TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA – Cahaya lilin berkelip di antara deretan makam di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kristen Yusuf Arimatea Kilometer 12 Palangka Raya, Sabtu (4/4/2026) malam.
Sekitar pukul 22.00 WIB, area pemakaman masih dipadati peziarah.
Di antara barisan makam, keluarga terlihat duduk berdekatan, menabur bunga, menyalakan lilin, lalu berdoa dalam suasana yang tenang.
Baca juga: Mengenang Suka Cita Paskah dengan Mereka yang Pergi Lebih Dulu
Baca juga: 1.500 Umat Padati Vigili Paskah di Gereja Santa Maria Katedral Palangka Raya
Beberapa pengunjung membawa tikar, duduk lebih lama di samping pusara keluarga.
Suara percakapan terdengar pelan, bercampur dengan langkah kaki pengunjung yang terus berdatangan silih berganti.
Menjelang pukul 23.00 WIB, arus kendaraan di sekitar kawasan mulai berkurang. Jalan menuju TPU Km 12 yang sebelumnya padat perlahan menjadi lebih lengang, meski di dalam area pemakaman aktivitas tetap ramai.
Di tengah suasana itu, Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin datang ke lokasi.
Ia tidak hanya berdiri memantau, tetapi berjalan menyusuri area pemakaman, berhenti di beberapa titik, menyapa warga, hingga berbincang langsung dengan peziarah.
Sesekali, ia terlihat menanyakan asal pengunjung serta keluarga yang diziarahi.
Fairid juga hadir bersama Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan serta Kapolresta Palangka Raya Kombes Pol Dedy Supriadi.
“Pada malam hari ini tadi saya bersama Pak Kapolda memantau kegiatan Paskah di pemakaman umum kilometer 12 ini,” ujarnya.
Ia mengatakan kehadirannya untuk memastikan masyarakat dapat menjalankan tradisi Paskah dengan nyaman.
“Saya hanya memastikan supaya saudara-saudara kita bisa melaksanakan tradisi Paskah ini dengan nyaman,” katanya.
Di sela pemantauan tersebut, arus peziarah masih terus berdatangan. Sebagian datang bersama keluarga besar, menjadikan momen ini bukan hanya untuk berziarah, tetapi juga berkumpul.
Salah satu peziarah, Nani (42), warga Menteng, datang bersama keluarga besarnya.
Ia mengatakan sudah berada di lokasi sejak sore hari.
“Tadi kami datang jam 3 sore, itu pun sudah padat di kuburan,” ujarnya.
Menurutnya, momen Paskah menjadi kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga, termasuk yang datang dari luar daerah seperti Sukamara dan Lamandau.
“Kami berkunjung ke orang tua kami. Semoga Paskah ini kami semua sehat dan tahun depan bisa datang lagi,” katanya.
Ia menyebut, sebagian besar anggota keluarga memang tidak lagi tinggal di Palangka Raya.
“Semua anak orang tua kami sudah jauh, tidak ada yang di sini. Jadi momen ini sekalian berkumpul,” tambahnya.
Di tengah gelapnya malam, ribuan lilin yang menyala di atas makam menciptakan suasana hangat sekaligus khidmat.
Bagi umat Kristiani, tradisi ini bukan hanya tentang ziarah, tetapi juga cara mengenang orang-orang terkasih yang telah tiada, sekaligus merayakan harapan kebangkitan.
Malam itu, TPU Km 12 tidak sekadar menjadi tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga ruang berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga ingatan akan keluarga.