Situasi keamanan di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, mengalami eskalasi serius setelah rangkaian insiden kekerasan yang melibatkan aparat keamanan dan warga sipil dalam dua hari terakhir.
Ketegangan yang terus meningkat menyebabkan aktivitas masyarakat di pusat kota lumpuh total setelah aksi pembacokan anggota polisi memicu bentrokan susulan yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.
Melansir informasi yang dihimpun Tribun-PapuaTengah.com, peristiwa ini bermula pada Selasa (31/3/2026), sekitar pukul 10.00 WIT.
Seorang anggota Satbinmas Polres Dogiyai berinisial JE menjadi korban penyerangan oleh orang tak dikenal (OTK).
Insiden pembacokan tersebut terjadi di depan Gereja Ebenhaezer, tepatnya di Jalan Trans Papua Km 200, Distrik Kamuu.
Korban yang diketahui berasal dari Kabupaten Deiyai itu sempat dilarikan ke RSUD Dogiyai, namun nyawanya tidak tertolong akibat pendarahan hebat.
Kematian anggota kepolisian tersebut memicu respons cepat dari aparat gabungan TNI-Polri yang langsung melakukan penyisiran di sejumlah titik strategis, termasuk kawasan Pasar Moanemani.
Namun, operasi pengamanan itu justru berujung pada insiden kontak senjata yang menyebabkan jatuhnya korban dari kalangan warga sipil.
Tiga warga dilaporkan menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
Sipi Tibakoto (18) meninggal dunia akibat luka tembak di bagian kepala.
Sementara itu, Yulita Pigai (60) mengalami luka tembak di bagian betis, dan Martinus Yobee (19) tertembak di bagian perut.
Insiden ini memicu kemarahan keluarga korban dan masyarakat setempat hingga situasi semakin tidak terkendali.
Ketegangan semakin meningkat ketika warga tidak menerima jatuhnya korban sipil.
Sejak malam hingga dini hari, suasana di pusat kota Moanemani kembali memanas.
Massa yang marah dilaporkan melakukan aksi pembakaran terhadap sejumlah bangunan pada Rabu Rabu (1/4/2026) dini hari.
Kobaran api terlihat membumbung tinggi di beberapa titik, sementara suara tembakan peringatan terdengar untuk membubarkan kerumunan massa.
Akibat situasi tersebut, aktivitas perekonomian dan perkantoran di Distrik Kamuu terhenti total.
Warga memilih bertahan di dalam rumah demi keselamatan.
Hingga saat ini, pihak Polres Dogiyai dan Polda Papua Tengah belum memberikan keterangan resmi terkait kronologi lengkap maupun jumlah pasti korban sipil.
Aparat gabungan masih bersiaga di sejumlah objek vital guna mengantisipasi meluasnya aksi kekerasan serta mencegah pembakaran fasilitas umum lainnya.