Terdampak Bencana Longsor, Warga Desa Kiuola Keluhkan Kesulitan Bangun Rumah dengan Biaya Sendiri 
Oby Lewanmeru March 31, 2026 11:19 PM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon 

POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Warga Desa Kiuola, Fransiskus Satban mengeluhkan kesulitan menggunakan biaya sendiri membangun kembali rumahnya pasca mengambil keputusan evakuasi mandiri tahun 2025 lalu.

Rumah milik Fransiskus sebelumnya yang berlokasi di RT/RW, 002/002, Desa Kiuola, Kecamatan Noemuti Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT terdampak bencana longsor pada tahun 2025.

"Karena kena bencana makanya saya pindah. Susah di atas susah, tetapi saya terpaksa buat satu pondok di seberang kali," ujarnya, Selasa, 31 Maret 2026.

Di lokasi yang baru tersebut, Fransiskus sedang membangun pondasi rumah. Ia rela mengeluarkan biaya pribadi di tengah tekanan ekonomi demi memastikan keluarganya bisa memperoleh rumah yang layak.

Baca juga: Cahaya di Ujung Penantian 81 Tahun: Kado Paskah Terindah untuk Warga Tainmetan -TTU

Fransiskus berprofesi sebagai seorang tukang bangunan. Kendati demikian, pendapatan seorang tukang bangunan di wilayah desa tidak seperti yang diharapkan. Fransiskus mengaku saat ini telah mengevakuasi semua perabot rumah tangga di rumah milik keluarga di RT 011, RW 005, Desa Kiuola.

Fransiskus Satban menyebut ia dan keluarganya memutuskan untuk melakukan evakuasi mandiri usai rumah mereka rusak dilanda bencana longsor.

Ia menjelaskan, sebelumnya beberapa fasilitas seperti WC, kandang ternak dan dapur telah jatuh ke bantaran kali usai banjir mengikis bantaran kali.

Keputusan tersebut dilaksanakan usai mereka dihantui rasa cemas lantaran pergeseran posisi rumah sebelumnya sangat terasa ketika mereka tidur di malam hari.

Selain itu, lantai rumah lama miliknya telah retak tak terkendali. Sementara dapur rumah miliknya sudah ambruk ke dalam kali.

Sebelumnya, lantai tanah dapur tersebut hanya mengalami rekahan kecil. Untuk mengantisipasi insiden tersebut, beberapa waktu lalu, Fransiskus dan keluarganya telah melakukan pembongkaran bangunan dapur.

"Waktu itu, lantai di rumah besar sudah mulai pecah-pecah terbelah," ungkapnya.

Fransiskus menyebut, sudah beberapa kali BPBD TTU dan dinas terkait telah melakukan survei di lokasi bencana. Namun, survei tersebut tak pernah ditindaklanjuti. 

Sementara beberapa korban bencana lain yang terdampak bencana mendapat bantuan rumah dari pemerintah. Survei dilakukan sebanyak 3 kali.

"Tapi sampai hari ini tidak terjawab," ujarnya.

Ia mengaku kesulitan membangun kembali rumah tersebut. Meskipun sudah membangun pondasi tetapi, Fransiskus kesulitan melanjutkan pembangunan rumah itu.

Biaya pembangunan pondasi rumah itu bersumber dari tabungan Fransiskus selama menjadi tukang bangunan di desa itu.

Saat ini, semua tabungan sudah terkuras habis dan Fransiskus tidak bisa melanjutkan pembangunan.

Dia berharap, pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi dan pemerintah pusat bisa membantu menuntaskan rumah miliknya. (bbr)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.