Sejumlah warga Rohul berupaya melestarikan kuliner tradisional berupa dodol yang resepnya didapat dari para leluhur. Meski dicemooh, Jamaluddin Nasution, pelopor usaha dodol khas Rohul ini tak patah semangat. Tetap memproduksi hingga penganan ini selalu dinanti terutama saat lebaran Idul Fitri.
TRIBUNPEKANBARU.COM, PASIR PENGARAIAN - Sejumlah pekerja tampak memadati pondok yang ada di Jalan Boru Namora Suri di Dusun Keramat, Kaiti III, Desa Rambah Tengah Barat Kaiti, Kecamatan Rambah.
Para pekerja didominasi kaum pria itu serius mengaduk dodol khas Rohul yang ada di atas kuali berukuran besar itu menggunakan pengaduk yang terbuat dari kayu.
Proses pengadukan membutuhkan tenaga lebih. Sebab semakin lama diaduk dodol semakin mengental.
"Proses memasaknya bisa sampai 5 jam," kata Jamaluddin Nasution, sang pelopor usaha dodol khas Rohul ini pada Tribunpekanbaru.com, Jumat (14/3/2026) lalu.
Pondok tersebut berukuran sekitar 10 m x 4 m. Terbuat dari kayu dan berlantai tanah, di pondok inilah proses memasak dodol dilakukan. Dua atau tiga tungku bisa dijejerkan di pondok tersebut untuk masak dodol sekaligus. Bahkan lebih lagi.
Setiap tungku, minimal 2 orang tukang aduk, bahkan bisa 3 orang. Lama proses memasak serta panasnya api menjadi tantangan tersebut bagi tukang aduk. Sehingga dibutuhkan stamina dan kesabaran.
Bisa dibayangkan mengaduk dodol berjam-jam dengan suhu panas sekitar dari api yang ada di tungku. Praktis, cucuran keringat akan membasahi pekerja yang mengaduk. Itulah yang terlihat sore itu.
"5 jam mengaduknya itu, ngak boleh putus," terangnya.
Pembakaran sendiri masih menggunakan kayu bakar. Sehingga penyusunan kayu bakar agar api tertata bagus ke tengah harus tetap dilakukan.
Jamaluddin mengatakan jelang Lebaran setiap tahunnya, pihaknya meningkatkan produksi. Sebab pesanan makin banyak terutama dikalangan para pejabat.
Para pejabat Pemkab Rohul, katanya, menghidangkan dodol buatannya saat open house. Dodol tersebut disuguhkan kepada para tamu yang hadir.
Bupati dan wakil bupati Rohul menjadi langganan, siapapun pun yang menjabat. Termasuk Bupati Anton saat ini berserta wakilnya, Syafaruddin Poti. Selain itu para pejabat lainnya juga membeli dodolnya.
Pernah menjadi kepala desa memang membuat jejaring Jamaluddin terbentang luas di Rohul khusus di tingkat pemerintahan. Ia bisa cepat mempromosikan usaha kuliner tradisional tersebut.
Dalam satu kuali, bisa menghasilkan 30 kg dodol. Dodol ini nantinya akan dikemas dalam bulat panjang dengan pembungkus terbuat dari daun pandan. Pandan tersebut sudah dianyam dengan motif tertentu.
Satu bungkus berbentuk bulat panjang tersebut memiliki berat 250 gram atau 200 Gram. Sehingga dalam 1 kg, didapat 4 bungkus ataupun 5 bungkus.
Bungkus dodol menggunakan daun pandan diyakini membuat aroma tambah menarik. Dodol semakin harum sehingga menggugah selera. Untuk bungkus daun pandan ini, Jamaluddin "mengimpornya" dari tempat mertua yang ada di kabupaten tetangga, Tapanuli Selatan.
Satu kilo dodol, dibandrol Rp 85.000. Pengakuannya, ia sudah mengirim ke berbagai propinsi di Indonesia. Apalagi ada perkumpulan warga Mandailing Rohul di berbagai wilayah Indonesia.
Usaha dodol ini memang masih mempertahankan cara tradisional. Mulai dari bahan baku, cara memasak bahkan membungkusnya. Bahkan tidak menggunakan penyedap rasa, pemanis buatan.
