Rusunawa Angke Dikepung Sampah: Warga Keluhkan Bau Menyengat, Belatung hingga Tikus Berkeliaran
Rr Dewi Kartika H April 03, 2026 04:07 PM

TRIBUNJAKARTA.COM, TAMBORA - Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Angke, Tambora, Jakarta Barat, dikepung tumpukan sampah yang menggunung.

Berdasarkan pantauan pada Jumat (3/4/2026) pagi, sampah rumah tangga terlihat memenuhi gang-gang di kawasan hunian. 

Tumpukan kantong plastik berisi limbah tampak menggunung hingga setinggi sekitar satu meter di beberapa titik, terutama di area terbuka antarblok.

Kapasitas tempat penampungan sampah (TPS) yang terbatas menyebabkan sampah meluber hingga ke jalan. 

Kondisi jalanan pun tampak becek dan menghitam akibat tercampur air lindi. 

Tak hanya itu, saluran air dan selokan di kawasan rusun tertutup rapat oleh sampah plastik, botol bekas, dan limbah rumah tangga lainnya.

Akibatnya, air di dalam saluran tak lagi terlihat dan berubah menjadi genangan hitam pekat. 

Bau busuk yang menyengat langsung tercium begitu memasuki kawasan tersebut.

Warga terpaksa hidup berdampingan dengan aroma tidak sedap dari sampah membusuk.

Selain itu, hama seperti tikus, belatung, dan lalat terlihat berkeliaran bebas bahkan hingga ke area hunian. 

Kondisi ini semakin memprihatinkan karena masih terdapat warung makanan yang beroperasi dalam radius 50 hingga 100 meter dari lokasi tumpukan sampah.

Meski demikian, warga menyebut kondisi saat ini sedikit lebih baik dibandingkan dua pekan sebelumnya, ketika tumpukan sampah sempat mencapai ketinggian atap rumah.

Petugas dari Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat telah mengerahkan dua unit truk sampah dan puluhan personel untuk melakukan pembersihan di lokasi.

Nyaris Sebulan Tak Diangkut

Warga mengungkapkan persoalan sampah ini telah berlangsung hampir satu bulan, sejak bulan Ramadan hingga setelah Hari Raya Idul Fitri.

Aminah (52), seorang warga yang juga berjualan makanan, mengatakan keterlambatan pengangkutan sampah akibat kendala di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

“Katanya dari Bantargebang longsor, jadi pengangkutan sampah terhambat. Dari puasa sampai habis Lebaran ini nggak keangkut,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Royyan (48), penghuni rusun lainnya. Ia menyebut tumpukan sampah sempat menutup akses jalan di dalam lingkungan rusun.

“Sudah lama, hampir sebulan. Sampah sampai menutup gang, motor saja sampai gabisa lewat,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut memaksa warga mencari jalur alternatif untuk beraktivitas sehari-hari.

Ketua RT 10 RW 03, Ika, juga mengeluhkan dampak yang dirasakan warga, terutama terkait kesehatan dan kenyamanan.

“Bau sangat parah, lalat banyak sekali. Apalagi kalau hujan, belatung naik ke mana-mana,” ujar dia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.