WARTAKOTALIVE.COM – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang menghancurkan.
Militer Israel (IDF) mengonfirmasi keberhasilan operasi intelijen tingkat tinggi yang menewaskan Jamshid Eshaqi, sosok sentral di balik Markas Besar Minyak Angkatan Bersenjata Iran di Teheran.
Serangan ini menandai upaya sistematis untuk memutus urat nadi keuangan yang menyokong kekuatan militer Republik Islam tersebut terutama Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Baca juga: Trump Ancam Pemboman Besar-besaran Iran, Para Jenderal dan Petinggi Teheran Merespon Siap Mati
Kematian Eshaqi bukan sekadar hilangnya seorang komandan, melainkan runtuhnya arsitek pendanaan proksi Iran di kawasan tersebut.
Memutus Rantai Minyak dan Rudal
Jamshid Eshaqi bukan figur sembarangan.
Menurut pernyataan resmi IDF pada Kamis malam (2/4/2026) dari laman jpost.com, Eshaqi adalah otak di balik sayap keuangan yang mengelola keuntungan penjualan minyak untuk membiayai produksi rudal balistik.
“Markas Besar Minyak adalah bagian integral dari mesin perang rezim. Melalui keuntungan penjualan minyak yang menghindari sanksi internasional, mereka membangun kekuatan militer dengan mengorbankan kebutuhan sipil masyarakat Iran sendiri,” tegas pihak IDF.
Selain mendanai industri senjata, Eshaqi dituding sebagai penyalur dana utama bagi kelompok Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman.
Operasi ini dilakukan berdasarkan informasi presisi dari Direktorat Intelijen IDF yang telah memantau pergerakan Eshaqi sejak awal pekan.
Baca juga: IDF Buka Suara Usai 3 Prajurit TNI Gugur Dalam Serangan di Lebanon
Teheran Diguncang: Markas Keuangan IRGC Rata dengan Tanah
Tak berhenti di situ, jet tempur Israel juga melancarkan serangan udara dramatis ke jantung ibu kota Teheran pada Rabu lalu.
Targetnya adalah markas keuangan vital milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Fasilitas ini diduga menjadi tempat transit puluhan miliar dolar yang dialokasikan untuk mendanai pasukan Basij dan Pasukan Keamanan Internal.
Pasukan-pasukan inilah yang menurut laporan IDF bertanggung jawab atas tindakan represif terhadap warga sipil Iran selama protes massal yang meletus akhir Desember lalu.
Dengan hancurnya markas ini, Israel berupaya melumpuhkan mekanisme "penindasan rezim" terhadap rakyatnya sendiri.
Infrastruktur Vital Menjadi Sasaran
Serangan Israel kian meluas ke infrastruktur strategis lainnya.
Secara bersamaan, IDF mengklaim telah menghancurkan pangkalan Pasukan Darat IRGC, pos komando bergerak, serta situs penyimpanan rudal balistik di wilayah Tabriz.
Serangan-serangan ini menunjukkan bahwa Israel kini tidak hanya menyasar personel, tetapi juga melumpuhkan mobilitas dan logistik pertahanan Iran secara menyeluruh.
Di tengah dentuman ledakan yang mengguncang Teheran hingga Tabriz, narasi penderitaan warga sipil Iran mencuat.
Alokasi miliaran dolar untuk perang proksi di saat kebutuhan domestik terbengkalai kini menjadi titik balik kemarahan yang dipicu oleh kehancuran fasilitas-fasilitas elit tersebut.
IRGC Rontokkan Drone Hermes
Sebelumnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara resmi mengumumkan keberhasilan mereka mencegat dan menghancurkan drone pengintai canggih, Hermes 900, yang mencoba menyusup ke wilayah kedaulatan Iran selatan, Kamis (2/4/2026).
Insiden ini bukan sekadar angka dalam statistik perang, melainkan sebuah pernyataan tegas bahwa setiap jengkal udara Iran adalah zona terlarang bagi agresor.
Hermes 900 dikenal sebagai salah satu unit Unmanned Aerial Vehicle (UAV) paling elit dan mahal milik militer modern.
Baca juga: Gelar Pertemuan Rahasia di UEA, 37 Perwira Amerika Serikat Tewas Dihujani Drone dan Rudal IRGC
Namun, kecanggihannya bertekuk lutut di tangan sistem pertahanan udara terbaru yang dikembangkan secara mandiri oleh para insinyur IRGC.
Dalam pernyataan resminya, Kantor Hubungan Masyarakat IRGC mengungkapkan bahwa drone tersebut terlacak secara presisi oleh jaringan pertahanan udara terpadu sebelum akhirnya diledakkan di udara.
"Ini adalah bukti bahwa inovasi teknologi kami mampu melampaui arogansi kekuatan udara musuh. Shiraz tetap aman di bawah perlindungan kami," tulis pernyataan tersebut.
Jatuhnya Hermes 900 di Shiraz menandai tonggak sejarah baru dalam konflik yang berkecamuk sejak 28 Februari lalu.
Dengan kehancuran ini, jumlah total pesawat tanpa awak milik koalisi AS-Israel yang berhasil ditembak jatuh oleh Iran kini telah melampaui angka 150 unit.
Konflik skala besar ini bermula dari serangan tanpa provokasi yang menargetkan jantung kepemimpinan Iran, termasuk pembunuhan syahid Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei.
Sejak saat itu, rakyat Iran hidup dalam bayang-bayang serangan udara yang menghantam infrastruktur sipil dan militer.
Perlawanan di Tengah Luka
Di balik kecanggihan rudal dan drone, terdapat narasi kemanusiaan tentang keteguhan bangsa yang menolak menyerah.
Setiap drone yang jatuh adalah simbol balasan atas kerusakan di lokasi-lokasi sipil dan jatuhnya korban jiwa di pihak Iran.
Angkatan Bersenjata Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan operasi pembalasan.
Gelombang rudal dan drone Iran terus menargetkan posisi-posisi strategis Amerika dan Israel di pangkalan regional sebagai respons atas agresi yang tak kunjung usai.
Bagi warga Shiraz dan kota-kota lainnya, jatuhnya Hermes 900 adalah secercah harapan bahwa kedaulatan mereka masih berdiri tegak di tengah badai peran