"Ngak pakai pengawet juga. Murni tradisional semua," terangnya.
Usaha membuat dodol secara tradisional ini ia tekuni sejak 5 tahun terakhir ini. Pembuatannya pun masih pada momen tertentu. Selain Lebaran, dodol dibuat saat ada pesta dimana pihak keluarga memesan dodol dalam skala besar.
Resep pembuatan dodol berasal dari leluhurnya. Leluhur Mandailing di Rohul memang berasal dari Tapanuli Selatan (Tapsel) dan saat ini mereka sudah diakui sebagai bagian masyarakat adat di Rohul dengan mendapatkan tanah Ulayat di wilayah Kecamatan Rambah.
Melihat generasi muda yang tidak memperdulikan lagi atas kuliner tradisional, Jamaluddin pun berinisiatif menghidupkan kembali. Tak banyak pembuatan dodol di komunitas mereka yang aktif, hanya 2 saja.
"Hanya 2 termasuk saya. Makanya saja ngotot buat usaha ini. Kasihan kan generasi muda lupa cara buat kuliner tradisional ini," terangnya.
Ia tidak ingin resep para leluhurnya hilang ditelan zaman yang berputar cepat. Apalagi disatu sisi, makanan atau kuliner cepat saji membanjiri masyarakat.
"Jangan sampai anak cucu kedepan ngak tau cara buat dodol ini. Padahal dari leluhur nya kue seperti ini. Kan kasihan nanti generasi muda.
Awalnya ia memang mengerjakan berbagai hal. Mulai dari menyadap aren, ia lakukan. Setiap hari ia mengumpulkan air nira dari aren - salah satu bahan krusial dalam pembuatan dodol.
"Saya dicemooh ngak ada kerjaan lain," kenangnya.
Namun secara perlahan, usaha kue tradisional tersebut menunjukkan hasil. Banyak warga yang mulai memesan termasuk diantara beberapa pejabat Pemkab Rohul.
Secara perlahan, kaum lelaki warga sekitar mulai melirik. Sudah mau menyadap aren untuk ia tampung.
"Sekarang banyak anak muda ngak gengsi lagi nyadap aren. Karena hasilnya lumayan kan," ucapnya.
Dikatakannya selain ingin melestarikan kue tradisional, salah satu pendorong ia meneruskan pembuatan dodol ini yakni ketersediaan bahan baku.
Bahan bakunya yakni gula aren, tepung beras pulut, santan kepala, garam secukupnya dan vanilla. Itulah bahan baku utama pembuatan dodol.
"Aren banyak ditempat kita. Santan dan tepung juga tersedia dalam jumlah banyak. Bahan bakunya di sini semua," katanya.
Misi melestarikan kue tradisional warisan leluhur pun sudah berhasil ia lakukan - untuk sejauh ini. Ia pun ingin melangkah lebih jauh yakni menjadi dodol ini oleh-oleh khas Rohul dan Riau.
Bila itu terwujud, maka perekonomian warga sekitar bisa berkembang. Sebab pembuatan dodol akan membutuhkan pekerja yang cukup banyak.
"Harapan kita selain melestarikan kue leluhur ini, ini bisa meningkatkan perekonomian warga sekitar," katanya.
Diakuinya, dodol miliknya perlu dikemas lebih menarik dan dipromosikan sehingga dikenal. Untuk itu, ia akan menggandeng Pemkab Rohul terutama dinas yang membidangi UMKM.
Ia ingin dodol miliknya masuk sebagai oleh-oleh khas Rohul dan Riau. Sehingga warga ataupun pejabat luar yang berkunjung, bisa membawa dodol ini sebagai oleh-oleh. Sertifikat halal memang belum diurusnya dan akan dilengkapi bersamaan dengan menggandeng Pemkab Rohul.
Bila pembacaan ingin memesan dodol hasil usaha Jamaluddin Nasution, bisa menghubunginya di nomor 0813-6402-7271. Nomor tersebut merupakan nomor pribadinya.
(Tribunpekanbaru.com / Palti Siahaan)