5 Istilah Kuliner Non-halal di Solo, Umat Islam Wajib Tahu!
Hanang Yuwono April 04, 2026 06:12 PM

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Jika berkunjung atau wisata di Kota Solo, Jawa Tengah, harap berhati-hati dan teliti ketika hendak kulineran atau membeli makanan.

Kota Solo merupakan salah satu kota budaya, di mana sebagian masyarakatnya masih menjaga adat-istiadat leluhur sampai sekarang.

Ada baiknya wisatawan khususnya Muslim bisa membedakan mana kuliner halal dan non halal di Solo.

Baca juga: Asal-usul Rel Bengkong dan Mitosnya, Lokasi KA Batara Kresna Solo-Wonogiri Mogok

Sebab di Solo, biasanya menggunakan istilah lain untuk kuliner non halal.

Agar Anda yang Muslim tak salah makan, simak istilah kuliner non halal di Kota Solo dan sekitarnya, dirangkum TribunSolo.com:

1. Saren

Di Solo ada makanan bernama saren yang masih dijual di beberapa tempat sampai saat ini.

Saren dibuat dari darah hewan, biasanya darah sapi, ayam, atau babi yang disembelih.

Darah hewan itu dikukus terlebih dahulu agar bentuknya menjadi padat.

Nah, jika tak hati-hati banyak mengira saren adalah hati karena memiliki rampilan yang sama, yakni  merah kecokelatan.

Sementara itu, saren dari hati sapi lebih lembut teksturnya.

Baca juga: 26 Istilah Bahasa Jawa Unik Khas Orang Solo Lengkap dengan Artinya : Tekke, Og, Witekno, dll

2. Sate Jamu

Ada lagi kuliner ekstrem Solo yang sulit ditemukan di daerah lain. Namanya sate jamu.

Sate jamu adalah olahan daging anjing yang cukup populer di Kota Solo dan sekitarnya.

Sebutan sate jamu sudah sejak lama dan menyebar di kalangan masyarakat, meski tidak diketahui siapa yang pertama kali mencetuskan.

Disebut jamu (obat, red), konon olahan daging ini dipercaya bisa menambah stamina.

Padahal hal itu belum diuji secara ilmiah dan dianggap sebagai mitos semata.

Baca juga: 5 Rekomendasi Toko Plastik di Sukoharjo Jateng : Terkenal Lengkap dan Harga Terjangkau

3. B1 dan B2

Sate Babi Ong
Sate Babi Ong (Google Maps Sate Babi Ong)

Jika Anda sering mendengar orang mengobrol tentang makanan atau restoran yang mencantumkan kode B2, artinya warung makan itu menjual olahan daging babi.

Kode B2 biasanya mengandung daging babi.

Sementara B1 artinya adalah daging anjing.

Istilah B1 dan B2 ini juga cukup familiar di Kota Solo.

4. Sate Guguk/ Scooby Doo/ Wedus Balap

Warung Sate Gukguk Pak Iskardi di Solo Baru
Warung Sate Gukguk Pak Iskardi di Solo Baru (TribunSolo.com)

Sate Guguk atau Scooby Doo merujuk pada kode kuliner daging anjing.

Tapi dalam gurauan khas Yogyakarta dan Solo, anjing juga sering disebut sebagai ‘wedus balap’ mengacu kepada anjing yang jika sedang lari ‘bisa ngebut seperti motor balap’.

Namun ada juga penjual kuliner olahan anjing yang menggunakan nama yang mungkin dimaksudkan lucu dan agar menarik konsumennya, yakni dengan nama ‘sate guguk’ atau malah tongseng ‘scooby doo’.

5. Sengsu

Kata ‘sengsu’ berarti ‘tongseng anjing’ atau arti harafiahnya dalam Bahasa Indonesia adalah masakan daging anjing yang dimasak seperti rica-rica.

Konon jika seseorang mengkonsumsi sengsu akan mendapatkan tambahan stamina sehingga siap bekerja keras kembali.

Padahal hal ini tidak ada penjelasan ilmiahnya, ahli kesehatan justru menekankan jika anjing bukanlah hewan konsumsi.

Jadi jika Anda seorang Muslim dan pertama kali berkunjung ke Solo, lalu ditawari makan istilah-istilah di atas maka sebaiknya menolak.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.