POSBELITUNG.CO - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara sepihak mengklaim bahwa Iran telah mengajukan permohonan gencatan senjata hanya beberapa hari sebelum tenggat waktu ultimatum militer berakhir.
Ultimatum yang awalnya ditetapkan pada Februari kini diundur menjadi 6 April 2026, dengan alasan memberikan ruang bagi proses negosiasi nuklir yang disebut Trump tengah berjalan.
Namun, klaim Washington ini dibantah keras oleh petinggi Garda Revolusi Iran (IRGC) yang menegaskan tidak ada komunikasi maupun kesepakatan apa pun dengan pihak Gedung Putih.
Ketegangan ini mencapai puncaknya setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran, jalur logistik energi paling vital di dunia, sebagai respons atas serangan AS-Israel pada akhir Februari lalu.
Di tengah ancaman "tembak" dari Trump, pakar sejarah internasional justru memprediksi bahwa Amerika Serikat berada di ambang kekalahan besar yang akan mengubah tatanan dunia.
Melalui unggahan di media sosial, Donald Trump memberikan pujian sarkastik kepada kepemimpinan baru Teheran sambil tetap melayangkan ancaman militer terbuka.
Trump mengatakan, “Presiden rezim baru Iran jauh tidak begitu radikal dan jauh lebih cerdas daripada para pendahulunya.”
Meskipun menyebut adanya sinyal perdamaian, Trump menegaskan bahwa gencatan senjata hanya akan dipertimbangkan jika blokade jalur laut internasional dibuka kembali.
Trump mengklarifikasi kalau gencatan senjata hanya akan dipertimbangkan ketika Selat Hormuz “terbuka, bebas, dan jelas”.
"Sampai saat itu, AS akan terus “menembak”," katanya tegas mengenai kelanjutan operasi militer Amerika di kawasan tersebut.
Profesor Xueqin Jiang, lulusan Yale College yang dikenal sebagai pengamat geopolitik akurat, memprediksi hasil akhir perang ini akan berujung buruk bagi Washington.
Jiang, melalui kanal Predictive History, sebelumnya telah terbukti akurat memprediksi kembalinya Trump ke kursi presiden dan terjadinya konfrontasi militer langsung dengan Iran.
Berikut adalah poin utama analisis Jiang mengenai potensi kekalahan Amerika:
Profesor Jiang mendasarkan ramalan geopolitiknya pada pola sejarah berulang, khususnya membandingkan posisi AS saat ini dengan keruntuhan Athena kuno.
Ia membandingkan skenario Iran saat ini dengan Ekspedisi Sisilia, di mana pasukan Athena yang superior secara jumlah justru mengalami kekalahan telak melawan Sparta.
Faktor geografis Iran yang bergunung-gunung serta perlawanan domestik yang militan diprediksi akan menjadi "perangkap" yang melumpuhkan kekuatan militer Amerika Serikat.
Selain itu, dukungan dari proksi seperti Houthi, Hizbullah, dan Hamas dinilai sangat memahami mentalitas militer Amerika.
Kelompok-kelompok ini diklaim memiliki strategi yang cukup baik "untuk melemahkan dan pada akhirnya menghancurkan kekaisaran Amerika". (Tribunnews/ Pos Belitung)