Ternyata Ini Cara Pengelola Bus Lawas di Palembang Tetap Dapat Cuan, Orangnya Sepi Barang Ramai
Refly Permana March 31, 2026 06:27 PM

 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sepintas, bus-bus lawas di Kota Palembang terlihat sepi penumpang.

Bahkan, di momen-momen yang seharusnya ramai penumpang, juga tidak terjadi pada mereka.

Namun, mereka tetap bertahan dari tahun ke tahun meski kendaraan pribadi semakin menjamur.

Pastinya, jika tidak mendapat uang, secara logika usaha ini lambat laun bakal habis.

Ternyata, pengelola-pengelola bus-bus lawas yang kerap mangkal di kawasan Jalan Pangeran Ratu punya cara lain mendatangkan cuan.

Baca juga: Diduga Tak Kuat Menanjak, Micro Bus Angkut 28 Penumpang Terguling di Jalur Danau Ranau OKU Selatan

Informasi yang dihimpun Sripoku.com pada Selasa (31/3/2026), mereka mayoritas memang sudah jarang mengantar penumpang.

Namun, cara cuan datang adalah melalui jasa pengangkutan barang.

Salah satu sopir bus, Wahyu (55), mengungkapkan jika ia  beralih menerima barang seusai sepinya penumpang yang hendak ke daerah seperti Jejawi, Banyuasin, Jalur, pedamaran, dan Indralaya.

“Bus kita kalah saing dengan Damri dan travel mobil pribadi dek, walaupun harga kita murah masih juga sepi, kalau penumpang naik mobil ini berarti ada barangnya,” ujar Wahyu sambil mengangkat barang pesanannya ke bus.

Wahyu juga mengungkapkan jika penumpang yang memilih naik mobil bus artinya sudah tidak ada mobil lagi untuk keberangkatannya ke tempat yang dituju.

“Kadang 1 pekan itu cuman dapat 10 penumpang, makan apo anak bini kito di rumah, duet 10 penumpang itu abis oleh minyak sama makan dan keperluan kita saja belum untuk wong rumah,” ujarnya sambil mengelap keringatnya yang bercucuran keluar di tengah terik matahari.

Namun, semenjak ia mulai menerima barang untuk diangkut dari kota menuju daerah seperti Jejawi dan Pedamaran, pendapatannya mulai meningkat.

Baca juga: Balik Mudik Gratis dari Palembang ke Jakarta Dilepas, 5 Bus Angkut Pemudik Pasca Lebaran

Satu hari, ia bisa menerima 300 – 500 angkutan.

Menurutnya, barang yang diantar bertarif tergantung dari besar dan jauhnya lokasi.

Tarifnya mulai dari Rp  20 ribu, sudah termasuk seperti makanan ringan dan lain lain atau kesepakatan antara sopir bus  dan pemilik barang.

“Inikan pasar besar, jadi kadang yang berjualan yang dari Jejawi dan Pedamaran ngambil barang dari sini untuk dijual kembali di pasar,” ujarnya.

Terlihat dalam pantauan Sripoku.com, di lapangan tidak hanya makanan ringan, namun perabotan rumah seperti kasur, kursi, meja juga turut diangkut ke dalam bus.

"Udah biasa kalau barang barang seperti ini banyak yang sudah kita angkut selama kurang lebih 6 tahun,” ujarnya.

Menurutnya, untuk pengambilan barang, para pembeli sudah menandai barangnya sehingga mudah untuk dicari dan diambil.

“Nanti yang kita taruh di atas itu ngambilnya di terminal tempat kita biasa meletakkan barang, nah untuk yang di dalam biasanya searah dengan jalan kita jadi pembeli nanti kita hubungi kalau sudah deket rumah untuk mengambil barangnya,” ujarnya.

Menurutnya ini juga menjadi sebuah berkah ketika membuka peluang untuk bisa bangkit dari mobil yang telah lama ditelan zaman dan banyak ditinggalkan oleh masnyarakat.

“Kalau paginya kita mau ke Palembang kadang sudah ada yang ikut sama kita untuk jualan di pasar Induk yang menjual hasil panennya, alhamdulilah rezeki dek bersyukur,” tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.