WARTAKOTALIVECOM — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah sebuah serangan udara menghantam bangunan di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, pada Selasa (31/3).
Peristiwa ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Israel dan kelompok bersenjata Hezbollah.
Rekaman yang beredar luas di media sosial memperlihatkan detik-detik mencekam saat sebuah proyektil meluncur menuju bangunan di kawasan Al-Ghobeiry, wilayah padat penduduk di selatan Beirut.
Dalam tayangan tersebut, proyektil sempat tampak tidak stabil sebelum akhirnya menghantam target dan memicu ledakan besar.
Dentuman keras disertai kobaran api dan kepulan asap tebal membumbung tinggi, menandai kehancuran bangunan yang menjadi sasaran.
Serangan ini dilaporkan terjadi tak lama setelah pihak militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga sipil.
Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, sebelumnya menyampaikan imbauan khusus bagi warga di kawasan Al-Ghobeiry untuk segera meninggalkan lokasi.
Peringatan tersebut disertai peta yang secara spesifik menandai bangunan target dengan warna merah.
Dalam pernyataannya, Adraee mendesak warga untuk menjauh setidaknya 300 meter dari lokasi yang disebut berada di dekat fasilitas milik Hezbollah.
Langkah ini, menurut pihak Israel, dilakukan untuk meminimalkan korban sipil di tengah operasi militer yang menyasar infrastruktur yang diduga terkait dengan kelompok tersebut.
Namun demikian, serangan yang tetap terjadi di kawasan permukiman padat memicu kekhawatiran baru terkait keselamatan warga sipil.
Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa maupun luka-luka akibat insiden tersebut, sementara tim penyelamat dilaporkan masih melakukan upaya pencarian di lokasi terdampak.
Peristiwa ini menambah panjang daftar serangan lintas batas yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, mempertegas situasi keamanan yang semakin rapuh di kawasan tersebut.
Beirut, yang selama ini menjadi pusat kehidupan politik dan ekonomi Lebanon, kembali merasakan dampak langsung dari konflik regional yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Di tengah meningkatnya eskalasi, seruan dari berbagai pihak internasional untuk menahan diri dan menghindari korban sipil kembali mengemuka.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa warga sipil masih menjadi pihak paling rentan dalam pusaran konflik yang terus berlangsung.