Nelayan Tetap Melaut Pasca Gempa M 7,6, Yakin Tak Bakal Tsunami
Kiki Novilia April 02, 2026 07:39 PM

Tribunlampung.co.id, Sulawesi - Para nelayan telah kembali melaut setelah gempa 7,6 magnitudo mengguncang Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel). 

Gunawan, warga setempat menyebut tidak ada yang mengungsi imbas bencana tersebut. Para nelayan bahkan kembali melaut karena yakin tidak akan ada tsunami.

"Warga tetap melaut, karena mereka yakin tak akan terjadi tsunami," ucapnya, dikutip dari TribunManado, Kamis (2/4/2026). 

"Insya Allah Bolsel masih dalam lindungan yang Maha Kuasa," sambung dia. 

Terpisah, Kaban BPBD Bolsel Arfan Djafar mengatakan tak ada bangunan yang rusak pasca gempa.

Baca juga: Gempa Magnitudo 2,5 Guncang Metro Lampung, Warga Heboh

"Kalau bangunan tak ada yang rusak, semuanya aman," ucapnya. 

Meski begitu, ia menghimbau agar warga di pesisir pantai Bolsel tetap waspada.

"Tetap waspada dan jangan termakan isu-isu hoax," tegas dia.

BMKG Ingatkan Warga Waspada

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) meminta warga di Sulawesi Utara (Sulut) dan Maluku Utara (Malut) untuk meningkatkan kewaspadaannya.

Peringatan itu menyusul terjadinya gempa bumi susulan (aftershock) sebanyak 93 kali yang melanda Sulut dan Malut.

Diketahui wilayah Sulut dan Malut diguncang gempa bumi bermagnitudo 7,6 yang berpusat di tenggara Bitung, Sulut, Kamis (2/4/2026) pagi.

Dikutip dari Tribunnews.com, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa rentetan gempa susulan tersebut memiliki kekuatan yang bervariasi, dengan magnitudo terbesar mencapai 5,8.

"Hasil monitoring kami hingga pukul 12.00 itu telah terjadi 93 aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo 2,8 hingga 5,8," ujar Teuku Faisal dalam rapat koordinasi penanganan bencana di kantor BNPB, Jakarta, Kamis siang.

BMKG meminta masyarakat di wilayah terdampak, khususnya di sepanjang pesisir Sulut dan Malut, untuk mengantisipasi potensi bahaya dalam satu hingga dua hari ke depan.

Faisal menegaskan bahwa tren kekuatan gempa susulan akan terus dipelajari untuk memetakan risiko jangka panjang.

"Biasanya setelah satu atau dua hari trennya nanti akan kita pelajari. Ini tergantung situasi di sana," ucapnya.

Secara khusus, Faisal memberikan peringatan terkait karakteristik gempa susulan yang terkadang bisa lebih destruktif.

Ia merujuk pada sejarah gempa Palu, di mana kekuatan gempa susulan tercatat melampaui gempa utama.

"Masyarakat harus waspada. Dalam beberapa kasus, gempa susulan yang terjadi biasanya lebih kuat dibanding gempa utama," tambahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.