Oleh Teguh Akbar - Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bangka Belitung
PROVINSI Bangka Belitung (Babel), yang memiliki kekayaan sumber daya alam timah, menghadapi tantangan signifikan dalam pengembangan sumber daya manusia.
Meskipun sektor pertambangan menyumbang 30 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi pada tahun 2025 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka masih berada di atas 5 persen, serta kualitas sumber daya manusia relatif rendah akibat minimnya keterampilan digital dan pendidikan vokasi yang memadai.
Dalam konteks transisi menuju ekonomi hijau dan industri 4.0, Bangka Belitung perlu mengembangkan strategi pengembangan SDM yang adaptif dengan mengadopsi praktik-praktik terbaik internasional sekaligus mempertahankan nilai budaya lokal serta memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.
Provinsi ini masih sangat bergantung pada tenaga kerja tambang tradisional, namun fluktuasi harga timah di pasar global mendorong upaya diversifikasi ekonomi ke sektor pariwisata, pertanian organik, dan industri pengolahan.
Survei Kementerian Pendidikan tahun 2024 memperlihatkan bahwa hanya 25 persen lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang siap kerja di sektor non-tambang.
Masalah utama yang dihadapi meliputi kurangnya pelatihan berbasis kompetensi serta ketidaksesuaian kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja global, ditambah budaya gotong royong yang sering kali terabaikan dalam sistem pendidikan formal.
Sebagai solusi, Bangka Belitung dapat mengadopsi model Talent Development Framework dari Singapura yang mengintegrasikan pelatihan digital melalui program SkillsFuture; skema serupa dapat diterapkan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) provinsi dengan subsidi bagi kursus terkait kecerdasan buatan (AI) dan pertambangan ramah lingkungan.
Contoh lain adalah Dual Vocational Training dari Jerman yang melibatkan kerja sama antara perusahaan dan sekolah vokasi; model ini relevan untuk PT Timah yang berpotensi melatih 10.000 pekerja lokal setiap tahunnya.
Di Australia, program Indigenous Employment yang mengombinasikan pelatihan pertambangan berkelanjutan dengan kearifan lokal masyarakat pribumi Melayu juga dapat dijadikan acuan bagi Bangka Belitung.
Namun demikian, adaptasi tersebut harus dilakukan secara kontekstual dan tidak mentransfer begitu saja tanpa mempertimbangkan nilai-nilai lokal seperti semangat "Bumiputera" dan tradisi festival budaya yang dapat meningkatkan retensi talenta muda, yang saat ini cenderung bermigrasi ke Batam atau Jakarta.
Dr. Rini Suryantini, pakar Manajemen Sumber Daya Manusia dari Universitas Indonesia, menegaskan bahwa Bangka Belitung sebaiknya mengimplementasikan model hybrid seperti yang diterapkan di L'Oréal, di mana 70 persen pelatihan dilakukan secara digital dan dikombinasikan dengan pendampingan (mentorship) lokal, sehingga retensi SDM dapat meningkat hingga 40 persen apabila budaya perusahaan selaras dengan adat setempat.
Sementara itu, Prof. Armynovich Anthony, Direktur Binus Business School, menyampaikan bahwa adopsi sistem kinerja berbasis Key Performance Indicators (KPI) dari Delta Air Lines terbukti efektif; namun Bangka Belitung perlu menambahkan modul tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) berbasis pertambangan timah berkelanjutan agar sumber daya manusia tidak hanya kompetitif tetapi juga memiliki kebanggaan terhadap identitasnya.
Menurut pandangan pribadi saya, Bangka Belitung memiliki potensi untuk menjadi "Silicon Valley Timah" apabila pemerintah provinsi bersinergi dengan sektor swasta melalui program "Babel Talenta Lokal".
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah merancang kurikulum sekolah yang menggabungkan 50 persen materi global, seperti keterampilan digital dan 50 persen materi lokal, seperti pengelolaan timah yang ramah lingkungan.
Ini bukan sekadar proses adopsi, melainkan sebuah inovasi, sebab mengabaikan lokalitas akan menyebabkan sumber daya manusia meninggalkan daerah, sementara mengabaikan aspek global membuat Bangka Belitung tertinggal.
Oleh karena itu, alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2026 untuk pilot project di Belitung Timur menjadi sangat strategis.
Pemerintah daerah, perusahaan tambang dan Universitas diharapkan segera membangun sinergi untuk memastikan masa depan Bangka Belitung berada di tangan sumber daya manusia yang siap bersaing di tingkat global tanpa kehilangan akar budayanya. (*/E0)