TRIBUNNEWS.COM - Bulan Syawal merupakan bulan setelah bulan Ramadan dalam penanggalan kalender hijriah.
Pada awal bulan Syawal, Muslim menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan melaksanakan sholat Ied.
Selain itu, bulan Syawal dapat diisi dengan doa-doa baik dan berbagai amalan sunah untuk menyempurnakan ibadahnya di bulan Ramadan.
Dari Abu Ayyub al-Ansari, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)
Dikutip dari publikasi Direktorat P2DK Kemendesa dan PDT, berikut doa bulan hijriah yang dapat dibaca pada bulan Syawal.
Allāhu akbar, allāhumma ahillahu ‘alainā bil-amni wal-īmān, was-salāmati wal-islām, wat-taufīqi limā tuḥibbu wa tarḍā, rabbunā wa rabbukallāh.
Artinya: "Allah Maha Besar. Ya Allah, tampakkanlah bulan ini kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, serta berikanlah taufik agar kami dapat menjalankan apa yang Engkau cintai dan ridhai. Tuhan kami dan Tuhanmu adalah Allah."
Baca juga: Doa Puasa Syawal, Amalan Sunnah Muakkad yang Dicontohkan Rasulullah
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menjelaskan beberapa amalan sunah yang dapat dikerjakan pada bulan Syawal.
Muslim dianjurkan untuk berpuasa sunah selama enam hari di bulan Syawal.
Anjuran ini berdasarkan sunah Rasulullah SAW yang disebutkan dalam hadis berikut:
“Siapa saja yang berpuasa Ramadan kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.” (HR Muslim)
Selain itikaf di bulan Ramadan, Muslim dianjurkan untuk beritikaf di bulan Syawal.
Itikaf yaitu berdiam diri di masjid pada waktu tertentu untuk melaksanakan ibadah.
Itikaf dapat dilaksanakan dalam beberapa waktu tertentu, misal dalam waktu 1 jam, 2 jam, 3 jam dan seterusnya, dan boleh juga dilaksanakan dalam waktu sehari semalam (24 jam).
Anjuran itikaf di bulan Syawal disebutkan dalam hadis sebagai berikut:
“Kemudian Nabi tidak beri’tikaf pada bulan Ramadan tersebut dan beri’tikaf sepuluh hari di bulan Syawal.” (HR Bukhari)
Pada bulan Syawal, Muslim dapat melaksanakan puasa Ayyamul Bidh, yaitu puasa sunah pada tanggal 13, 14, 15 bulan hijriah.
“Dari Abu Dzar berkata, Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Wahai Abu Dzar, jika kamu ingin berpuasa tiga hari pada tiap bulan, maka berpuasalah pada tanggal ke tiga belas, empat belas dan lima belas.” (HR Tirmidzi no 761)
Puasa Ayyamul Bidh di bulan Syawal dilaksanakan pada 13 Syawal 1447 (Kamis, 2 April 2026), 14 Syawal 1447 H (Jumat, 3 April 2026), dan 15 Syawal 1447 H (Sabtu, 4 April 2026), menurut Kalender Hijriah Kementerian Agama.
Puasa sunah lainnya yang dapat dikerjakan pada bulan Syawal yaitu puasa Daud, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Daud AS.
Bahwasanya Abdullah bin Amr bin Ash ra. (diriwayatkan) dikabarkan kepadanya sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda padanya, shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Nabi Daud dan puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud, ia tidur separuh malam kemudian shalat di sepertiganya dan tidur lagi di seperenamnya, ia puasa sehari serta berbuka sehari. (HR. al-Bukhari No. 1131).
Puasa Senin Kamis merupakan puasa sunah yang dapat dikerjakan pada bulan apa pun, termasuk bulan Syawal.
Pelaksanaan puasa sunah ini pada hari Senin dan Kamis, sebagaimana dijelaskan dalam hadis.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Amal-amal perbuatan itu diperiksa pada hari Senin dan Kamis, oleh karena itu aku ingin amal perbuatanku diperiksa pada saat aku sedang puasa.” (HR Tirmidzi).
