TRIBUNNEWS.COM – Liverpool harus menelan pil pahit setelah dibantai Manchester City dengan skor telak 4-0 pada babak perempat final Piala FA, Sabtu (4/4/2026) di Etihad Stadium.
Erling Haaland tampil sebagai pembeda setelah mencetak hattrick. Sementara satu gol lainnya diukir oleh Antoine Semenyo.
Kekalahan ini semakin mempertegas inkonsistensi performa The Reds sepanjang musim 2025/2026.
Liverpool kini telah kalah 15 pertandingan di semua kompetisi musim ini, kekalahan terbanyak mereka dalam satu musim sejak 2014/2015, ketika The Reds kalah 18 pertandingan di bawah asuhan Brendan Rodgers.
Pelatih Liverpool, Arne Slot, mengungkapkan bahwa timnya sebenarnya memulai laga dengan cukup baik.
Namun, kegagalan dalam memanfaatkan peluang serta kesalahan fatal di lini belakang menjadi penyebab utama kekalahan telak tersebut.
“Sangat mengecewakan. Bukan hanya karena tersingkir, tetapi juga cara tersingkirnya, hasilnya, dan skornya,” ujar Slot kepada TNT Sports.
Slot menilai bahwa pertandingan berjalan relatif seimbang di awal, hingga momen krusial terjadi saat Manchester City mendapatkan penalti yang mengubah jalannya laga.
Menurut Slot, persoalan klasik Liverpool musim ini kembali terlihat jelas, yakni buruknya penyelesaian akhir meski mampu menciptakan peluang.
“Selama 35 menit pertama, saya melihat tim yang ingin saya lihat. Tetapi 20 menit berikutnya, kami harus bertahan jauh lebih baik dari yang kami lakukan hari ini," ucap alasan Arne Slot.
Gol demi gol yang bersarang ke gawang Liverpool setelah momen tersebut membuat mental tim runtuh, sekaligus memperlihatkan rapuhnya lini pertahanan mereka.
Situasi semakin menyakitkan ketika Mohamed Salah gagal mengeksekusi penalti saat skor sudah 4-0.
Momen tersebut seolah merangkum seluruh permasalahan Liverpool musim ini, kurang tajam di depan dan kehilangan kepercayaan diri.
Baca juga: Real Madrid Terpuruk, 2025/2026 Jadi Musim Terburuk Kedua Sejak 2009, Arbeloa: Maaf
Tak hanya itu, sebagian besar pendukung Liverpool yang hadir di stadion bahkan memilih meninggalkan pertandingan sebelum peluit akhir dibunyikan sebagai bentuk kekecewaan mereka.
Meski tersingkir dari Piala FA, Liverpool masih memiliki peluang untuk menyelamatkan musim di ajang Liga Champions. Mereka dijadwalkan menghadapi Paris Saint-Germain pada 9 April 2026.
“Sangat besar dan sangat penting. Tidak setiap musim Anda bermain di perempat final Liga Champions," kata Arne Slot.
Ia juga menambahkan bahwa selain mengejar trofi, Liverpool masih berjuang untuk mengamankan posisi agar bisa kembali tampil di Liga Champions musim depan.
Gelandang Liverpool, Dominik Szoboszlai, memberikan pernyataan jujur yang mencerminkan kondisi internal tim saat ini.
“Semangat juang tidak cukup, mentalitas tidak cukup. Sejujurnya, tidak satu pun dari kami tampil seperti yang seharusnya.”
Ia menegaskan bahwa tim sedang berada dalam masa sulit, namun tetap harus bersatu untuk bangkit.
Kekalahan telak ini menjadi pukulan telak bagi Liverpool yang sebelumnya juga mengalami penurunan performa di liga domestik.
Dengan peluang finis di lima besar yang semakin terancam dan tersingkir dari Piala FA, tekanan kini semakin besar.
Liga Champions menjadi harapan terakhir bagi The Reds untuk menyelamatkan musim.
Namun, jika tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin musim 2025/2026 akan berakhir sebagai salah satu periode paling mengecewakan dalam beberapa tahun terakhir bagi klub Merseyside tersebut.
(Tribunnews.com/Ali)