TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Upaya penghematan bahan bakar minyak (BBM) dan bahan bakar gas (BBG) tidak selalu identik dengan pembatasan aktivitas ekonomi.
Pendekatan efisiensi justru dinilai mampu menjaga bahkan meningkatkan produktivitas, selama dilakukan secara terukur dan berbasis kebutuhan.
Ciplis Gema Qoriah, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menekankan bahwa konsep hemat energi lebih pada kecerdasan dalam penggunaan.
"Artinya dengan ketersediaan yang ada, mampu mengoptimalkan antara biaya dan manfaat dengan dukungan mitigasi risiko yang baik, mengoptimalkan sistem digital dan menciptakan sistem yang tertata lebih rapi," katanya, Senin (30/3/2026).
Pada skala rumah tangga, langkah efisiensi dapat dimulai dari hal sederhana seperti penggunaan listrik sesuai kebutuhan, memilih perangkat elektronik berdaya rendah, hingga pengelolaan konsumsi gas secara efektif. Selain itu, perencanaan penggunaan BBM untuk mobilitas harian juga menjadi faktor penting, termasuk mempertimbangkan jarak, akses jalan, dan urgensi aktivitas.
Baca juga: Khawatir Perang Iran Picu Kelangkaan BBM, Masyarakat Jatim Panic Buying LPG Buat Stok di Rumah
Pendekatan ini membuat alokasi energi menjadi lebih tepat sasaran tanpa mengurangi produktivitas. Ke depan, pemanfaatan energi alternatif seperti panel surya di tingkat rumah tangga dinilai berpotensi dikembangkan, dengan dukungan kebijakan pemerintah dalam bentuk subsidi bertahap.
Pada level industri, prinsip efisiensi diterapkan dalam skala lebih besar. Penggunaan energi perlu direncanakan berdasarkan prioritas produksi dan target pendapatan. Optimalisasi teknologi, termasuk kecerdasan buatan, turut berperan dalam menekan biaya sekaligus meningkatkan kualitas output.
Efisiensi juga dapat diperkuat melalui desain sistem produksi dan pencahayaan modern yang hemat energi. Di sisi lain, inovasi energi non-fosil seperti tenaga surya, air, angin, dan sumber kinetik mulai menjadi alternatif strategis untuk mengurangi ketergantungan pada energi konvensional.
Dalam konteks yang lebih luas, peran pemerintah menjadi krusial melalui pembangunan infrastruktur transportasi yang efisien. "Pemerintah perlu memperbaiki infastruktur jalan darat yang rusak secara berkala untuk mengurangi kebutuhan BBM kendaraan. Semakin tidak bagus jalan semakin banyak energi yang dikeluarkan, dan itu berbiaya," kata Ciplis.
Ciplis juga menilai pengembangan jalur tol, serta peningkatan moda transportasi laut dan udara akan mampu menekan konsumsi BBM sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Pemerintah juga didorong membangun sistem data transportasi dan distribusi yang terintegrasi guna meningkatkan efisiensi arus barang dan jasa antarwilayah. Upaya mitigasi risiko bencana turut menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran jalur distribusi.
Seiring dengan potensi menipisnya energi fosil, percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan menjadi kebutuhan strategis. Kebijakan konversi energi dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Sementara itu, Wakil Ketua Kadin Jawa Timur Edi Purwanto menegaskan, efisiensi energi tidak berkaitan dengan pengurangan aktivitas.
"Namun lebih pada upaya untuk meminimalisir potensi pemborosan dalam suatu aktifitas dengan cara melakukan efisiensi, punya skala prioritas dan lebih terukur," katanya.
Langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain melakukan substitusi energi dari BBM ke listrik atau gas, mengatur waktu operasional industri, serta melakukan perawatan rutin mesin produksi. Selain itu, evaluasi sistem transportasi dan logistik menjadi kunci karena sektor ini menyerap energi dalam jumlah besar.
Baca juga: Daftar Harga BBM Nonsubsidi Diprediksi Naik 10 Persen Per 1 April 2026, Terdampak Timur Tengah
Digitalisasi juga menjadi solusi penting, terutama dalam mengurangi mobilitas fisik yang tidak perlu. Pemanfaatan pertemuan daring dinilai mampu menjaga produktivitas tanpa meningkatkan konsumsi energi.
Berdasarkan gambaran kebutuhan energi, beban terbesar rumah tangga masih berasal dari sektor transportasi. Konsumsi BBM harian per rumah tangga berada pada kisaran 3 hingga 12 liter, sementara listrik dan BBG cenderung lebih stabil. Hal ini menunjukkan bahwa strategi efisiensi paling berdampak terletak pada pengelolaan mobilitas.
Dengan pendekatan terintegrasi dari rumah tangga, industri, hingga kebijakan pemerintah, efisiensi energi dapat menjadi solusi untuk menjaga produktivitas ekonomi sekaligus menghadapi tantangan keterbatasan sumber daya energi di masa depan