Berseteru dengan Trump, Presiden Prancis Serukan Tatanan Baru Dunia, Tolak Dominasi AS dan China
Rita Noor Shobah April 04, 2026 06:07 PM

TRIBUNKALTIM.CO -  Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan pembentukan tatanan internasional baru dalam pidatonya di Universitas Yonsei, Korea Selatan.

Macron mendesak negara-negara untuk mengurangi ketergantungan pada dominasi ekonomi China maupun ketidakpastian politik Amerika Serikat (AS). 

Seruan ini terjadi beberapa hari setelah Macron dan Presiden AS Donald Trump bersitegang karena Perancis enggan mengerahkan pasukan untuk membuka Selat Hormuz. 

Ia menekankan bahwa dunia tidak boleh terjebak dalam sikap pasif di tengah meningkatnya ketegangan global.

Menurut Macron, stabilitas yang selama beberapa dekade menjadi fondasi hubungan internasional kini mengalami guncangan besar akibat persaingan kekuatan besar.

Baca juga: Bahrain Desak DK PBB Buka Selat Hormuz dengan Kekuatan Militer, Rusia, China, dan Prancis Menolak

“Selama beberapa dekade kita memiliki stabilitas berdasarkan tatanan internasional ini, sekarang situasinya naik turun. Kita tidak boleh hanya pasif dalam kekacauan baru ini. Kita harus membangun tatanan baru,” ujarnya, dikutip dari Anadolu.

Koalisi Kemerdekaan

Salah satu poin utama yang ditekankan Macron adalah pembentukan "koalisi kemerdekaan".  

Ia mendesak negara-negara untuk mengurangi ketergantungan pada dominasi ekonomi China maupun ketidakpastian politik Amerika Serikat. 

“Saya rasa tujuan kita bukanlah menjadi boneka dari dua kekuatan hegemonik,” katanya, merujuk pada Amerika Serikat dan China.

Macron pun menyerukan agar persaingan antarnegara dihentikan sejenak demi membangun kompromi yang nyata.

Ia juga menekankan pentingnya kerja sama internasional yang diperbarui, khususnya di bidang penelitian dan sains.

Baca juga: AS dan Prancis Tegang, Trump Kritik Negara Emmanuel Macron Tidak Membantu Melawan Iran

“Apa yang kita alami selama beberapa tahun terakhir adalah semacam fragmentasi kerja sama ini. Beberapa negara mulai memblokir beberapa kerja sama,” jelas dia.

Macron menambahkan, beberapa negara juga telah mulai memangkas pendanaan di bidang-bidang penting.

Menurutnya, ini merupakan pengkhianatan terhadap semangat koordinasi dan kerja sama yang dibutuhkan.

“Jadi, kita harus berhenti bersaing untuk sementara waktu, kita harus membahas bagaimana membangun kompromi yang tepat dan bekerja sama,” ujarnya.

Kritik Tarif AS dan Kelebihan Kapasitas China 

Pada hari yang sama, saat berbicara di sebuah forum ekonomi, Macron turut menyerukan perlindungan kapasitas produksi Eropa di tengah apa yang ia sebut sebagai tarif AS dan kelebihan kapasitas China.

Ia menyatakan, Eropa sedang memajukan pendekatan “Made in Europe” yang serupa dengan kebijakan di Amerika Utara.

“Kami tidak melakukan ini untuk melawan siapa pun, kami ingin melakukannya bersama orang lain,” paparnya.

Macron menggambarkan Eropa sebagai "benua sangat menarik" yang sedang mengalami modernisasi dan penyederhanaan, menekankan prediktabilitas dan kepatuhannya pada aturan.

Dia juga mengatakan, Eropa tidak percaya pada hukum yang terkuat.

“Kami bukanlah yang terkuat, tetapi kami percaya bahwa siapa pun yang terkuat akan melakukan kesalahan besar pada hari mereka menerapkan hukum yang terkuat dan meninggalkan kerangka kerja bersama,” katanya. 

Macron memperingatkan adanya tekanan paralel dari China dan AS, dengan menyebut Beijing berupaya untuk mendapatkan kendali yang lebih besar atas rantai nilai melalui subsidi, kelebihan kapasitas, dan kontrol atas mineral-mineral penting.

Sementara, Washington mengatasi ketidakseimbangan tersebut melalui tarif dan langkah-langkah ekstrateritorial.

“Pada intinya, yang menyatukan kita adalah keyakinan kita pada supremasi hukum, hukum internasional, perdagangan bebas dan adil, serta aturan Organisasi Perdagangan Dunia,” tuturnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.