Momentum Jumat Agung menjadi kesempatan reflektif untuk mempertanyakan apakah setiap orang masih berani tegak berdiri dan memikul salibnya masing-masing

Kupang, NTT (ANTARA) - Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo mengatakan Jumat Agung sebagai momentum refleksi atas pengorbanan dan keteguhan iman di tengah berbagai tantangan, sekaligus menegaskan pentingnya menjaga harapan menuju kebangkitan.

“Jumat Agung ini lambang pengorbanan, kesunyian, serta jalan yang penuh hambatan, tantangan, dan rintangan. Namun, di ujungnya selalu ada harapan dan kebangkitan,” katanya usai mengikuti Ibadat Jumat Agung di Paroki St Petrus Rasul TDM, Kupang, NTT, Jumat.

Ia mengatakan, peristiwa Jalan Salib Yesus menjadi kesempatan bagi umat beriman untuk meneguhkan diri dan berani memikul salib hidup masing-masing, agar harapan dan kebangkitan itu dapat terwujud, termasuk bagi Kota Kupang.

“Setiap kali menghadapi tantangan, kita tidak boleh berhenti berharap. Di tengah berbagai kesulitan, baik efisiensi, kondisi pemerintah pusat, maupun situasi global seperti konflik di Timur Tengah, harapan harus tetap dijaga,” ujarnya.

Menurut dia, setiap orang memiliki salibnya sendiri. Namun, makna sejati Jalan Salib adalah pengorbanan yang pada akhirnya membawa harapan dan kebangkitan.

Karena itu, lanjut dia, momentum Jumat Agung menjadi kesempatan reflektif untuk mempertanyakan apakah setiap orang masih berani tegak berdiri dan memikul salibnya masing-masing.

“Selamat Jumat Agung dan selamat menyambut Paskah. Mari kita rayakan dengan khusyuk dan penuh makna, semoga membawa harapan dan kebangkitan bagi kita semua,” ujarnya.

Sementara itu, Pastor Rekan Paroki St Petrus Rasul TDM Romo Deodatus Parera, Pr dalam khotbahnya pada ibadat tersebut, mengatakan bahwa penderitaan dan sengsara Yesus membuka jalan dari kegelapan menuju terang.

Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo (tengah) berpose bersama petugas koor dan pelayan altar seusai Ibadat Jumat Agung di Gereja Paroki St. Petrus Rasul TDM, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat (3/4/2026). ANTARA/Yoseph Boli Bataona/aa.

“Yesus sungguh mencintai sampai tuntas. la menunjukkan bahwa cinta sejati adalah cinta yang rela memberi tanpa pamrih, rela berkorban, melayani, dan melepaskan. Cinta yang tidak mencari keuntungan diri sendiri, tetapi mengutamakan kebaikan orang lain,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa luka-luka Yesus menjadi sumber penyembuhan bagi dosa-dosa manusia dan dari pengorbanan itulah lahir keselamatan dan pembaruan.

“Dalam keheningan salib, kita diajak untuk percaya. Sebab justru dalam penderitaan, iman dan harapan kita diuji dan dimurnikan. Dan pada akhirnya, kebangkitan akan datang bagi mereka yang tetap percaya,” ujarnya.

Pantauan ANTARA di lapangan Ibadat Jumat Agung tersebut berlangsung khidmat dan lancar serta diikuti oleh ratusan umat Katolik dari wilayah Kota Kupang dan sekitarnya.

Adapun Ibadat Jumat Agung di Paroki TDM dilaksanakan sebanyak dua kali pada pukul 12.00 WITA dan pukul 15.00 WITA.