Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Genap satu dekade berdiri, Jembatan Merah Putih (JMP) bukan lagi sekadar jembatan penghubung antara Desa Galala dan Poka.
Lebih dari itu, jembatan yang diresmikan Joko Widodo pada 4 April 2016 ini sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Ambon.
Kalau dulu orang harus memutar cukup jauh atau bahkan menyeberang pakai perahu, sekarang semuanya jadi lebih gampang.
Waktu tempuh dari pusat kota ke Bandara Pattimura yang dulu bisa sampai satu jam, kini tinggal sekitar 20 menit saja. Praktis, cepat, dan jauh lebih efisien.
Dengan panjang 1,140 kilometer dan lebar 22,5 meter, JMP termasuk salah satu jembatan terpanjang di Indonesia.
Bentangnya terbagi jadi tiga bagian, mulai dari sisi Poka, Galala, hingga bagian utama di tengah Teluk Ambon.
Tapi bukan cuma soal fungsi. Dari atas jembatan, pemandangan Teluk Ambon memang tiada lawan.
Apalagi saat sore hari, ketika matahari mulai terbenam, langit berubah warna dan laut terlihat tenang.
Momen ini sering dimanfaatkan warga untuk sekadar menikmati suasana atau mengabadikan foto.
Baca juga: Miris! Udara Sejuk di Jl Un Pantai Kota Tual Tercemar Bau Busuk Sampah
Baca juga: Berbagai Komoditas di Maluku Meningkat per Maret 2026, Inflasi Pertahun 3,40 Persen
Tak heran, JMP sering jadi tempat favorit, baik bagi warga lokal maupun wisatawan.
Bahkan saat momen pergantian tahun, kawasan ini selalu ramai.
Meski begitu, sebenarnya aktivitas pejalan kaki di atas jembatan tetap tidak diperbolehkan demi alasan keselamatan.
Bagi mahasiswa Universitas Pattimura dan Politeknik Negeri Ambon, kehadiran JMP benar-benar terasa manfaatnya.
Akses ke kampus di kawasan Poka jadi jauh lebih cepat tanpa harus memutar lewat Baguala seperti dulu.
"Sekarang akses transportasi melalui JMP terasa lebih cepat. Dulu tahun 2013 waktu kuliah harus naik speedboat lalu turun di kawasan Kota Jawa, atau naik perahu atau kapal Feri," ujar Vensia, alumni Unpatti.
Dampaknya juga terasa di sektor ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Poka hingga Rumahtiga berkembang cukup pesat.
Ruko, tempat makan, hingga swalayan mulai bermunculan, menandakan aktivitas ekonomi yang semakin hidup.
Menariknya lagi, meski diperuntukkan untuk kendaraan, banyak warga yang tetap menjadikan JMP sebagai jalur olahraga, seperti lari pagi atau sore.
Selain udaranya segar, pemandangan laut yang luas jadi daya tarik tersendiri.
Memasuki usia 10 tahun, Jembatan Merah Putih bukan cuma soal beton dan baja.
Ia sudah jadi simbol perubahan, tentang bagaimana jarak ke Kota Ambon yang dulu terasa jauh, kini jadi lebih dekat, lebih cepat, dan tentu saja, lebih hidup.
Dan sampai hari ini, jembatan itu masih terus menyimpan cerita. Cerita tentang perjalanan, tentang perubahan, dan tentang Ambon yang terus bergerak maju.(*)