Jumat Agung dan Perjamuan Kudus GMIM Imanuel Bahu: Bertobat, Hidup Baru dalam Kebenaran dan Kebaikan
Rizali Posumah April 04, 2026 12:22 AM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Ribuan anggota Jemaat GMIM Imanuel Bahu, Manado, Sulawesi Utara, mengikuti ibadah Jumat Agung dan Perjamuan Kudus, Jumat 3 April 2026.

Ibadah Jumat Agung dan Perjamuan Kudus GMIM Imanuel Bahu berlangsung empat kali.

Mulai dari sesi I pukul 05.30 Wita; sesi II pukul 09.00; sesi III pukul 14.00 dan sesi IV pukul 18.00.

Ibadah berlangsung khusyuk khidmat. Jemaat menghayati karya agung Kematian Yesus di kayu salib. Pengorbanan Anak Allah demi menyelamatkan dosa manusia. 

Penghayatan akan sengsara dan kematian Yesus dimaknai dalam Perjamuan Kudus. Jemaat makan roti dan minum anggur. Roti dan anggur simbol tubuh dan darah Kristus yang mati di Bukit Golgota. 

Peristiwa Jumat Agung mengingatkan jemaat akan pesan dari peristiwa Golgota. 

"Karena kita sudah ditebus, kiranya punya komitmen untuk hidup kudus. Tinggalkan dosa dan hidup baru, berbuat apa yang baik," kata Pdt Fransis Nayoan-Tiwa MTh yang menjadi khadim di ibadah sesi I. 

Perenungan Jumat Agung berpijak pada pembacaan Alkitab, Ibrani 10:1-18 dengan judul: Persembahan yang Sempurna. 

Pendeta Fransis mengingatkan, jemaat boleh mengikuti Perjamuan Kudus berkali-kali namun tiada gunanya jika tanpa perubahan hidup. 

"Sebagaimana pengorbanan anak domba di masa Hukum Taurat dilakukan setiap tahun. Sementara pengorbanan Yesus sekali untuk selamanya. Percuma kita Perjamuan Kudus berkali-kali tanpa pertobatan," ujar Pendeta Fransis. 

Ia minta jemaat memiliki hati yang mengampuni. "Jangan buat Tuhan sedih karena dosa berkali-kali. Setia pada kebenaran. Sebab siapa yang setia akan menerima mahkota kehidupan kekal," katanya lagi. 

Sementara, Ketua Badan Pekerja Majelis Jemaat GMIM Imanuel Bahu, Pdt Shedy Irene Kesek STh dalam khotbah ibadah sesi II mengungkapkan, kehidupan yang berpegang pada salib Kristus bukan berarti bebas tantangan pethumulan

"Justru pergumulan dan tantangan kehidupan mengasah kita untuk jadi pribadi yang kuat," ujar Pendeta Shedy. 

Pesan firman dalam Ibrani menegaskan, sesungguhkan Yesus lebih besar dari seluruh kehidupan manusia. 

Lebih dari itu, ia mengingatkan jemaat pentingnya pemaknaan akan sengsara Yesus. Sebab banyak yang terjebak pada simbol tapi lupa makna. 

"Jangan kita terjebak pada rutinitas dan simbol peribadahan tapi lupa makna sebenarnya. Bahwa hidup kudus, berbuat kebaikan, meneladani firman," ujarnya. 

Dalam perayaan Jumat Agung ini, selain ibadah di gereja, dilaksanakan pelayanan Perjamuan Kudus secara "door to door."

Pelayanan ini dilaksanakan Pendeta didampingi Penatua dan Diaken, naik turun rumah melayani anggota jemaat yang tidak bisa beribadah di gereja. (ndo) 

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.