TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Peristiwa Geger Sepehi pada 20 Juni 1812 selalu dikenang sebagai salah satu fragmen paling kelam dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta.
Namun, riset terbaru dari sejumlah pakar sejarah mengungkapkan, bahwa penyerbuan Keraton Yogyakarta tersebut menjadi bagian dari papan catur politik global yang melibatkan pengaruh Perancis dan Inggris.
Akar masalah ternyata bermula jauh sebelum Inggris mendarat di Jawa, yakni saat pendudukan Perancis atas Belanda di Eropa, di bawah kendali Napoleon Bonaparte.
Kala itu, wilayah jajahan Belanda termasuk Jawa otomatis berada di bawah pengaruh Perancis, yang kemudian diwakili oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.
Pakar sejarah era Napoleon, Prof Djoko Marihandono, menekankan bahwa Daendels membawa semangat Revolusi Prancis yang egaliter namun dipaksakan secara militeristik.
Hal inilah yang memicu ketegangan hebat dengan Sultan Hamengku Buwono II, yang lantas memuncak saat Daendels mengubah radikal tata krama diplomatik menuntut posisi Gubernur Jenderal setara dengan raja-raja Jawa.
"Hal inilah yang melukai martabat Sultan HB II dan memicu api perlawanan sebelum Inggris tiba," urai Prof. Djoko melalui paparan ilmiahnya dalam agenda Seminar Nasional bertajuk "Jejak Pahlawan Sultan Hamengku Buwono II", Senin (30/3/2026) lalu.
Situasi panas ini kemudian dimanfaatkan oleh Thomas Stamford Raffles dari Inggris untuk menundukkan penguasa lokal paling vokal melawan kolonialisme, yakni Sri Sultan HB II.
Baca juga: Pemkot Yogyakarta Hanya Ajukan 36 Formasi CPNS 2026, Ini Alasannya
Nama Geger Sepehi sendiri merujuk pada tentara bayaran asal India, Sepoy, yang dibawa oleh Inggris (EIC), sebagai strategi untuk meminimalisir korban di pihak kulit putih, sekaligus memamerkan kekuasaan mereka di Asia.
Sementara. Dr. Harto Juwono, pakar sejarah dari Universitas Sebelas Maret (UNS), menyoroti peristiwa 1812 merupakan tragedi budaya yang direncanakan secara sistematis untuk menghancurkan legitimasi politik dan intelektual Keraton Yogyakarta.
"Sri Sultan HB II secara konsisten menjadi simbol 'anti-asing', baik terhadap Prancis-Belanda maupun terhadap Inggris," tegasnya, dalam gelaran yang sama.
"Berdasarkan data sejarah yang dihimpun dari berbagai arsip di London, Den Haag, hingga Jakarta, perjuangan Sultan HB II diwarnai dengan konflik hukum dan politik yang tajam melawan kolonialisme," imbuh Harto.
Ketua Yayasan Vasatii Socaning Lokika sekaligus Perwakilan Trah Sultan HB II, Fajar Bagoes Poetranto, menyebut, bahwa Sultan HB II adalah sosok yang teguh menjaga martabat negeri meski harus kehilangan takhta secara paksa.
Bagi leluhurnya tersebut, tunduk pada administrasi dan kekuatam Barat merupakan penghinaan terhadap harga diri dan budaya turun-temurun di tanah Jawa
"Dalam Geger Sepehi, tentara Sepoy dari India yang dipekerjakan Inggris menjadi ujung tombak penyerbuan ke dalam Keraton. Selama 20-24 Juni 1812, ribuan naskah kuno, pusaka, dan perhiasan Keraton dijarah, dan kini banyak tersimpan di museum Eropa," cetusnya. (*)