TRIBUNMANADO.CO.ID - Ibadah Jumat Agung di Jemaat GMIM Bukit Hermon Kinaleosan, Jumat (3/4/2026), berlangsung penuh khidmat dan sarat makna perenungan.
Momentum ini menjadi pengingat bagi jemaat tentang kasih dan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.
Ibadah yang dipimpin Pdt. DR. Clement Wuysang ini mengangkat tema dari Kitab 1 Korintus 11:27-34 tentang makna Perjamuan Kudus.
Jemaat diajak memahami pentingnya mengakui tubuh Tuhan dalam persekutuan iman.
Sesuai dengan tema perenungan “Barangsiapa Makan dan Minum Tanpa Mengakui Tubuh Tuhan, Ia Mendatangkan Hukuman Atas Dirinya”.
“Kasih menjadi alat frontal bagi umat percaya untuk hidup menyebarluaskan kekristenan. Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. Dan kasih itulah yang menjadi identitas Allah yang juga menjadi identitas orang percaya,” ujar Pdt Clement Wuysang dalam khotbahnya.
Melalui khotbahnya, Ketua BPMJ GMIM Bukit Hermon Kinaleosan ini juga mengajak jemaat untuk merefleksikan makna kasih sejati dalam kehidupan sehari-hari.
Firman Tuhan dari Yohanes 15:13 menjadi dasar perenungan tentang pengorbanan Kristus.
"Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya," demikian bunyi ayat tersebut.
“Sudahkah Anda menjadi sahabat yang setia bagi orang-orang yang ada di sekitar Anda?” kata Pdt Clement.
Dalam perenungan tentang via dolorosa, jemaat diajak menelusuri jalan penderitaan Yesus menuju Golgota.
Sosok Simon dari Kirene menjadi gambaran nyata tentang panggilan untuk saling menolong dalam memikul beban kehidupan.
“Di dalam proses via dolorosa, ketika Yesus sudah dipukul, dicambuk, ada seorang bernama Simon dari Kirene yang membantu Yesus memikul salib. Dan dia memikul salib itu sampai ke Golgota,” katanya.
Melalui khotbahnya, Pdt Clement menegaskan bahwa pengorbanan Yesus bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan jalan menuju kehidupan kekal.
Ia menjelaskan, persembahan dalam bentuk apapun tidak dapat memberikan keselamatan yang kekal.
“Yang bisa membuat kekal, Saya dan Saudara, adalah kasih yang kekal, pribadi yang kekal, yang datang ke dunia mengosongkan diri, merengkuh saya dan saudara sehingga yang punya awal dan punya akhir sekarang menjadi yang punya awal dan tidak berakhir lagi,” jelasnya.
Dalam momen ini, Sakramen Perjamuan Kudus yang diikuti 123 anggota sidi jemaat menjadi puncak penghayatan iman.
Roti dan anggur dimaknai sebagai tubuh dan darah Yesus yang diberikan bagi keselamatan manusia.
“Kita diberi jaminan ini melalui apa yang dilakukan Yesus, mati di kayu salib. Tubuh dan darah-Nya diberikan untuk saya dan saudara. Sehingga keabadian itu, kekekalan itu menjadi milik kita,” pungkasnya. (Yes)
Baca juga: Ibadah Jumat Agung di GMIM Bukit Hermon Kinaleosan, 123 Anggota Sidi Jemaat Ikuti Perjamuan Kudus