TRIBUNMANADO.CO.ID - Gempa bumi bermagnitudo 7,6 SR mengguncang wilayah Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut), Kamis (2/4/2026) pagi.
Ratusan pasien di RS Siloam Manado dievakuasi ke area lobi rumah sakit.
Langkah cepat ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi bahaya akibat kerusakan bangunan dan kemungkinan adanya gempa susulan.
Sejumlah pasien, termasuk yang tengah menjalani perawatan intensif, dipindahkan dengan pengawasan ketat tenaga medis.
Area lobi dipilih karena dinilai lebih aman dan terbuka, sehingga memudahkan proses evakuasi serta pemantauan kondisi pasien.
Pihak manajemen RS Siloam Manado memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
“Seluruh pasien, tenaga kesehatan, dan staf selamat. Proses evakuasi berlangsung tertib dan cepat,” ujar Lisa Walando, Head Department Marketing RS Siloam Manado.
Lisa mengatakan, meskipun tidak ada korban, gempa menyebabkan kerusakan pada beberapa bagian gedung rumah sakit.
Tim teknis saat ini tengah melakukan pemeriksaan menyeluruh guna memastikan keamanan struktur bangunan sebelum layanan kembali berjalan normal di ruang perawatan.
“Kami mengutamakan keselamatan pasien dan tenaga medis. Evakuasi dilakukan sesuai prosedur tanggap darurat. Untuk kerusakan masih didata oleh tim teknis kami,” tandas Lisa.
Hingga kini, pelayanan medis tetap berlangsung meski dengan keterbatasan fasilitas.
Pihak rumah sakit juga terus memantau kondisi pasien serta berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan lebih lanjut.
Baca juga: Kisah Pasien Lansia di Manado, Sehari Pascaoperasi Dievakuasi Akibat Gempa Bumi
Gempa bumi mengguncang Kota Manado dan sekitarnya pada Kamis, (2/4/2026) pagi, sekitar pukul 06.48 WITA.
Kepanikan sempat terjadi, termasuk di Rumah Sakit Siloam Manado.
Ratusan pasien terpaksa dievakuasi ke luar gedung untuk mengantisipasi potensi bahaya.
Saat gempa terjadi, suasana di dalam rumah sakit mendadak kacau.
Getaran yang cukup kuat membuat tenaga medis, pasien, dan keluarga pasien panik.
Petugas dengan sigap langsung melakukan evakuasi untuk memastikan keselamatan semua orang di dalam gedung.
Pasien yang dalam kondisi memungkinkan, dipindahkan ke area terbuka di sekitar rumah sakit.
Sementara itu, pasien dengan kondisi kritis tetap mendapatkan penanganan dengan pengawasan ketat dari tenaga medis.
“Begitu terasa guncangan, kami langsung mengikuti prosedur evakuasi. Prioritas utama adalah keselamatan pasien,” ujar salah satu tenaga kesehatan di lokasi.
Sejumlah keluarga pasien terlihat membantu proses evakuasi dengan membawa kursi roda maupun tempat tidur dorong.
Meski situasi sempat menegangkan, proses evakuasi berlangsung relatif tertib.
“Puji Tuhan tidak ada korban jiwa,” ujar Nia, salah satu keluarga pasien. (Fer)