WNI Asal Solo Ungkap Harga BBM AS Melonjak 40 Persen: Tak Ada Imbauan Hemat
Darwin Sijabat April 04, 2026 02:48 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM - Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran kini mulai memukul kantong masyarakat di Negeri Paman Sam. 

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dilaporkan melonjak drastis hingga puluhan persen, memicu efek domino pada harga pangan di supermarket.

Fenomena ini dirasakan langsung oleh Soeko Prasestyo, warga asal Solo, Jawa Tengah, yang telah menetap di Amerika selama 55 tahun. 

Dalam keterangannya, Soeko menyebutkan bahwa meski stok BBM masih tersedia, beban biaya yang harus dikeluarkan warga New York meningkat signifikan.

"Kelangkaan (BBM) memang tidak ada tetapi memang harga BBM itu naik kira-kira 40 persen. Yang tadinya sudah 2 dolar 99 sen di New York, sekarang menjadi 3 dolar 67 sen," ungkap Soeko dalam program On Focus Tribunnews.com, Kamis (2/4/2026).

Kontras Kebijakan: Tanpa Seruan Berhemat

Satu hal yang menarik perhatian Soeko adalah perbedaan mencolok antara respons pemerintah AS dengan pemerintah Indonesia saat menghadapi gejolak energi. 

Di saat harga melambung, otoritas AS justru tidak mengeluarkan instruksi khusus bagi rakyatnya untuk melakukan penghematan konsumsi energi.

Baca juga: Efek Perang Timur Tengah, Bahlil Batasi Beli BBM Subsidi Per 1 April 2026

Baca juga: Penyidik Polda Didemosi Buntut Pengawal Sabu 58 Kg Medan-Jambi Kabur

"Tidak ada imbauan untuk hemat bahan bakar seperti yang dilakukan Indonesia. Di sini tenang-tenang saja rakyatnya," lanjutnya.

Polarisasi Politik dalam Menyikapi Krisis

Alih-alih panik, masyarakat Amerika Serikat cenderung menyikapi krisis ini melalui kacamata politik yang terbelah. 

Kubu Demokrat menggunakan isu ini sebagai alarm peringatan kebangkrutan negara, sementara kubu Republik tetap optimistis dengan status ekonomi AS.

"Tergantung dari warga atau golongan Republik atau Demokrat. Kalau Demokrat tentu saja dibesarkan, wah ini kita akan bangkrut. Tapi kalau dari Republik, 'ah kita masih mampu, kita kan negara terkaya di dunia'," pungkas Soeko.

Kondisi ini menunjukkan bahwa di tengah ancaman resesi akibat konflik Timur Tengah, stabilitas sosial di Amerika Serikat masih sangat dipengaruhi oleh narasi politik internal masing-masing partai besar.

Berikut petikan wawancara bersama Soeko Prasetyo dengan Tribunnews.com;

Tanya: Kalau boleh tahu apa harapan Sebagian besar warga Amerika Serikat saat ini, khususnya mungkin kepada Presiden Trump?

Jawab: Perang ini selesai dengan cepat seperti yang dijanjikan. Dan saya, dan warga Amerika senang sekali mendengar bahwa akan menarik pasukan dari Iran, yang sebetulnya saya kira kita belum ada itu pasukan di sana, di tanah Iran.

Yang ada adalah di tanah di negara-negara seperti Qatar, United Arab Emirates, di Oman, yang sebetulnya sudah ada di sana sebelumnya. Tapi karena peperangan ini menjadi penting sekali.

Dan yang penting lagi adalah kebebasan dari Selat Hormuz, jadi supaya bahan bakar itu untuk seluruh dunia itu bisa lancar kembali seperti sedia kala. Begitu.

Baca juga: Jadwal Bioskop Lippo, Transmart, Jamtos dan WTC Jambi Hari Ini

Baca juga: Suhu Capai 36 Derajat, BMKG Jambi: Waspadai Potensi Karhutla Akibat El Nino

Baca juga: BMKG Jambi Prediksi El Nino 2026 Sekira 34-36 Derajat Celcius, Lebih Ekstrem Dibanding Tahun Lalu

Baca juga: Daftar Nama 9 Ketua Ormas Temui Jokowi di Solo, Apa Isi Pertemuan?

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.