggalek.
Sejumlah nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi, Desa Tasikmadu, Kecamatan/Kabupaten Trenggalek mengaku stok solar untuk melaut masih aman.
Begitu juga harga solar yang stabil alias tidak mengalami kenaikan.
Dari pantauan TribunMataraman.com di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di PPN Prigi juga nampak sepi, tak terlihat transaksi jual beli solar untuk kebutuhan nelayan.
"Masih mudah untuk mencari solar. Karena belum musim ikan," kata seorang nelayan PPN Prigi, Sena, Senin (30/3/2026).
Menurut Sena, saat ini banyak nelayan yang tidak melaut karena belum memasuki musim ikan, sehingga permintaan atau kebutuhan solar nelayan pun cenderung rendah.
"Harga juga (solar) juga masih normal, Rp 6.800 per liter," katanya.
Baca juga: Terima Keluhan Kesejahteraan Guru di Kediri, Anggota DPRD Jatim siap Dorong Solusi Hingga Pusat
Sena sendiri tidak begitu menghiraukan dengan konflik yang terjadi di timur tengah.
Ia hanya khawatir saat musim ikan datang nanti, stok solar akan menipis dan menjadi rebutan nelayan.
"Musim ikan itu biasanya mulai bulan April - Mei. Saat itu sangat terasa sulitnya mencari solar karena semua nelayan berangkat mencari ikan sehingga kebutuhan solar pasti naik," tambahnya.
Saking sulitnya, Sena tak jarang harus mencari solar jauh keluar Kecamatan Watulimo, bahkan keluar dari Kabupaten Trenggalek, hingga Tulungagung bahkan Kediri - Blitar.
Kebutuhan solar nelayan sendiri tak main-main. Dalam sehari melaut, kapal Purse Sein membutuhkan setidaknya 400 liter solar bahkan bisa lebih banyak jika titik pencairan ikannya lebih jauh.
"Kalau tidak dapat solar ya tidak bisa berangkat melaut. Jadi mau tidak mau harus mencari ke luar kota sampai dapat," pungkasnya.
(Sofyan Arif Candra/TribunMataraman.com)
Editor : Sri Wahyunik