TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Bunyi alat tenun bukan mesin (ATBM) menjadi irama harian di sebuah rumah di kawasan Kampung Tenun, Jalan Pangeran Bendahara RT 02, Kelurahan Tenun, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Bangunan rumah sekaligus outlet penjualan kain tenun tersebut berada tepat di depan cagar budaya rumah panggung ulin yang kini difungsikan sebagai Kantor Kelurahan Tenun.
Di sanalah rekam jejak Hj Fatmawati (58), sosok perempuan tangguh di balik Rumah Sarung Tenun Fatmawati, terus menjaga warisan leluhur yang telah melintasi zaman.
Warisan Turun-Temurun
Bukan sekadar kain, wastra (kain tradisional) hasil karyanya kini telah merambah pasar internasional hingga menjadi koleksi para istri pejabat tinggi negara.
Hj Fatmawati bercerita bahwa bakat menenunnya merupakan warisan turun-temurun dari keluarganya.
Baca juga: Lelah yang Terbayar di Pelabuhan Samarinda, Kisah Penumpang di Balik Arus Balik di KM Prince Soya
Ia lahir di sebuah rumah cagar budaya di Samarinda Seberang pada tahun 1968, di lingkungan keluarga yang telah lama menggeluti dunia tenun.
"Saya lahir di rumah tua itu. Setelah orang tua meninggal tahun 2000, saya mencoba meneruskan usaha ini. Kebetulan saya dulu orang kantoran, punya pengalaman bisnis sedikit, jadi saya bawa semangat itu ke sini," kenangnya saat berbincang dengan Tribun Kaltim, Rabu (1/4/2026).
Koleksi Kalangan VVIP
Produknya masuk kategori premium dan sering menjadi rujukan bagi tamu-tamu VVIP yang berkunjung ke Kalimantan Timur.
Sejumlah nama besar tercatat pernah membeli kainnya, termasuk Iriana Joko Widodo, istri mantan Presiden RI ke-7.
Selain itu, karya Fatmawati juga diminati oleh istri mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, istri Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, hingga istri para Kapolda yang pernah bertugas di Kaltim.]
Baca juga: Sosok Haikal Juara Tahfidz Internasional Dapat Penghargaan Rp125 Juta dari Pemkot Balikpapan
“Istri Pak Jusuf Kalla pernah ke sini, begitu juga istri Pak Tito Karnavian dan sejumlah pejabat lainnya. Bahkan saya pernah menenun langsung di hadapan Presiden saat pembukaan pameran nasional UMKM,” terangnya.
"Kalau pameran, kadang ibu-ibu menteri sudah menyerbu duluan sebelum Ibu Presiden melihat. Sampai dua koper habis, kami sempat dimarahi panitia, disuruh simpan dulu," tambahnya sambil tersenyum.
Selain itu, istri pejabat daerah seperti gubernur, bupati, hingga wali kota di Kaltim juga menjadi pelanggan tetap.
Menembus Pasar Yordania dan Brunei Darussalam
Tak hanya berjaya di dalam negeri melalui pameran di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, karya Fatmawati juga telah dikenal di mancanegara.
Pameran internasional membawa nama Samarinda hingga ke Yordania dengan dukungan pemerintah.
Baca juga: Kisah Haru Pelaut PELNI, Mualim KM Dorolonda 4 Tahun Lebaran di Kapal Tanpa Keluarga
Sementara itu, wisatawan dari Brunei Darussalam dan Malaysia menjadi pelanggan setia yang rutin berkunjung setiap musim liburan.
“Sudah sampai Yordania saat pameran di sana. Kalau pembeli luar negeri, banyak dari Brunei dan Malaysia,” ungkapnya.
Inovasi Produk dan Ramah Lingkungan
Selain wastra, Hj Fatmawati juga mengembangkan berbagai produk turunan seperti sarung, pakaian, peci, hingga tas untuk memperluas pasar.
Rumah Tenun Fatmawati menawarkan motif otentik seperti Balo Hatta dan Palangata yang dikombinasikan dengan Pucuk Rebung.
Bahan yang digunakan pun berasal dari pewarna alami, termasuk serat kayu ulin dan indigo yang ramah lingkungan.
Baca juga: Kisah Warga Samarinda Sa’aliyah Jual Cangkang Ketupat Demi Mengais Rezeki di Hari Idul Fitri
Kain tenun ini bahkan diklaim mampu bertahan hingga ratusan tahun karena menggunakan bahan alami berkualitas tinggi.
"Bahan ini lebih mahal karena tidak menimbulkan polusi dan lebih eksklusif," jelasnya.
Regenerasi Pengrajin Tenun
Sebagai mitra binaan Bank Indonesia (BI) Kaltim, Hj Fatmawati juga aktif membina generasi muda agar tertarik menjadi pengrajin tenun.
Menurutnya, menjadi penenun tidak hanya membutuhkan keterampilan tangan, tetapi juga kemampuan komunikasi untuk menjual nilai seni di balik produk.
"Setiap kelompok kami sudah punya cadangan generasi penerus. Memang tidak mudah, harus kenal dulu baru belajar. Saya saja butuh tiga bulan untuk bisa lancar," terangnya.
Baca juga: WFH ASN Masih Dikaji, Pegawai Pemkot Samarinda Berikan Tanggapannya
Harga dan Nilai Seni
Bagi masyarakat yang ingin memiliki wastra premium ini, Rumah Sarung Tenun Fatmawati menyediakan berbagai pilihan dengan harga bervariasi.
Harga kain tenun dimulai dari Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta per lembar, tergantung kerumitan motif dan bahan pewarna.
Bahkan, untuk produk premium, harga dapat mencapai di atas Rp5 juta per lembar.
“Soal harga Rp500 ribu hingga di atas Rp1 juta tergantung permintaan konsumen. Kami juga menyediakan motif khas lain seperti Dayak dan sarung Samarinda kotak-kotak,” pungkasnya. (*)