TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan memperkuat diplomasi hijau dengan Pemerintah Jepang guna meningkatkan standar pengelolaan kawasan konservasi menuju level internasional.
Dalam pertemuan bilateral di Tokyo, dibahas sejumlah agenda strategis mulai dari penguatan kerja sama perlindungan satwa yang telah resmi disepakati, hingga usulan pengembangan kawasan taman nasional melalui skema Sister Park serta pembukaan peluang investasi karbon bagi sektor swasta.
Langkah konkret yang telah berkekuatan hukum dalam kemitraan ini adalah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Indonesia dengan Prefektur Shizuoka, Jepang.
Fokus utama kesepakatan ini adalah perlindungan dan konservasi satwa liar, khususnya program breeding loan komodo. Program peminjaman untuk pengembangbiakan satwa ikonik Indonesia ini menjadi bagian dari upaya pelestarian spesies secara berkelanjutan di kancah global.
Selain penguatan konservasi satwa, pihak Indonesia secara resmi mengusulkan pengembangan kerja sama Sister Park antara Fuji-Hakone-Izu National Park di Jepang dengan sejumlah taman nasional di tanah air.
Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, menegaskan bahwa kolaborasi strategis ini dirancang sebagai wadah transformasi manajemen kawasan lindung.
“Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan tata kelola menuju pengembangan taman nasional berkelas dunia,” ujar Raja Antoni dalam keterangannya di Tokyo.
Target utamanya adalah mendorong transformasi taman nasional di Indonesia agar memiliki sistem pengelolaan yang sejajar dengan standar internasional (World Class National Park).
Sejalan dengan visi penguatan fungsi hutan, sektor swasta Jepang juga diundang untuk berpartisipasi dalam investasi karbon di Indonesia.
Peluang ini mencakup kegiatan aforestasi dan reforestasi, termasuk di dalam kawasan taman nasional. Langkah ini didukung oleh kepastian regulasi melalui Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK), yang memungkinkan implementasi Voluntary Carbon Market secara lebih terstruktur dan kredibel.
Menteri Lingkungan Hidup Jepang, Ishihara Hirotaka, memberikan apresiasi atas langkah proaktif Indonesia dalam tata kelola kehutanan dan konservasi.
Jepang juga mengundang Indonesia untuk bergabung dalam Asia Protected Areas Partnership, sebuah jejaring kawasan lindung yang saat ini telah melibatkan 17 negara di Asia. Partisipasi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan kolaborasi dalam menjaga ekosistem penting di kawasan regional.
Kunjungan delegasi Indonesia ke Fuji-Hakone-Izu National Park menjadi bagian penting dari rangkaian diplomasi ini untuk mempelajari praktik terbaik pengelolaan taman nasional yang terintegrasi.
Baca juga: Jepang Siap Pasok Teknologi Nuklir Hingga AI untuk Indonesia
Pertemuan bilateral ini menegaskan komitmen kedua negara dalam mencari solusi inovatif berbasis alam guna menghadapi tantangan perubahan iklim global, sekaligus mempererat hubungan kemitraan strategis yang telah terjalin lama.