ISBI Bandung Tambah Dua Guru Besar, Perkuat Seni di Era Globalisasi
Seli Andina Miranti April 02, 2026 06:29 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung kembali menorehkan capaian penting dengan mengukuhkan dua guru besar baru dalam perayaan Dies Natalis ke-58, Kamis (2/4/2026).

Kedua guru besar tersebut yakni Guru Besar Bidang Komunikasi Pertunjukan dan Seni Teater, Prof. Dr. Jaeni, S.Sn., M.Si dan Guru Besar Bidang Antropologi Seni Budaya, Prof. Neneng Yanti Khozanatu Lahpan, M.Hum., Ph.D.

Rektor ISBI Bandung, Retno Dwimarwati, mengatakan, pencapaian ini melanjutkan tren positif setelah pada tahun sebelumnya kampus juga mengukuhkan dua guru besar, sehingga selama masa kepemimpinannya, total sudah ada lima guru besar yang lahir dari ISBI Bandung.

Baca juga: Mantap, ISBI Bandung Buka Kelas Paralel Prodi Televisi dan Film di GCC Sumedang

"Sekarang guru besar yang ada di ISBI Bandung tinggal delapan karena dari 12 ada yang meninggal dua, kemudian dua lagi pensiun," ujarnya saat ditemui di ISBI Bandung, Kamis (2/4/2026).

Untuk ke depan, pihaknya mendorong agar semua rektor kepala bisa mengajukan diri. Sebab, secara akreditasi nilai kumulatif banyak rektor kepala yang sudah siap untuk menjadi guru besar.

"Mudah-mudahan ke depan di 2027 lebih banyak lagi guru besar. Saya kira dengan adanya guru besar ini, ISBI Bandung jauh lebih punya potensi untuk menguatkan dirinya menjadi gada terdepan dalam membaca bagaimana kebutuhan zaman," kata Retno.

Dia mengatakan, dengan banyaknya guru besar menjadi hal yang memang membanggakan secara akademik. Sehingga pihaknya berharap  guru besar ini memberikan manfaat yang luar biasa kepada masyarakat.

"Kita mencoba untuk senantiasa bahwa apa yang kita lakukan itu harus berdampak pada masyarakat dan kalau ingin susten, itu tidak hanya sekedar atomik yang kemudian menyelesaikan satu masalah. Tapi kemudian juga tuntutan kita sekarang adalah SDGs," ucapnya.

Sementara Prof Jaeni mengatakan, pihaknya sudah melakukan riset bagaimana mengkomunikasikan seni untuk membentuk, dan mewujudkan wisata alam berbasis seni pertunjukan dan dengan riset ini sudah bisa memperdayakan masyarakat.

"Jadi bagi saya, riset itu hasilnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Ini yang terakhir juga sudah 3 tahun, saya sedang membentuk wisata religi, tapi basisnya seni budaya," kata Jaeni.

Dia mengatakan, dengan bekal ilmu yang sudah didapat dari kampus ISBI Bandung, pihaknya turun ke lapangan dengan menyatrakan masyarakat. Sebab, seni tradisi dan seniman kontemporer harus tetap diberdayakan.

"Kita harus membuat sebuah ruang-ruang kreatif, agar mereka bisa terus berkreasi dan terus dihidupi oleh pekerjaan seni mereka," ujarnya.

Baca juga: Yovie Widianto Ajak Mahasiswa ISBI Bandung Jadikan Perubahan sebagai Modal Berkarya, SInggung AI

Di tempat yang sama Prof Neneng, mengatakan, selama 20 tahun menjadi dosen ISBI Bandung, pihaknya sudah banyak melakukan riset mengenai komunitas seni tradisi yang mengalami perubahan-perubahan ketika berhadapan dengan globalisasi dan transformasi digital.

"Kalau penelitian kan orasinya bermacam-macam, tapi maksudnya sepanjang karir saya sebagai akademisi di ISBI Bandung, saya melakukan banyak riset termasuk ketika menulis disertasi juga adalah meneliti tentang interaksi tradisi dengan modernisasi," kata Neneng.

Sehingga untuk saat ini, kata dia, seni tradisi tersebut bertransformasi dan beradaptasi dalam bentuk-bentuk yang baru maupun mempertahankan bentuknya sesuai dengan aslinya.

"Jadi saya misalnya merekonstruksi seni tradisi di Cerangkong tadi itu, dari yang sudah tidak ada, yang sudah punah, diikutkan kembali karena ketika tradisi itu hilang, nilai-nilainya ikut hilang," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.