SERAMBINEWS.COM, TEL AVIV — Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa negaranya akan tetap melanjutkan operasi militer di Lebanon, terlepas dari kesepakatan apa pun yang mungkin tercapai antara Amerika Serikat dan Iran.
Laporan harian Israel Hayom menyebutkan, pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu dalam pembicaraan tertutup dengan para pejabat senior pemerintahan Presiden AS, Donald Trump.
Dalam pertemuan itu, Netanyahu menekankan bahwa kesepakatan antara Washington dan Teheran tidak akan memengaruhi kebijakan militer Israel di Lebanon.
“Ia menegaskan bahwa Israel akan terus memanfaatkan setiap peluang untuk melemahkan Hezbollah, bahkan jika kesepakatan tercapai antara AS dan Iran,” demikian kutipan laporan tersebut.
Selain itu, Netanyahu juga dilaporkan menolak usulan dari Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang menawarkan penghentian konflik dengan imbalan komitmen Prancis dalam membantu penyelesaian situasi di kawasan tersebut.
Menurut sumber pejabat senior Israel yang dikutip media tersebut, pemerintah AS disebut telah memahami posisi Israel.
Bahkan, pejabat itu menyatakan bahwa Lebanon bukan prioritas utama bagi Presiden Trump.
Di lapangan, Israel terus melancarkan serangan udara dan operasi darat di wilayah Lebanon.
Otoritas Lebanon melaporkan sedikitnya 1.247 orang tewas dan 3.690 lainnya terluka akibat serangan tersebut.
Eskalasi konflik ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, termasuk serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang sejak 28 Februari.
Iran kemudian membalas melalui serangan drone dan rudal yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah, terutama jika ketegangan antara pihak-pihak terkait terus meningkat.
Baca juga: Kapten Zulmi Aditya, Sertu Muhammad Nur, dan Praka Farizal Gugur di Lebanon
Serangan Israel ke Lebanon baru-baru ini juga berdampak pada pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL).
Media pemerintah NNA melaporkan, sebuah proyektil menghantam batalion Indonesia yang bertugas di UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr.
Akibatnya, tiga tentara Indonesia dikonfirmasi gugur. Kota Adchit al Qusayr terletak di dekat perbatasan selatan Lebanon dengan Israel, tempat pasukan Israel telah bertempur melawan Hizbullah selama hampir sebulan.
Perang di Timur Tengah menyebar ke Lebanon pada awal Maret setelah Hizbullah yang didukung Iran menembakkan roket ke Israel.
Serangan mereka terjadi setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada hari pertama serangan gabungan AS-Israel.
Israel telah membalas dengan serangan udara skala besar di Lebanon dan pasukan Israel kini maju ke sejumlah kota di Lebanon selatan.
Para pejabat Israel mengatakan, mereka bermaksud untuk mendirikan zona keamanan yang membentang sejauh 30 kilometer dari perbatasan Israel untuk melindungi warga yang tinggal di Israel utara.
Sementara, UNIFIL melaporkan, posisi mereka telah dihantam lebih dari sekali sejak dimulainya pertempuran terbaru.