TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Dari dapur rumah sederhana di Tenggilis Mejoyo, aroma cabai dan bawang merah menjadi saksi lahirnya sebuah perjalanan kuliner yang kini dikenal hingga Amerika Serikat, Australia, dan Jepang.
Susilaningsih, sosok di balik Sambal Dede Satoe (DD1), memulai usaha ini dengan langkah sederhana: membeli cabai dan bawang merah masing-masing satu kilogram, meracik sambal pertama, dan menghasilkan 10 botol awal.
Dari sana, benih cita rasa Surabaya tumbuh menjadi usaha yang kini menembus pasar global.
“Awalnya hanya untuk keluarga dan teman dekat. Mereka menyukai rasanya. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak dibawa ke pasar lebih luas? Ini bukan sekadar usaha, tapi perjalanan untuk terus belajar, menjaga cita rasa Nusantara, dan berbagi kebahagiaan lewat makanan,” ujar Susilaningsih, mengenang masa awal perjalanannya.
Baca juga: Setelah Vakum 6 Tahun, Ngikan Reborn Kembali Hadir di Surabaya, Kuliner Ikan & Sambal Lebih Variatif
Perjalanan Sambal Dede Satoe dimulai dari keinginan sederhana: menghadirkan cita rasa Surabaya yang autentik, dengan sambal sebagai simbol makanan yang tidak lengkap tanpa pedas.
Setiap resep disesuaikan dengan lidah lokal, memanfaatkan bahan-bahan segar yang tersedia di sekitar rumah. Produksi yang awalnya terbatas kemudian berkembang mengikuti permintaan.
Kini, Dede Satoe menawarkan lebih dari 20 varian sambal, mulai dari Sambal Surabaya, Kecombrang, hingga sambal ikan roa, serta lima jenis bumbu nusantara siap pakai. Setiap botol dibuat tanpa pengawet kimia, dengan teknologi pangan yang menjaga kualitas dan daya tahan hingga 2,5 tahun, memungkinkan produk ini diekspor ke berbagai negara tanpa kehilangan rasa.
Tak hanya soal rasa, Susilaningsih selalu menekankan bahwa produk lokal yang ingin bersaing di pasar global harus menjunjung standar kualitas tinggi.
Setiap batch sambal diuji secara ketat, mulai dari kebersihan, kadar pedas, hingga daya tahan, agar konsumen internasional merasakan cita rasa yang konsisten dan autentik.
Menerobos pasar internasional bukanlah hal mudah. Pernah suatu ketika ribuan botol sambal Dede Satoe ditolak di Korea Selatan karena ada unsur ikan dalam produk, meski sudah lulus uji pangan.
Namun kegagalan itu tidak membuat Susilaningsih menyerah. Ia justru belajar lebih dalam mengenai regulasi pangan di berbagai negara dan menyesuaikan produknya agar memenuhi standar ekspor.
Setiap pengiriman ke New York, Virginia, Los Angeles, dan Vancouver, Kanada, adalah hasil dari proses panjang perizinan dan sertifikasi, termasuk sertifikat HACCP yang menjadi bukti keamanan pangan.
Disiplin tinggi dalam hal kualitas ini membuat Dede Satoe bisa bersaing di rak swalayan internasional.
Di balik kesuksesan Dede Satoe, kelancaran operasional menjadi faktor yang sangat penting bagi Susilaningsih.
Sejak tahun 2015, ia mengandalkan Daihatsu GranMax Blindvan untuk mendukung berbagai kebutuhan mobilitas bisnisnya. Dari perjalanan ke pasar lokal untuk mengambil cabai dan bawang merah, hingga pengiriman sambal ke toko swalayan dan pusat oleh-oleh, bahkan ekspor ke luar negeri, GranMax telah menjadi teman setia dalam setiap langkah usaha.
“GranMax sudah jadi bagian dari perjalanan kami. Dari ambil bahan-bahan hingga mengirim sambal ke pelanggan, kendaraan ini selalu membantu kami dengan sangat baik. Kapasitasnya yang besar memungkinkan kami untuk mengirim banyak produk sekaligus, tanpa mengorbankan kualitas,” kata Susilaningsih.
Lebih dari itu, GranMax juga memberikan kenyamanan lebih dalam kehidupan sehari-hari.
Selain membantu bisnis, kendaraan ini juga sering digunakan oleh keluarga Susilaningsih, memudahkan perjalanan mereka bersama.
“Meskipun kami menggunakannya untuk usaha, GranMax juga sangat nyaman untuk digunakan bersama keluarga. Ini memberikan fleksibilitas yang kami butuhkan, baik untuk bekerja maupun untuk waktu bersama orang terdekat,” tambahnya.
Selain ekspor, Sambal Dede Satoe menjadi bagian dari program Mlaku-Mlaku Jatim, inisiatif Tribun Jatim bersama Daihatsu. Program ini menyoroti perjalanan UMKM lokal, menampilkan bagaimana kreativitas, ketekunan, dan mobilitas menjadi faktor penting dalam pengembangan usaha.
Dengan menyusuri berbagai daerah di Jawa Timur menggunakan armada Astra Daihatsu, Mlaku-Mlaku Jatim tidak hanya menampilkan produk, tetapi juga menceritakan kisah di balik usaha: bagaimana sambal dibuat, tantangan yang dihadapi, hingga strategi agar bisa bersaing di pasar global.
Program ini menjadi sarana inspirasi bagi pelaku UMKM lain untuk berani melangkah lebih jauh, menjaga kualitas, dan mengeksplorasi peluang internasional.
Dari dapur rumah di Surabaya hingga rak swalayan di Amerika, perjalanan Sambal Dede Satoe membuktikan bahwa ketekunan, inovasi, dan dukungan operasional yang tepat mampu mengubah mimpi menjadi kenyataan.
Sambal lokal yang autentik bukan hanya pedas, tetapi simbol bagaimana UMKM Indonesia bisa bersaing di kancah global, tetap mempertahankan akar budaya dan cita rasa Nusantara.
Dengan setiap botol yang dikirim, dengan setiap perjalanan Mlaku-Mlaku Jatim yang ditempuh, kisah ini terus bergerak, menginspirasi, menggerakkan, dan membuka peluang baru bagi UMKM Indonesia untuk dikenal dunia.