TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Beredar video viral di media sosial seorang pria yang berusaha memadamkan kendaraan yang terbakar di area SPBU Sriwijaya Semarang menggunakan kain hitam yang sudah basah.
Video tersebut berdurasi 27 detik, yang memuat tulisan kronologi kejadian sebagai berikut :
Maaf ya gabisa bales satu-satu, yang tanya kenapa kok jahat pom-nya ini kujelasin kronologinya.
Jadi waktu habis isi bensin, motor saya keluar api. Mungkin konslet di pengapian/kelistrikan.
Baca juga: Link Live Streaming Mallorca vs Real Madrid, Momentum Mengejar Barcelona
Baca juga: "Tak Bisa Seperti Pemadam Kebakaran" Gubernur Jateng Beri Arahan Penanganan Banjir Demak
Nah saya lari ke orang pom, mohon agar dipadamkan menggunakan APAR, tetapi pihak pom tidak boleh dengan alasan mahal alias dipersulit.
Padahal apar itu gak seberapa harganya, lebih baik kehilangan 1–2 jt daripada harus ilang 14 jt.
Nah saya padamkan sendiri tanpa bantuan mereka. Gak ada yang mendekat, malah mereka bilang jauhin motornya dari pom sambil ditarik.
“Kalau bahaya kenapa enggak dipadamkan?” Padahal itu tanggung jawab pom, karena secepat mungkin kalau ada api pihak pom harus memadamkan.
Warga yang di situ pun ikut teriak, “Gunane apar iku ngopo, opo aneh.”
Setelah itu pihak pom telepon manajer. Setelah tinggal rangka dan hangus baru apar dipake. Kok enggak dari tadi, nurani aja.
Singkat cerita, pihak polisi datang karena ada laporan warga. Nah saya ditanya-tanya, dan polisi ngasih solusi buat laporan ke polsek terdekat.
Pihak pom akan kena karena mempersulit. Ngawur orang di pom, lihat tok tanpa bantuin atau usaha.
Kalau saya tahu, pasti saya padamkan langsung tanpa basa-basi kata polisi.
Ya mungkin kalau dari saya ikhlas, tapi untuk kata-kata pihak pom menyakitkan sekali.
Gak ada hati nurani atau inisiatif bantuin. Udah ikhlas tapi gak bakal lupa sama kejadian ini.
Kronologi Versi Pertamina
Adanya hal tersebut Area Manager Communications, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, menjelaskan kronologi berdasarkan rekaman CCTV.
Sepeda motor tersebut datang ke SPBU dalam kondisi sudah tidak menyala dan dituntun.
Setelah itu, konsumen mengisi BBM jenis Pertamax.
“Posisi di SPBU Sriwijaya itu, motor berada di belakang pompa, sementara bagian depan dekat jalan raya digunakan untuk mobil.
Setelah pengisian, motor dituntun ke pintu keluar,” ujar Taufiq, Sabtu (4/4/2026).
Di titik keluar inilah masalah muncul.
Motor tidak kunjung menyala, lalu kedua orang tersebut terlihat mengutak-atik kendaraan.
Dugaan sementara, kata dia, bukan karena kehabisan bahan bakar, melainkan faktor kelistrikan atau komponen kendaraan.
“Dari CCTV terlihat ada percikan api dari mesin saat diutak-atik.
Pada saat itu, pandangan operator terdekat tertutup mobil atau kendaraan yang sedang dilayani,” jelasnya.
Taufiq menegaskan, saat terdengar teriakan, operator tidak serta-merta meninggalkan pos.
Ia terlebih dahulu memastikan keamanan di dispenser tempatnya bertugas, sebelum kemudian berlari membawa alat pemadam api ringan (APAR).
“Secara prosedur, operator harus memastikan area kerja aman terlebih dahulu.
Misalnya masih ada pengisian kendaraan, itu harus diamankan agar tidak menimbulkan risiko lebih besar seperti tumpahan BBM,” tegasnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa petugas enggan membantu.
Menurutnya, dalam situasi darurat, prinsip yang dipegang adalah kemanusiaan, bukan perhitungan biaya.
“Kami tidak pernah meminta ganti rugi kepada konsumen atas penggunaan fasilitas seperti APAR dalam kondisi darurat. Itu bagian dari respons kemanusiaan,” katanya.
Terkait penggunaan APAR, Taufiq menyebut secara prinsip bisa digunakan siapa saja.
Namun dalam praktiknya, masyarakat cenderung menyerahkan kepada operator karena mereka telah dibekali pelatihan keselamatan.
“Operator sudah dilatih untuk penanganan awal kebakaran di SPBU. Jadi wajar kalau masyarakat langsung meminta bantuan petugas,” ujarnya.
Pertamina juga mengimbau masyarakat untuk memastikan kondisi kendaraan sebelum mengisi BBM.
Sebab, tidak semua masalah kendaraan berkaitan dengan bahan bakar.
“Ini musibah yang bisa terjadi kapan saja. Penting bagi pengguna untuk memastikan kondisi kendaraan, terutama sistem kelistrikan dan komponen lainnya,” pungkasnya. (*)