Jejak Persia dalam Intelektual Islam Aceh: Dari Tasawuf ke Manuskrip Jawi
Muhammad Hadi March 30, 2026 09:20 PM

Oleh Tarmizi A Hamid*)

Aceh sejak lama dikenal sebagai “Serambi Utama Mekkah”,  sebuah julukan yang menegaskan kedekatannya dengan pusat-pusat Islam di Timur Tengah. 

Namun, jika ditelusuri lebih dalam, wajah intelektual Islam Aceh tidak hanya dibentuk oleh pengaruh Arab semata. 

Ada jejak lain yang lebih halus, namun sangat mendalam dengan pengaruh Persia.

Jejak ini tidak hadir dalam bentuk kekuasaan politik atau ekspansi militer, melainkan melalui jalur yang lebih subtil—tasawuf, sastra, bahasa, dan jaringan ulama.

 Justru karena sifatnya yang “sunyi”, pengaruh Persia sering luput dari pembacaan sejarah arus utama.

Tasawuf sebagai Pintu Masuk

Salah satu pintu utama masuknya pengaruh Persia ke Aceh adalah melalui tradisi tasawuf. 

Pada abad ke-16 hingga ke-17, Aceh berkembang menjadi pusat studi Islam yang penting di Asia Tenggara. 

Para ulama yang datang dan belajar di sana tidak hanya membawa ajaran fikih, tetapi juga pemikiran sufistik yang telah berkembang pesat di dunia Persia.

Ajaran seperti konsep kesatuan wujud (wahdatul wujud) menjadi bagian dari diskursus intelektual di Aceh.

Pemikiran ini menekankan bahwa realitas sejati hanyalah Tuhan, sementara alam semesta adalah manifestasi darinya. 

Baca juga: Houthi Yaman Bantu Iran Lawan AS-Israel, Ini Dampaknya Jika Selat Bab al-Mandab Diblokade

Di tangan ulama Aceh, konsep ini tidak hanya dipahami secara filosofis, tetapi juga diungkapkan dalam bahasa puitis yang dekat dengan masyarakat.

Di sinilah kita melihat proses penting: bukan sekadar adopsi, tetapi transformasi. Tasawuf yang berakar dari tradisi Persia dan filsafat Islam kemudian “diterjemahkan” ke dalam konteks Melayu-Aceh.

Bahasa dan Manuskrip: Persia dalam Jawi

Pengaruh Persia juga tampak jelas dalam manuskrip Jawi Aceh. Banyak istilah yang digunakan dalam teks-teks keagamaan dan sastra Melayu ternyata berasal dari bahasa Persia, seperti “syah”, “bandar”, “diwan”, hingga “nakhoda”. 

Ini menunjukkan bahwa jalur transmisi Islam ke Aceh tidak tunggal, melainkan melalui jaringan luas yang melibatkan Persia, India, dan Arab.

Lebih dari sekadar kosakata, struktur narasi dalam hikayat-hikayat Aceh juga memperlihatkan kemiripan dengan tradisi sastra Persia. 

Kisah-kisah raja tidak hanya ditulis sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai representasi simbolik tentang kekuasaan, takdir, dan hubungan manusia dengan Yang Ilahi.

Baca juga: Kopiah Meukeutop Aceh, Berasal dari Pidie, Dipopulerkan Teuku Umar, Sekarang Banyak Salah Motif

Dalam manuskrip, kita juga menemukan gaya bahasa yang sarat dengan simbol: laut sebagai perjalanan spiritual, cahaya sebagai kebenaran, dan perjalanan sebagai metafora pencarian Tuhan. 

Ini adalah ciri khas sastra sufistik yang berkembang dalam tradisi Persia.

Dialektika dan Dinamika Intelektual

Menariknya, pengaruh Persia di Aceh tidak diterima begitu saja tanpa kritik. 

Sejarah mencatat adanya perdebatan tajam di kalangan ulama, khususnya terkait ajaran tasawuf filosofis.

Sebagian ulama menganggapnya terlalu abstrak dan berpotensi menyesatkan jika tidak dipahami dengan benar.

Baca juga: Sosok Salman Al-Farisi: Strategi Jenius Persia di Balik Kemenangan Perang Khandaq

Perdebatan ini menunjukkan bahwa Aceh bukan sekadar “penerima pasif”, melainkan ruang dialektika intelektual yang hidup. 

Di satu sisi, ada upaya mempertahankan ortodoksi; di sisi lain, ada keberanian untuk mengeksplorasi dimensi spiritual yang lebih dalam.

Justru dari ketegangan inilah lahir kekayaan tradisi intelektual Aceh.

Jejak pada Batu Nisan dan Tradisi Lokal

Pengaruh Persia juga dapat dilacak pada epitaf batu nisan kuno di Aceh. 

Ungkapan-ungkapan tentang kematian sering kali tidak hanya bersifat formal, tetapi juga reflektif dan sufistik, menggambarkan kematian sebagai perjalanan kembali kepada Tuhan.

Kalimat-kalimat ini tidak sekadar informatif, tetapi juga filosofis, bahkan puitis. 

Ini menegaskan bahwa cara masyarakat Aceh memahami kehidupan dan kematian dipengaruhi oleh tradisi spiritual yang lebih luas, termasuk Persia.

Membaca Ulang Sejarah

Melihat semua ini, sudah saatnya kita membaca ulang sejarah intelektual Islam di Aceh dengan perspektif yang lebih luas. 

Menyederhanakan pengaruh hanya pada Arab berarti mengabaikan jaringan besar peradaban Islam yang saling terhubung.

Aceh pada masa lalu adalah simpul penting dalam jaringan tersebut, menghubungkan dunia Arab, Persia, India, dan Nusantara. 

Baca juga: Kata Terakhir Sang Istri Azila untuk Praka Farizal Sebelum Gugur Diserang IDF di Lebanon: Suami

Dari simpul inilah lahir sebuah tradisi khas: Islam Aceh yang sufistik, puitis, dan kosmopolitan.

Jejak Persia mungkin tidak selalu tampak di permukaan, tetapi ia hidup dalam kata-kata, dalam manuskrip, dalam syair, bahkan dalam cara masyarakat memaknai kehidupan.

Dan justru dalam jejak yang “sunyi” itulah, kita menemukan kedalaman peradaban.

*) PENULIS, Tarmizi A Hamid adalah pemerhati sejarah dan budaya Aceh dan Pendiri Rumoh Manuskrip Aceh.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.