TRIBUNMANADO.CO.ID - Renungan harian keluarga kristen Sabtu 4 April 2026.
Pembacaan alkitab terdapat pada Markus 15:15.
15:15 Dan oleh karena Pilatus ingin memuaskan hati orang banyak itu, ia membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.
Tema perenungan adalah Jangan Menyerah Pada Tekanan.
Khotbah:
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Pernahkah dalam hidup kita mengorbankan prinsip keadilan dan kebenaran demi menyenangkan orang lain ?
Pernahkan kita berada dalam situasi di mana kita tahu yang benar, tapi takut mengatakannya karena kuatir tidak disukai ?
Pilatus membuat keputusan yang “kontroversial” seperti itu.
Ia lebih memilih menyenangkan orang banyak daripada menegakkan keadilan dan kebenaran.
Ia tahu Yesus Kristus tidak bersalah tapi karena tekanan masa, ia menyesah dan menyerahkan-Nya untuk disalibkan.
Dan membebaskan Barabas pemberontak dan pembunuh.
Kenyataan ini menggambarkan dunia yang sering terbalik atau membalikkan nilai kebenaran di mana orang jujur dianggap bodoh, orang yang korup malah disanjung.
Orang yang hidup benar diejek, orang yang hidup sembarangn justru disanjung-sanjung dan diidolakan.
Pilatus tahu Yesus Kristus tidak bersalah, namun ia tetap tunduk pada tekanan publik.
Ia memilih memuaskan hati orang banyak ketimbang menjunjung keadilan dan kebenaran.
Akibatnya, yang benar dihukum, yang jahat dibebaskan ! Sebuah cermin dunia yang terbalik.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Kisah ini menyuguhkan sikap ambivalen atau mendua seorang pemimpin politik yang mengerti kebenaran, namun menyerah pada tekanan publik.
Tindakan Pilatus bukan didasarkan pada keadilan atau kebenaran objektif, melainkan pada dorongan dan keinginan untuk menyenangkan banyak orang.
Kebenaran dikompromikan. Ini adalah bentuk dari populisme dan mengorbankan nilai-nilai kebajikan demi keamanan dan kenyamanan hidup sosial-politik.
Kita pun sering berada dalam posisi seperti Pilatus. Kita tahu apa yang benar, tetapi menyerah pada tekanan sosial-budaya.
Orangtua sering menyerah atau mengalah pada keinginan anak yang dapat “menyusahkan” masa depannya.
Di dalam keluarga pun, sering terjadi kompromi terhadap kebenaran karena tekanan yang bisa bersumber dari keluarga, budaya sekitar atau keinginan untuk menyenangkan banyak orang.
Pendidikan iman bukanlah membesarkan anak untuk disukai semua orang, melainkan supaya berkenan di hadapan Tuhan Allah, meski harus berbeda dari “dunia”.
Karena itu, ajarkanlah anak-anak kita untuk memilih yang benar, bukan yang salah.
Tekankan bahwa integritas (satu kata dan perbuatan) lebih penting daripada pencitraan.
Kita semua sebagai keluarga Kristen dipanggil untuk menegakkan keadilan dan kebenaran meskipun berisiko tidak disukai bahkan dimusuhi dan dijauhi.
Jangan menjadi seperti Pilatus: tahu yang benar, tetapi memilih diam atau menyerah. Amin.
Sumber: dodokugmim.com