TRIBUNKALTIM.CO - Perubahan besar terjadi di tubuh Timnas Italia setelah kegagalan mereka melaju ke putaran final Piala Dunia 2026.
Dalam waktu berdekatan, sejumlah figur penting di federasi hingga jajaran pelatih memutuskan mundur dari jabatan mereka.
Setelah lebih dulu Presiden Gabriele Gravina dan Ketua Delegasi Gianluigi Buffon melepas posisi masing-masing, kini giliran pelatih kepala Gennaro Gattuso yang mengambil langkah serupa.
Keputusan ini menjadi bagian dari rangkaian evaluasi besar di tubuh federasi sepak bola Italia atau FIGC (Federazione Italiana Giuoco Calcio), yang merupakan badan resmi pengelola sepak bola di Italia.
Baca juga: 3 Nama Kandidat Pelatih Timnas Italia Gantikan Gattuso, Pep Guardiola Masuk Radar
Situasi tersebut menandai fase transisi penting bagi skuad berjuluk Gli Azzurri—julukan Timnas Italia yang berarti “Si Biru”—yang kini harus segera mencari pelatih baru untuk menghadapi agenda kompetisi internasional berikutnya.
Pada Jumat siang waktu Italia, FIGC secara resmi mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan bersama dengan Gattuso untuk mengakhiri kerja sama.
Dalam pernyataan resminya, federasi menyebut keputusan ini diambil secara profesional dan penuh penghargaan terhadap kontribusi sang pelatih.
"Federasi Sepak Bola Italia dan Gennaro Ivan Gattuso telah sepakat memutus kontrak yang mengikat pelatih asal Kalabria itu dengan kursi pelatih Timnas Italia," demikian isi pernyataan FIGC.
"FIGC ingin berterima kasih kepada Gattuso dan seluruh stafnya atas profesionalisme, dedikasi, dan semangat yang mereka berikan selama 9 bulan bekerja."
"FIGC juga mendoakan kesuksesan buat mereka dalam kelanjutan karier."
Gattuso sendiri baru menjabat sebagai pelatih kepala sejak 15 Juni 2025, menggantikan Luciano Spalletti yang diberhentikan usai kekalahan telak 0-3 dari Norwegia pada laga pembuka Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa.
Perjalanan Singkat Gattuso Bersama Italia
Selama masa kepemimpinannya, Gattuso sempat membawa Italia tampil impresif di awal.
Ya, Timnas Italia berhasil mencatatkan lima kemenangan beruntun dalam lanjutan fase grup kualifikasi.
Namun performa tersebut tidak mampu dipertahankan hingga akhir.
Kekalahan telak 1-4 dari Norwegia di laga terakhir membuat Italia hanya finis sebagai runner-up Grup I.
Sebagai runner-up, Italia harus melalui jalur tambahan berupa babak play-off—yakni fase penentuan terakhir bagi tim yang gagal lolos langsung ke Piala Dunia.
Di semifinal play-off, Italia sukses mengalahkan Irlandia Utara dengan skor 2-0.
Namun langkah mereka terhenti di final setelah kalah dari Bosnia-Herzegovina melalui adu penalti 1-4, setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit.
Hasil tersebut membuat Italia kembali gagal tampil di Piala Dunia, setelah sebelumnya juga absen pada edisi 2018 dan 2022.
Dengan demikian, Italia mencatatkan hattrick kegagalan lolos ke Piala Dunia—sebuah kondisi yang cukup mengejutkan bagi negara dengan sejarah besar di sepak bola dunia.
Pernyataan Gattuso: “Seragam Azzurri Adalah Aset Paling Berharga”
Dalam pernyataannya, Gattuso mengungkapkan bahwa keputusan mundur diambil karena ia merasa gagal memenuhi target utama tim.
"Dengan hati yang berat, setelah gagal mencapai target yang kami tetapkan sendiri, saya merasa waktu saya sebagai pelatih Timnas sudah selesai," ujar Gattuso.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kehormatan tim nasional, yang menurutnya memiliki nilai simbolik sangat tinggi.
"Seragam Azzurri adalah aset paling berharga di sepak bola sehingga tepat untuk memfasilitasi evaluasi masa depan teknis sejak dini."
Gattuso turut menyampaikan rasa terima kasih kepada jajaran federasi dan para pemain.
"Terima kasih kepada Presiden Gabriele Gravina dan Gianluigi Buffon serta seluruh staf federasi atas kepercayaan dan dukungan yang selalu mereka berikan kepada saya."
"Adalah sebuah kehormatan memimpin Timnas Italia dan melakukannya dengan kelompok pemain yang memperlihatkan komitmen dan dedikasi untuk seragam ini."
Ia juga menutup dengan apresiasi kepada para pendukung.
"Tetapi terima kasih terbesar adalah untuk para suporter, untuk semua orang Italia yang tidak pernah gagal menunjukkan rasa cintanya dan mendukung Timnas selama berbulan-bulan ini. Selalu dengan Azzurri dalam hati saya."
Kursi Pelatih Jadi Rebutan, Ini Kandidat Pengganti
Seiring mundurnya Gattuso, posisi pelatih Timnas Italia kini menjadi salah satu jabatan paling strategis dan krusial di sepak bola Eropa.
Sejumlah nama mulai dikaitkan sebagai kandidat pengganti, baik dari kalangan pelatih aktif maupun yang sedang tidak terikat kontrak.
Salah satu nama yang paling sering disebut adalah Massimiliano Allegri.
Ia dikenal sebagai pelatih berpengalaman dengan rekam jejak sukses di Serie A, termasuk bersama AC Milan dan Juventus.
Kemudian ada Roberto Mancini, sosok yang pernah membawa Italia menjuarai Euro 2020 dan mencatat rekor 37 pertandingan tanpa kekalahan.
Nama lain adalah Antonio Conte, yang memiliki pengalaman melatih tim nasional Italia serta sukses besar di level klub, termasuk di Inggris dan Italia.
Selain itu, legenda sepak bola Italia Fabio Cannavaro juga masuk dalam daftar kandidat.
Ia merupakan kapten tim saat Italia menjuarai Piala Dunia 2006, meski pengalaman melatihnya belum terlalu menonjol.
Terakhir, ada Stefano Pioli yang saat ini tidak terikat kontrak dan memiliki pengalaman melatih sejumlah klub besar seperti AC Milan dan Inter Milan.
Tantangan Berat Menanti Pelatih Baru
Siapa pun yang nantinya ditunjuk sebagai pelatih baru, tugas yang dihadapi tidak akan mudah.
Ya, Timnas Italia telah dijadwalkan tampil di UEFA Nations League 2026–2027, di mana mereka tergabung dalam grup yang cukup berat.
Italia akan bersaing dengan tim-tim kuat seperti Prancis, Belgia, dan Turki di Grup 1. Dua pertandingan pertama dijadwalkan berlangsung pada September mendatang.
Kondisi ini menuntut pelatih baru untuk segera beradaptasi dan membangun kembali performa tim dalam waktu singkat.