MANADO, TRIBUNMANADO.CO.ID - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 SR mengguncang sejumlah wilayah di Sulawesi Utara (Sulut) Kamis (2/4/2026) pukul 06.48 WITA.
Pusat guncangan berada di Kota Bitung, namun getaran kuat dirasakan hingga Manado, Minahasa Utara (Minut) wilayah Bolaang Mongondow, Bolsel, Boltim, Gorontalo hingga Ternate.
Jarak dari pusat kota Bitung ke pusat Kota Manado (Zero Point) adalah sekitar 51,7 km km yang bisa ditempuh dengan berkendara sekitar 52 menit menggunakan kendaraan bermotor lewat Jalan Tol Manado - Bitung.
Hal tersebut kembali menyoroti pentingnya kelaikan fungsi bangunan publik.
Peristiwa itu tidak hanya menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan, tetapi juga menimbulkan korban jiwa akibat runtuhnya sebagian Gedung KONI Sulawesi Utara.
Selain Gedung KONI, kerusakan juga dilaporkan terjadi pada sejumlah bangunan lain.
Termasuk fasilitas layanan kesehatan milik swasta seperti RS Siloam yang mengalami retak hingga jatuhnya serpihan beton.
Arsitek sekaligus Ahli Penilai Kelaikan Bangunan Gedung, Ar. Stenly Kiraling, S.T., IAI, GP, menilai kejadian ini menjadi indikator penting perlunya evaluasi menyeluruh terhadap bangunan, khususnya bangunan publik.
“Dalam kejadian gempa, keselamatan tidak hanya ditentukan oleh besarnya magnitudo, tetapi juga sejauh mana bangunan mampu melindungi penggunanya,” ujarnya saat dihubungi via whatsapp pada Kamis siang.
Ia menjelaskan, Sulawesi Utara merupakan wilayah rawan gempa karena berada di pertemuan lempeng tektonik Eurasia dan Pasifik, serta dipengaruhi sesar aktif dan aktivitas vulkanik.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut kesiapan bangunan yang lebih tinggi dibanding wilayah dengan risiko gempa rendah.
Dari sisi arsitektur dan tata ruang luar, aspek keselamatan mencakup ketersediaan jalur evakuasi, akses keluar darurat, hingga penataan ruang luar yang aman dari potensi jatuhan material bangunan.
Ia mencontohkan Gedung KONI Sulawesi Utara yang telah digunakan cukup lama dan pernah mengalami renovasi pada 2021 serta kerusakan akibat gempa pada 2023.
“Ini menunjukkan pentingnya evaluasi berkala terhadap bangunan yang sudah mengalami penurunan performa,” katanya.
Terkait struktur bangunan, ia menegaskan perlunya kajian teknis lanjutan oleh tenaga ahli struktur guna memastikan keandalan bangunan secara menyeluruh.
Stenly juga mendorong kolaborasi lintas disiplin dalam penanganan persoalan ini, mulai dari arsitek, ahli struktur, akademisi hingga pemerintah daerah.
“Kolaborasi ini penting agar bangunan publik benar-benar aman digunakan masyarakat,” tambahnya.
Ia juga menyoroti perlunya langkah konkret pemerintah dalam melakukan evaluasi menyeluruh terhadap bangunan publik, khususnya milik pemerintah.
Menurutnya, selama ini audit kelaikan fungsi lebih banyak diterapkan pada bangunan swasta, sementara bangunan pemerintah juga membutuhkan perhatian yang sama.
Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko gempa.
Selain memastikan pembangunan melibatkan tenaga ahli, masyarakat juga diminta segera melakukan pemeriksaan awal kondisi bangunan pascagempa.
Pemeriksaan dapat dilakukan secara visual, seperti melihat adanya retak pada kolom, balok, dinding, maupun lantai, kondisi lantai yang ambles, kerusakan atap, hingga runtuhnya elemen non-struktural seperti plafon.
Jika ditemukan indikasi kerusakan yang membahayakan, masyarakat diminta segera mengevakuasi diri dan menghindari berada di dalam bangunan, terutama saat masih berpotensi terjadi gempa susulan.
“Tindakan cepat dan kehati-hatian sangat penting untuk menghindari risiko yang lebih besar. Jika ragu terhadap kondisi bangunan, sebaiknya segera menjauh,” tegasnya.
Ke depan, ia menekankan pentingnya memastikan setiap bangunan publik memiliki sistem evakuasi yang memadai serta dilakukan evaluasi berkala sesuai kondisi bangunan.
“Gempa memang tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalkan melalui perencanaan dan pengelolaan bangunan yang tepat,” pungkasnya.
Pusat guncangan berada di Kota Bitung, getaran kuat dirasakan hingga Manado, Minahasa Utara (Minut) wilayah Bolaang Mongondow, Bolsel, Boltim, Gorontalo hingga Ternate.
Kepanikan warga pun tak terhindarkan, terutama di kawasan permukiman padat.
Pantauan media sosial warga Sulawesi Utara, di wilayah pesisir, fenomena perubahan muka air laut sempat terjadi.
Di Pulau Bangka tepatnya di Lihunu, Minut air laut dilaporkan naik lalu turun drastis.
Sementara di Lembeh dan pintu masuk Kota Bitung, air laut terinformasi naik dengan cepat hingga mencapai badan jalan.
Masih di Lembeh kota kecil, air laut dikabarkan alami penyusutan secara tak biasa.
Sebaliknya, di Belang, air laut justru surut secara ekstrem.
Kerusakan bangunan dilaporkan terjadi di sejumlah titik.
Dinding RS Siloam Manado mengalami retak akibat guncangan.
Selain itu, plafon Gereja Katolik Paroki Bhky Rumengkor runtuh.
Sementara Gereja Jemaat Imanuel Bitung dilaporkan mengalami kerusakan.
Di Kota Manado, rumah warga di Kelurahan Banjer Lingkungan II juga mengalami kerusakan, disertai laporan perabot rumah tangga yang rusak akibat guncangan.
Fasilitas umum tak luput dari dampak.
Gedung olahraga milik Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di Manado dilaporkan mengalami kerusakan.
Bahkan, seorang warga dikabarkan meninggal dunia, meski detail penyebabnya masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak berwenang.
Di kompleks Perumahan Viola Land 2, Matungkas, Minahasa Utara, warga terlihat panik berhamburan keluar rumah saat gempa terjadi.
Sebagian warga berlari tanpa sempat mengenakan pakaian lengkap, bahkan ada yang sambil membawa bayi dan menggendong anak-anak demi menyelamatkan diri.
Pasca gempa, sejumlah wilayah di Sulawesi Utara dan Maluku Utara juga sempat mendapatkan peringatan dini tsunami.
Warga diimbau tetap waspada, menjauhi wilayah pesisir, serta mengikuti arahan resmi dari pemerintah dan lembaga terkait untuk menghindari risiko lanjutan.
Meski begitu peringatan dini tsunami telah dicabut pada siang tadi.