Laporan Reporter POS-KUPANG. COM, Alexandro Novaliano Demon Paku
POS-KUPANG. COM, OELAMASI - Perayaan Misa I Kamis Putih di Katedral Kristus Raja Kupang, Kamis (2/4/2026), berlangsung khidmat dan penuh makna.
Ratusan umat Katolik memadati gereja untuk mengenangkan Perjamuan Malam Terakhir Yesus bersama para murid-Nya, sekaligus meneguhkan panggilan sebagai pelayan bagi sesama.
Romo Damianus Bell dalam homilinya menekankan bahwa iman Kristiani tidak berhenti pada pengakuan percaya, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata melalui pelayanan yang tulus.
“Melalui tindakan membasuh kaki para murid, Yesus menunjukkan bahwa tidak ada sekat dalam pelayanan. Ia adalah Guru, tetapi merendahkan diri untuk melayani. Ini menjadi teladan bagi kita semua,” ungkapnya.
Baca juga: Paskah Jadi Momentum Persatuan, MUI NTT Serukan Penguatan Kerukunan Umat
Menurutnya, peristiwa Perjamuan Malam Terakhir bukan sekadar perjamuan biasa, melainkan peristiwa iman yang sarat makna.
Dalam momen itu, Yesus tidak hanya membagikan roti dan anggur sebagai tanda tubuh dan darah-Nya, tetapi juga meramalkan pengkhianatan oleh salah satu murid serta penyangkalan oleh Petrus.
“Di tengah kebersamaan itu, ada luka, ada pengkhianatan, tetapi juga ada kasih yang begitu besar. Yesus tetap memilih untuk mengasihi sampai akhir,” jelasnya.
Romo Damianus menambahkan, setelah perjamuan tersebut, Yesus pergi untuk berdoa dalam kesedihan mendalam sebagai awal dari jalan sengsara-Nya.
Hal ini dimaknai dalam liturgi melalui prosesi pemindahan Sakramen Mahakudus ke tempat khusus, yang melambangkan Yesus berjalan sendirian menghadapi penderitaan.
“Oleh karena itu, umat diajak untuk berjaga dan berdoa dalam keheningan, merenungkan pengorbanan Kristus,” katanya.
Ia juga menyoroti sikap umat selama perayaan Ekaristi. Menurutnya, Ekaristi adalah sumber dan puncak iman Kristiani yang harus diikuti dengan penuh kesadaran dan penghormatan.
“Kita tidak boleh sibuk sendiri saat misa. Jangan berbicara, bermain HP, atau melakukan hal lain yang mengganggu kekhusyukan. Ekaristi adalah perayaan suci, tempat kita bersatu dengan Kristus dan sesama,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Perjamuan Malam Terakhir juga menjadi momen awal penetapan imamat. Dalam peristiwa itu, Yesus secara tidak langsung menahbiskan para rasul untuk melanjutkan karya pelayanan-Nya di dunia.
“Karena itu, dalam setiap perayaan Ekaristi, Kristus hadir melalui imam. Ini adalah misteri iman yang harus kita hayati dengan sungguh,” tambahnya.
Pantauan POS KUPANG, suasana perayaan berlangsung tertib. Umat mengikuti seluruh rangkaian liturgi dengan khusyuk, mulai dari liturgi sabda, pembasuhan kaki, hingga pemindahan Sakramen Mahakudus.
Dua umat yang ditemui mengaku mendapatkan pesan mendalam dari perayaan tersebut.
Maria saat diwawancara mengatakan, Kamis Putih menjadi momentum refleksi untuk memperbaiki diri dalam kehidupan sehari-hari.
“Seringkali kita ingin dilayani, tapi lupa melayani. Dari perayaan ini saya belajar untuk lebih rendah hati, terutama di keluarga,” ujarnya.
Sementara itu, Margaretha menilai pesan tentang kasih dan pengorbanan menjadi inti dari perayaan Kamis Putih.
“Yesus sudah memberi teladan luar biasa. Kita sebagai umat harus bisa meniru, saling membantu tanpa melihat status atau latar belakang,” katanya.
Perayaan Kamis Putih ini menjadi awal dari rangkaian Tri Hari Suci yang akan dilanjutkan dengan Jumat Agung dan Vigili Paskah. Umat diharapkan dapat menghayati seluruh rangkaian ini sebagai perjalanan iman untuk semakin mendekatkan diri kepada Kristus. (nov)