Perkebunan Lokal Utara Kebumen Jadi Potensi Ekonomi Warga, Teguh Angkat Tradisi Kopi Gemplong
muslimah April 01, 2026 05:55 AM

TRIBUNJATENG.COM, KEBUMEN - Selain keindahan alamnya, wilayah utara Kabupaten Kebumen tepatnya di Desa Giritirto Kecamatan Karanggayam juga terdapat potensi lokal berupa kopi.

Di wilayah tersebut, meminum secangkir kopi sudah menjadi kebiasaan. Biji kopi yang telah dipanen kemudian disangrai dan ditumbuk dengan alu dari kayu di lumpang atau wadah dari batu.

Biji kopi yang telah halus kemudian diseduh dengan air panas dan disuguhkan dalam wadah cangkir.

Selain sebagai suguhan tamu yang berkunjung ke rumah, kopi tumbuk juga kerap disuguhkan saat kegiatan sosial masyarakat.

Mantan kepala desa, Teguh Prasetyo berupaya untuk merawat kebiasaan serta potensi lokal itu dengan membuat Kopi Gemplong pada 2016 lalu. Bahannya berupa kopi robusta berasal dari petani lokal.

Baca juga: Baturraden Bertahan di Tengah Gempuran Wisata Baru Saat Libur Lebaran


"Gemplong itu artinya tumbuk," kata Teguh kepada Tribun Jateng, Selasa (31/3).


Selain sebagai suguhan kepada tamu di rumah dan kegiatan sosial, terangnya, bagi orang dulu kopi juga dihadirkan atau diberikan kepada orang yang telah meninggal atau dikenal dengan istilah suguh luhur.

Dia menceritakan, tanaman kopi dengan Desa Giritirto sudah ada sejak dulu. Dari hasil kumpul pegiat budaya di kedai kopi miliknya diketahui bahwa dulu wilayah utara memang wilayah perkebunan kopi dan cengkeh.

"Di peta Belanda, wilayah utara dari dulu sudah menjadi kebun kopi dan cengkeh," terangnya.

Pengembangan Kopi Gemplong in bermula dari aktivitas Komunitas Subileng, perkumpulan orang-orang yang memiliki kepedulian dan melestarikan Budaya Jawa, di antaranya gendingan dan adat-istiadat setempat. Dari kumpul-kumpul komunitas ini, tercetus pemikiran untuk bisa lebih mengangkat kebiasaan mengonsumsi kopi sebagai hasil bumi wilayah  setempat yang diolah dengan cara menumbuk biji kopi untuk jadi bubuk kopi. 

Gayung bersambut, pada 2022,  Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Disperindagkop memberi support berupa alat produksi kopi.

“Setelah di-support oleh provinsi, Kopi Gemplong ada perubahan pengolahan khususnya pada proses sangrai. Untuk menyamakan rasa, sekarang sudah mengikuti perkembangan, ada yang menggunakan alat atau manual (nggemplong/menumbuk),” lanjut Teguh.

Teguh memaparkan, dirinya ingin adanya penguatan branding Karanggayam sebagai kawasan sentra kopi di perbukitan utara Kebumen atau yang sering disebut Petai Sewu.

Menurutnya, ada ratusan petani kopi di wilayah Desa Giritirto dengan luas lahan tanam sekitar 45 hektare yang berada di lahan milik Perhutani maupun pribadi. Meski diakui, hasil panen petani lokal yang diserap di Kedai Kopi Gemplong masih terbilang sedikit, yakni sekitar 1 kuintal dalam sebulan.

Beberapa petani ada yang menjual ke tengkulak di daerah lain pasca panen. Teguh, hingga kini, hanya memasarkan kopi lokal tersebut di toko oleh-oleh kawasan Kebumen, warga di perantauan serta pameran produk UMKM. Di sisi lain, pemda turut membantu juga dalam pemasaran melalui gerakan Ngelarisi UMKM.

Dengan potensi yang ada, Teguh berharap Kecamatan Karanggayam dapat menjadi kawasan atau sentra penghasil kopi di Kabupaten Kebumen.


Di sisi lain, ia berharapan juga ada gudang yang nantinya dapat menampung panen petani kopi lokal, baik itu melalui koperasi desa atau lainnya. (ais)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.