Pedagang di Kaltim Terhimpit Harga Plastik, Lonjakan Harga Bahan Kemasan Menekan Laba
Briandena Silvania Sestiani April 04, 2026 05:19 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Kenaikan harga plastik yang dipicu dinamika global kini tidak lagi sekadar angka di tingkat industri.

Dampaknya telah menjalar hingga ke lapak-lapak kecil di pasar tradisional, menekan pelaku usaha mikro yang menggantungkan hidup dari barang kebutuhan sehari-hari.

Di Samarinda, denyut kenaikan itu terasa nyata.

Para pedagang mengaku harus memutar otak untuk bertahan, ketika harga bahan kemasan terus merangkak naik, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Mawarni, pedagang plastik yang telah berjualan sejak 2018, menjadi salah satu yang merasakan langsung tekanan tersebut.

Di tokonya yang sederhana, ia kini harus menghadapi kenyataan bahwa hampir seluruh jenis plastik yang dijual mengalami kenaikan harga.

Baca juga: Harga Plastik Melonjak Drastis, Pedagang Kena Dampak Penurunan Omzet hingga 30 Persen

“Plastik merah besar sekarang Rp12 ribu, sebelumnya Rp10 ribu. Semua naik sejak awal Maret,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).

Kenaikan itu, menurutnya, tidak terjadi secara perlahan seperti biasanya, melainkan cukup terasa dalam waktu singkat. Bahkan, untuk beberapa jenis barang, lonjakan harga dinilai cukup signifikan.

Namun yang paling memberatkan bukan sekadar kenaikan harga, melainkan dampaknya terhadap keuntungan.

Meski omzet penjualan masih terjaga bahkan cenderung meningkat margin keuntungan justru semakin tipis.

“Kita jual sedikit saja. Tapi karena modal naik, untungnya berkurang. Hampir semua jenis plastik naik,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, Mawarni tetap berusaha menjaga stok barang. Keputusan itu diambil bukan tanpa alasan permintaan pasar masih stabil.

“Masih dicari orang. Jadi tetap harus ada barang,” ujarnya singkat.

Fenomena serupa juga dirasakan di sisi konsumen.

Fendi, salah satu pembeli plastik, mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan sebelumnya.

“Ada yang naik sampai Rp5 ribu. Lumayan terasa,” katanya.

Ia menduga kenaikan ini berkaitan dengan isu global yang turut memicu kenaikan harga barang lain.

Kenaikan harga plastik memang tidak terjadi secara terpisah.

Ia menjadi bagian dari rangkaian kenaikan biaya yang lebih luas, yang perlahan dirasakan masyarakat dari berbagai lapisan.

Kenaikan Bertahap

Pedagang lain, Sih, menggambarkan kenaikan harga plastik sebagai proses yang berlangsung sedikit demi sedikit, namun konsisten.

“Naiknya tidak langsung besar, tapi bertahap. Hari ini naik, besok naik lagi,” ujarnya.

Menurutnya, hampir semua jenis plastik mengalami kenaikan, termasuk plastik sampah yang menjadi kebutuhan rutin masyarakat.

Harga yang sebelumnya sekitar Rp20 ribu kini mencapai Rp25 ribu per pak.

Lebih dari itu, pedagang juga dihadapkan pada keterbatasan pasokan. Agen mulai membatasi jumlah pembelian, sehingga pedagang tidak lagi leluasa menyetok barang.

“Biasanya bisa beli banyak, sekarang cuma 2 sampai 3 dus,” katanya.

Dampaknya merembet hingga ke konsumen. Pembelian yang sebelumnya bisa dalam jumlah besar kini ikut dibatasi.

“Yang biasa beli per dus, sekarang paling banyak 10 pak saja,” tambahnya.

Tak hanya harga dan pasokan, perubahan juga terjadi pada isi kemasan. Jumlah plastik dalam satu ikat cenderung berkurang, meski harga tetap atau bahkan naik.

Artinya, tanpa disadari, konsumen membayar lebih mahal untuk jumlah yang lebih sedikit.

Strategi Sederhana

Di Tenggarong, Susanti, pedagang sayur di Jalan Maduningrat, juga merasakan dampak yang sama.

Baginya, kenaikan harga plastik bukan sekadar angka, melainkan ancaman langsung terhadap keuntungan harian.

“Harusnya untung segini, tapi karena plastik naik jadi berkurang,” ujarnya.

Meski demikian, ia memilih untuk tidak menaikkan harga jual dagangannya.

Keputusan itu diambil demi menjaga pelanggan agar tidak beralih ke pedagang lain.

“Kalau dinaikkan, pelanggan bisa lari,” katanya.

Sebagai gantinya, Susanti menerapkan strategi sederhana namun efektif: mengurangi penggunaan plastik.

Ia kini lebih sering menawarkan kepada pembeli untuk mencampur beberapa jenis barang dalam satu kantong.

“Sekarang ditanya dulu, mau campur atau pisah. Kalau bisa dicampur, jadi lebih hemat,” jelasnya.

Langkah tersebut terbukti cukup membantu, dan sejauh ini pelanggan dapat menerimanya.

Situasi yang tidak jauh berbeda terjadi di Balikpapan.

