TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Industri pariwisata, khususnya sektor jasa akomodasi di DI Yogyakarta dewasa ini tengah berdiri di tengah pusaran ketidakpastian global.
Dinamika geopolitik yang kian memanas tak lagi sekadar isu di layar kaca, namun mulai memberikan tekanan nyata pada operasional perhotelan di Kota Pelajar.
Ketua Indonesian General Manager Association (IHGMA) DPD DIY, Iwan Ridwan Munajat, menuturkan tekanan yang dihadapi pun cenderung bersifat berlapis.
Yakni, mulai dari fluktuasi nilai tukar, perubahan perilaku konsumen, hingga gangguan rantai pasok global yang memicu kenaikan biaya operasional.
Fenomena tersebut, dipaparkannya dalam agenda Business Insight dan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) 2026 yang bergulir di Yogyakarta, Sabtu (4/4/2026).
Secara khusus, gelaran itu mengusung tema "Hospitality Under Pressure: Strategi Bertahan dan Bertumbuh di Era Geopolitik dan Ekonomi Global".
"Kenaikan biaya operasional tidak bisa kita hindari, terutama gangguan rantai pasok global saat ini, khususnya kebutuhan utama akan BBM yang sangat berpengaruh," ujarnya.
Menurut Iwan, di sinilah peran krusial seorang General Manager diuji, untuk menganalisa kebijakan dengan cepat agar unit usahanya tetap bisa beroperasi lancar meski daya beli pasar utama mengalami penurunan.
Baca juga: Sejarawan Ungkap Bukti Peran Perancis dan Pasukan Sepoy di Peristiwa Geger Sepehi 1812
Beberapa strategi kunci yang dihasilkan dalam Rakerda pun mencakup efisiensi operasional berbasis teknologi, diversifikasi pasar guna mengurangi ketergantungan pada satu segmen, hingga penguatan branding melalui story telling yang unik.
"Implementasi praktik ramah lingkungan atau sustainability juga bukan lagi sekadar tanggung jawab sosial, tapi nilai tambah kompetitif agar industri perhotelan kita tetap dilirik pasar internasional," katanya.
Senada, Ketua Umum DPP IHGMA, Dr. I Gd. Arya Pering Arimbawa menekankan bahwa ancaman dalam dunia usaha pada situasi terkini adalah keniscayaan.
Namun, yang menjadi perhatian khusus adalah, bagaimana menjaga aliran wisatawan mancanegara di tengah kendala rute penerbangan akibat isu geopolitik.
Dicontohkan, akses wisatawan dari Eropa menuju Indonesia, khususnya ke Yogyakarta, sangat bergantung pada kebijakan antar-pemerintah (Government to Government) terkait rute udara.
"Kalau kita bicara sekarang bergantung hanya pada market Eropa, ya Eropanya yang mana? Kalau dari Eropa masuk lewat Turki atau Abu Dhabi, rutenya baru ke Indonesia. Adakah cara lain, misalnya via Oman? Inilah pentingnya komunikasi G-to-G," paparnya
Ia menegaskan, koordinasi dengan pihak Angkasa Pura dan dinas terkait menjadi harga mati untuk memastikan aksesibilitas Yogyakarta tetap terjaga.
Arya pun mengajak seluruh pelaku industri untuk saling bersinergi memperkuat kolaborasi di tenhan era serba sulit ini, dan tidak bergerak sendiri-sendiri.
"Kalau sendiri-sendiri, kita jatuh. Harus bareng-bareng sama PHRI, Angkasa Pura, hingga akademisi. Konsepnya simpel, tinggal bagaimana kita mengaplikasikannya. Jangan dianggap berat," pungkasnya. (*)