Para ulama menjelaskan bahwa niat puasa Senin Kamis yang digabungkan dengan puasa Syawal hukumnya adalah boleh dilakukan.
Kementerian Agama wilayah Jawa Barat menyebutkan hikmah bulan Syawal bagi Muslim yang mengisinya dengan beribadah.
Bulan Syawal menjadi fase penting untuk menguji sejauh mana kualitas ibadah seseorang setelah menjalani Ramadan.
Jika selama Ramadan seseorang rajin shalat, membaca Al-Qur’an, dan menahan diri dari hal-hal yang dilarang, maka di bulan Syawal ia dituntut untuk mempertahankan kebiasaan tersebut karena istiqamah atau konsistensi inilah yang menjadi ciri orang beriman.
Syawal mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya musiman, tetapi harus terus berlanjut sepanjang hidup.
Tidak ada ibadah manusia yang sempurna, termasuk puasa Ramadan.
Selalu ada kekurangan, baik dalam menjaga lisan, pandangan, maupun niat.
Oleh karena itu, amalan di bulan Syawal seperti puasa enam hari berfungsi sebagai penyempurna.
Konsep ini mirip dengan shalat sunnah yang menutupi kekurangan shalat wajib.
Para ulama menjelaskan bahwa salah satu tanda diterimanya amal adalah adanya kelanjutan dalam bentuk kebaikan berikutnya.
Jika setelah Ramadan seseorang masih semangat beribadah di bulan Syawal, itu bisa menjadi indikasi bahwa amalnya diterima oleh Allah.
Sebaliknya, jika setelah Ramadan seseorang justru kembali pada kebiasaan buruk, maka hal itu patut menjadi bahan introspeksi.
Syawal menjadi cermin untuk menilai kualitas spiritual seseorang.
Puasa di bulan Syawal, baik puasa enam hari, Senin-Kamis, maupun Ayyamul Bidh, melatih kesabaran dan kedisiplinan.
Setelah sebulan penuh berpuasa, seseorang sebenarnya sudah memiliki “modal” kebiasaan baik.
Syawal menjadi waktu untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kemampuan mengendalikan diri.
Disiplin dalam ibadah ini juga akan berdampak pada kehidupan sehari-hari, seperti lebih sabar, lebih tertib, dan lebih teratur.
Hari Raya Idulfitri sering disebut sebagai hari kemenangan, yaitu kemenangan setelah berhasil menjalankan ibadah Ramadan.
Namun, kemenangan sejati tidak hanya dirayakan dengan makan dan berkumpul, tetapi juga dengan meningkatkan ibadah sebagai bentuk syukur.
Di bulan Syawal, seorang Muslim menunjukkan rasa syukurnya dengan tetap taat kepada Allah, bukan kembali kepada kebiasaan buruk.
Ramadan sering disebut sebagai “madrasah” atau tempat pendidikan spiritual.
Setelah lulus dari madrasah tersebut, Syawal menjadi langkah awal untuk menerapkan ilmu yang telah dipelajari.
Jika seseorang mampu menjaga semangat ibadah di bulan Syawal, maka peluang untuk konsisten di bulan-bulan berikutnya akan lebih besar.
Dengan kata lain, Syawal adalah titik awal perjalanan panjang menuju ketakwaan sepanjang tahun.
Salah satu tradisi yang identik dengan bulan Syawal adalah halal bihalal, yaitu saling bermaafan dan mempererat hubungan antar sesama.
Dalam Islam, menjaga silaturahmi memiliki banyak keutamaan, seperti memperpanjang umur dan melapangkan rezeki.
Syawal menjadi momen yang tepat untuk memperbaiki hubungan yang sempat renggang, menghapus kesalahpahaman, dan membangun kembali kebersamaan dalam keluarga maupun masyarakat.
Setelah menjalani Ramadan, seorang Muslim diharapkan kembali kepada fitrah, yaitu keadaan suci dari dosa.
Namun, mempertahankan kesucian tersebut bukanlah hal yang mudah.
Bulan Syawal menjadi ajang pembuktian apakah seseorang benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik dengan terus melakukan kebaikan, menjaga ibadah, dan menjauhi maksiat.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)