Di Pasar Klandasan, Jailani, pedagang plastik yang telah berjualan sejak 1990, menghadapi kondisi yang semakin sulit diprediksi.

“Harga sekarang naik hampir tiap hari. Kita beli hari ini, besok sudah naik lagi,” ujarnya.

Kenaikan yang terus-menerus membuat pedagang kesulitan menentukan harga jual. Dalam beberapa kasus, selisih harga beli dan jual menjadi sangat tipis.

“Kadang beli Rp10 ribu, jual Rp11 ribu. Besoknya sudah naik lagi,” katanya.

Tak hanya itu, ketersediaan barang juga menjadi persoalan. Beberapa jenis plastik bahkan sulit didapat.

“Sudah naik, barangnya kadang tidak ada,” ujarnya.

Dampaknya mulai terlihat pada jumlah pembeli yang menurun.

Sebagian konsumen mengira pedagang sengaja menaikkan harga, padahal kenaikan berasal dari distributor.

“Pembeli pikir kita yang naikkan harga,” tambahnya.

Meski demikian, Jailani memilih tetap bertahan dengan mengambil keuntungan seminimal mungkin.

“Yang penting bisa jalan terus,” ujarnya.

Efek Domino dari Global

Di balik kenaikan harga yang dirasakan pedagang kecil, terdapat tekanan besar dari tingkat global.

Plastik, sebagai produk turunan minyak, sangat bergantung pada harga energi dunia.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan,lonjakan harga plastik sudah dikeluhkan para pedagang dalam beberapa hari terakhir.

Kenaikan ini disebut berkaitan dengan bahan baku plastik yang berasal dari energi fosil.

"Saya dengar biji plastiknya juga naiknya luar biasa. Karena plastik itu kan dari BBM (bahan bakar minyak)," ujar Zulkifli saat ditemui di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (28/3/2026) 

Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah, khususnya di jalur Selat Hormuz, menjadi salah satu pemicu utama. Jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi global.

Sejak akhir Februari 2026, harga minyak dunia tercatat melonjak lebih dari 40 persen.

Kenaikan ini berdampak langsung pada harga bahan baku petrokimia seperti nafta, yang menjadi komponen utama produksi plastik.

Di tingkat industri, dampak tersebut sudah mulai terasa. CEO DST-Pack, Stanislav Krykun, menyebut pemasok plastik di China telah menaikkan harga sekitar 15 persen.

“Kami harus menghitung ulang biaya produksi karena kenaikan harga bahan baku,” ujarnya.

Pada akhirnya, kenaikan ini tidak bisa dihindari akan diteruskan hingga ke tingkat konsumen.

Momentum Kurangi Sampah

Lonjakan harga plastik dunia akibat konflik Timur Tengah mulai memberi tekanan pada berbagai sektor, termasuk pengelolaan sampah di daerah.

Di Samarinda, kondisi ini justru dilihat sebagai momentum untuk memperkuat kebijakan pengurangan plastik yang telah berjalan sejak beberapa tahun terakhir.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, menjelaskan bahwa implementasi larangan penggunaan plastik telah memiliki dasar regulasi yang jelas.

“Sudah ada perwali nomor 1 tahun 2019, sudah disosialisasikan lewat kelurahan dan ditujukan untuk hotel, restoran, rumah makan, swalayan dan ritel seperti indomaret alfamidi dan tempat usaha lainnya,” ungkap Taufiq pada TribunKaltim.co Jumat (3/4/2026). 

Selain melalui regulasi, DLH juga memperkuat upaya pengurangan sampah plastik melalui pendekatan berbasis masyarakat dan pengelolaan langsung di lapangan.

“Bentuk implementasi lainnya pembentukan bank sampah yang menampung sampah plastik bernilai,” ungkapnya. 

Terkait perubahan perilaku masyarakat, ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut telah berjalan cukup lama dan memberikan dampak nyata, khususnya di sektor ritel modern.

“Sudah lama makanya di swalayan-swalayan seperti mini market, hyper market, dan lain-lain sejak keluarnya perwali tersebut tidak lagi menyediakan tas plastik,” kata Taufiq. 

Di tengah kabar melonjaknya harga bahan baku plastik secara global, kondisi ini dinilai dapat menjadi momentum untuk mempercepat pengurangan ketergantungan terhadap plastik. 

Namun, ia menekankan bahwa persoalan sampah harus dilihat secara lebih luas.

“Sebetulnya tidak hanya sampah plastik termasuk sampah lainnya harus dilakukan upaya pengurangan sampah ke TPA. Karena sistem kumpul angkut (dari TPS ke TPA) yang selama ini diterapkan terbukti belum menyelsaikan masalah namun hanya memindahkan posisi sampah,” jelasnya. 

Terakhir, Taufiq menyebut bahwa usaha mengurai sampah plastik sejatinya telah termasuk dalam strategi Pemerintah Kota Samarinda melalui proyek insinerator.

“Dan insinerator yang di siapkan pemkot saat ini juga termasuk salah satu rencana penguatan program pengurangan plastik sekali pakai di tengah situasi global saat ini,” pungkas Taufiq. 

(TribunKaltim.co/snw/pvs/edo/kps)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.