Laporan Wartawan TribunBanten.com, Muhamad Rifky Juliana
TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Wali Kota Serang, Budi Rustandi menyatakan kekecewaannya terhadap oknum-oknum yang menghambat masuknya investasi di Kota Serang.
Hal tersebut disampaikan saat ia kedatangan pemuda asal Kecamatan Kasemen,Kota Serang, Banten, Caderra Pasqy Naiga Prasasty ke Puspemkot Serang yang menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja.
Caderra nekat kabur bersama 22 WNI lainnya dari perusahaan yang berada di Prey Veng.
Mereka berjalan kaki sejauh 125 kilometer menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh untuk mencari perlindungan.
Baca juga: Cerita Pemuda Asal Serang Banten Jadi Korban Sindikat TPPO di Kamboja
Budi menceritakan bahwa korban dipaksa untuk mencari konsumen sebagai sasaran ditipu.
"Jadi mereka itu dikumpul di satu gedung, disiksa suruh mencari konsumen untuk ditipu, untuk menipu lewat media (scam)," ujarnya.
Ia menegaskan permasalahan ini muncul karena kurangnya lapangan pekerjaan di kota.
Budi menyayangkan adanya pihak-pihak yang justru mengganggu investasi, padahal investasi sangat dibutuhkan untuk menyerap tenaga kerja lokal.
"Ini dampak dari pengangguran Kota Serang tinggi, makanya kenapa saya sibuk mencari investasi, agar anak-anak kita bisa bekerja dengan layak dan baik di Kota Serang," jelasnya.
"Mudah-mudahan para oknum oknum-oknum yang mengganggu investasi bisa terbuka pikirannya. Ini siapa yang pikirin kalau bukan pemerintah, jangan berpikir untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya," tegas Budi.
Padahal, Pemkot Serang berkomitmen mendorong pembangunan kawasan industri besar untuk menampung tenaga kerja lokal.
Ia berharap masyarakat dapat mendukung upaya pemerintah dalam menciptakan pekerjaan yang layak sehingga kasus TPPO tidak terulang.
"Jadi, saya harap kepada seluruh masyarakat bantu doa, dukungan, terhadap investasi. Dan saya pastikan, yang investasi di sawah luhur ini bukan PIK 2, jadi jangan digoreng-goreng lagi," kata Budi.
"Kita pikirin nih masa depan anak cucu kita, mereka harus bekerja keluar negeri sampai ditipu kayak gini, saya sedikit agak emosi," ungkapnya.
Usai pertemuan itu, Budi menyoroti kesulitan warga dalam mencari pekerjaan dan memenuhi kebutuhan dasar.
Ia mencontohkan keluhan seorang ibu korban TPPO yang mengaku susah menafkahi keluarga karena biaya kerja yang tinggi.
"Ini adalah upaya saya, kenapa saya selalu sibuk mendorong investasi, dan keluhan dari maminya ini bahwa kerja susah, semua harus bayar, sedangkan saya beli beras saja susah," ucap Budi.
"Makanya saya ingin membangun kawasan industri besar di Kota Serang, agar bisa menampung anak-anak kita ini," pungkasnya.