Sosok Edi Jual Menu 'MBG' Serba Rp 12 Ribu, Sajikan Menu Ayam hingga Dimsum Meski Sempat Takut
Ani Susanti April 03, 2026 09:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Sebuah lapak sarapan di depan Lapangan PSPT Tebet, Jakarta Selatan mencuri perhatian.

Lapak makanan itu memakai nama MBG, namun memiliki kepanjangan berbeda alias plesetan dari program andalan pemerintah.

MBG di depan Lapangan PSPT Tebet ini singkatan dari "Mantap Banget Gila".

Selain MBG, ada pula kepanjangan dari BGN di lapak sarapan ini yakni menjadi Badan Ganjel Nyarap dengan penulisan logo yang juga menyerupai MBG dan BGN ala pemerintah. 

Baca juga: Penjual Nasi Ayam Pakai Kemeja dan Dasi Bak Pegawai Kantoran saat Layani Pembeli: Menarik Perhatian

Edi, sang pemilik usaha lapak sarapan MBG, mengaku ide nama tersebut muncul saat ia sedang berkumpul bersama teman-temannya. 

Mereka ingin membuka usaha yang unik dan memanfaatkan momentum dari program pemerintah yang sedang ramai diperbincangkan.

"Awalnya dari program pemerintah Makan Bergizi Gratis, cuman kita pengen sesuatu yang unik, kita bikin jadinya Mantap Banget Gila," ujar Edi saat ditemui di lokasi usahanya, Jumat (3/4/2026), melansir dari TribunJakarta.

Sempat Takut

Meski mendapatkan respon yang luar biasa dan dianggap inovatif oleh masyarakat, Edi mengaku sempat merasa was-was atau "ngeri-ngeri sedap" dengan penggunaan nama MBG tersebut. 

Hal ini dikarenakan banyak warga yang menyangka makanan yang ia jual adalah bagian dari program gratis pemerintah.

"Bukannya takut dikritik tapi ada yang berpikiran MBG itu Makan Bergizi Gratis, mereka pikir di sini gratis juga," katanya sembari tertawa.

Namun, Edi menyiasatinya dengan tetap menghadirkan sisi sosial. 

Khusus di hari Jumat, ia menjalankan program berbagi makanan secara gratis kepada orang-orang di sekitar lingkungan PSPT Tebet.

Walaupun baru beroperasi selama empat hari, pilihan menu yang ditawarkan Edi tergolong sangat beragam untuk ukuran menu sarapan. Semua hidangan tersebut merupakan buatan sendiri.

Beberapa menu yang tersedia antara lain nasi cumi, nasi ayam, spageti, dan aneka rice bowl.

Selain makanan berat, ada pula aneka camilan mulai dari takoyaki, dimsum, roti-rotian, hingga sushi mentai.

Ada pula menu sehat yakni salad bagi pelanggan yang tidak menyukai makanan pedas atau berat.

"Semuanya serba Rp 12.000 ribu," kata Edi.

Menurut Edi, sejauh ini menu yang paling menjadi primadona adalah rice bowl nasi cumi dan nasi ayam.

MBG ala Tebet ini membuka lapaknya setiap hari mulai pukul 05.30 hingga 09.00 WIB sebelum berangkat beraktivitas.

Ke depannya, ia berencana untuk menambah fasilitas tempat duduk dan memperkaya variasi menu minuman seperti jus dan susu untuk melengkapi menu sarapan pelanggannya.

Berita Terkait MBG

Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Banjarharja, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, mengakui adanya keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang berdampak pada munculnya keluhan terkait menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga basi.

Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di SPPG Banjarharja, Agung Maulana, mengatakan pihaknya hanya menerima satu laporan keluhan dari penerima manfaat terkait kondisi sayuran yang basi.

"Kalau sisanya tidak ada komplain. Dari penerima manfaat lain aman. Kami hanya melihat satu postingan di Facebook yang menyampaikan keluhan," ujar Agung kepada Tribun Jabar melalui WhatsApp, Kamis (2/4/2026) sore.

Diketahui, lanjut Ia, SPPG Banjarharja mulai mendistribusikan menu MBG sejak 26 Januari 2026 kepada sekitar 2.800 penerima manfaat. 

Namun, pelaksanaan program itu diakui masih dalam tahap awal sehingga berbagai kendala teknis belum sepenuhnya teratasi.

"Kan ini masih baru. Kemarin juga terpotong libur Lebaran. Kami juga belum pernah memasak menu MBG dalam bentuk basah untuk B3, sehingga kaget (ketika ada laporan sayuran basi)," katanya.

Baca juga: Jualan Bakso Pakai Setelan Jas, Sugiyo Dapat Omzet Rp 90 Juta Sebulan, Bangga Jadikan Anak Sarjana

Memang, awalnya pihaknya berencana menyediakan menu MBG dalam bentuk kering untuk penerima manfaat itu. 

Namun, adanya arahan dari pihak atas membuat mereka harus menyesuaikan dengan penyajian makanan basah meski belum sepenuhnya siap.

"Awalnya mau kering, tapi karena ada tekanan dari atas, mau tidak mau kami harus siap menyediakan makanan basah walaupun sebenarnya belum siap," ucap Agung.

Agung pun menyampaikan permohonan maaf kepada para penerima manfaat atas kendala yang terjadi dan pihaknya pun akan terus melakukan perbaikan dalam proses penyajian makanan. 

Sebelumnya viral program menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Banjarharja, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, menuai sorotan setelah ditemukan makanan dalam kondisi diduga basi.

Temuan itu pertama kali mencuat melalui unggahan media sosial Facebook oleh akun bernama Sadi Sadi, yang mengaku sebagai penerima manfaat program tersebut. 

Unggahan itu pun dengan cepat menjadi viral. Dalam postingannya, ia mengaku kecewa terhadap kualitas makanan yang diberikan, terutama karena penerima manfaat merupakan anak-anak balita.

"Ini SPPG Banjarharja Pangandaran maksudnya niat mau ngasih makanan bergizi, atau mau meracuni anak-anak balita di kampung saya?" tulisnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.