Refleksi Jumat Agung: Paradoks Kebenaran Absolutisme vs Relativisme
Rizali Posumah April 05, 2026 12:22 PM

 

Oleh: Ferdinand Dumais, Anggota DPRD Kota Manado periode 2024–2029

Pertanyaan Pilatus kepada Yesus mengenai "Apa itu kebenaran?" saat proses pengadilan menjadi pertanyaan sepanjang masa. 

Dialog antara Yesus dan Pilatus bukan sekadar prosedur hukum, melainkan dialog paling fundamental dalam sejarah pemikiran teologi dan filsafat dunia.

Namun, kebenaran apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Yesus dan Pilatus? Bagaimana konteksnya dalam realitas kehidupan kita hari ini?

Diskursus ini mendaraskan dua jenis kebenaran: Kebenaran Absolut dan Kebenaran Relatif. Keduanya menyandang status "kebenaran", namun metode berpikir yang berbeda menjadikannya sebuah paradoks. Kebenaran yang Mutlak "digugat" oleh kebenaran Relatif; Kebenaran Induk diganggu oleh turunannya; dan Kebenaran Ilahi dipertanyakan oleh kebenaran manusiawi.

Paradoks ini terlihat dalam beberapa poin berikut:

Kebenaran yang Tak Setara: Yesus menyatakan kebenaran yang datang dari Allah (Kebenaran Mutlak).

Sebaliknya, pertanyaan Pilatus, "Apa itu kebenaran?" (Yohanes 18:38), mencerminkan pandangan pragmatis, relatif, dan politis.

Kepentingan Politik vs. Nurani: Meski Pilatus menyadari Yesus tidak bersalah, ia menyerah pada tekanan publik.

Di sini, kebenaran sesungguhnya dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan yang berujung pada vonis penyaliban.

Dua Kerajaan yang Berbenturan: Yesus mewakili Kerajaan Surgawi yang berlandaskan hukum cinta kasih, sementara Pilatus mewakili Kerajaan Dunia (Roma) yang mengandalkan kekuatan fisik.

Pilatus menggunakan kekuasaan untuk mempertahankan status quo, sedangkan Yesus menggunakan ketaatan untuk menunjukkan kebenaran.

Ironi Barabas: Yesus, Sang Kebenaran, disalibkan; sementara Barabas, seorang pemberontak, dibebaskan.

Ada paradoks nama di sini: Bar-Abba dalam bahasa Aram berarti "Anak Bapa". Pilatus menyamakan Sang Putra Bapa yang sejati dengan "anak bapa" yang merupakan penjahat demi memuaskan massa.

Pilatus mencoba menggugat Kebenaran Ilahi.

Bagi pandangan duniawi yang dangkal, politik "cuci tangan" Pilatus tampak seperti kemenangan.

Namun sesungguhnya, Pilatus kalah telak. Ia membatalkan kebenaran dalam dirinya, melanggar sumpah, dan membungkam hati nurani demi stabilitas politik yang semu.

Kajian Biblis & Filosofis

Secara Biblis (Yohanes 14:6; 18:36-37):

Yesus menegaskan bahwa misi-Nya ke dunia adalah untuk memberi kesaksian tentang Kebenaran.

 Kebenaran itu bukanlah konsep abstrak, melainkan diri-Nya sendiri.

Karena Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini, maka Kebenaran-Nya bersifat transenden dan surgawi. Setiap orang yang berasal dari Kebenaran akan mengenali dan mendengarkan suara-Nya.

Secara Filosofis: Pertanyaan Pilatus mencerminkan pandangan pra-postmodernisme, di mana kebenaran dianggap tidak independen dan bergantung pada perspektif.

Koherensi dan Ontologi: Kebenaran yang ditawarkan Yesus memiliki kesatuan (koherensi) antara perkataan dan keberadaan-Nya. Secara ontologis, Yesus menyatakan hakikat Kebenaran di depan Pilatus, namun Pilatus gagal memahaminya karena terjebak dalam relativisme.

Kebebasan vs. Tekanan: Kebenaran mutlak versi Yesus membebaskan manusia dari perhambaan dosa, sementara "kebenaran" versi Pilatus justru tunduk pada tekanan publik.

Saya sepakat dengan Plato dalam Theory of Forms bahwa Kebaikan dan Kebenaran tertinggi bersifat mutlak dan menjadi tujuan akhir filsafat. Saya juga berdiri bersama Immanuel Kant bahwa moralitas harus dibangun di atas kewajiban (Imperatif Kategoris)—di mana manusia adalah tujuan, bukan alat.

Dalam konteks dialog ini, saya mengkritik sikap Pilatus dan pandangan perspektivisme Friedrich Nietzsche yang melawan moralitas absolut.

Saya berpendapat bahwa Kebenaran Ilahi adalah "rumah" bagi etika dan moralitas yang melampaui kebenaran relatif.

Ada bahaya besar ketika kebenaran relatif diagungkan; ia hanya akan melahirkan "Sengkuni-Sengkuni Kebenaran" yang pada akhirnya berujung pada ketidakbenaran yang destruktif.

Selamat merayakan Jumat Agung dan menyongsong kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Mari menuju transformasi melalui Kebenaran Absolut.

Saat malam Vigili Paskah

Christus Surrexit – Surrexit Vere, Alleluja!

(Kristus Bangkit – Dia Benar-benar Bangkit, Haleluya!)

Pascha Nostrum Part 3 Salam Absolutisme, FD brurdewan. (Art) 

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.