TRIBUNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan keberhasilan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) tempur yang disebutnya sebagai salah satu yang paling berani dalam sejarah militer AS.
Seorang perwira spesialis senjata berpangkat Kolonel berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat setelah jet tempur F-15E Strike Eagle yang ia awakinya ditembak jatuh di wilayah barat daya Iran, Jumat lalu.
"KITA BERHASIL MENDAPATKANNYA! Militer Amerika Serikat baru saja melakukan salah satu Operasi Pencarian dan Penyelamatan paling berani dalam sejarah AS untuk salah satu kru hebat kita," tulis Trump melalui platform Truth Social, Minggu pagi (5/4/2026).
Jet tempur F-15E tersebut jatuh pada hari Jumat di wilayah Provinsi Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad yang bergunung-gunung.
Dua awak pesawat berhasil melontarkan diri sebelum pesawat menghantam tanah.
Sementara satu kru telah diamankan lebih awal, perwira kedua sempat dinyatakan hilang dan memicu pencarian skala besar oleh militer Iran dan kelompok sipil setempat. Mereka menawarkan imbalan sebesar 60 ribu dolar AS atau sekira Rp 950 juta untuk penangkapannya.
Selama hampir 24 jam, perwira tersebut berhasil menghindari penangkapan dengan mengandalkan latihan Survival, Evasion, Resistance, and Escape (SERE).
Baca juga: 2 Jet Tempur AS Berhasil Ditembak Iran, Pilot Masih Hilang, Pertama Kali dalam Beberapa Dekade
Mengutip laporan The New York Times, pilot tersebut bergerak menjauh dari puing pesawat menuju dataran tinggi untuk bersembunyi.
Dengan berbekal pistol dan radio enkripsi, ia memberikan sinyal lokasi kepada komando pusat AS sementara pasukan darat Iran menyisir area tersebut.
Operasi penyelamatan yang dilakukan pada Sabtu malam berlangsung sangat kompleks dan melibatkan ratusan pasukan operasi khusus, puluhan jet tempur, helikopter, serta dukungan intelijen ruang angkasa.
Pasukan elit AS harus terlibat dalam baku tembak sengit dengan pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) dan milisi Basij yang telah mendekati posisi pilot.
Guna mengamankan jalur evakuasi, pesawat penyerang AS membombardir konvoi pasukan Iran yang mencoba mengepung sang pilot.
Meski operasi ini berhasil mengekstraksi seluruh tim penyelamat dan pilot ke Kuwait tanpa ada personel penyelamat yang tewas, misi ini tidak tanpa kerugian.
Dua helikopter penyelamat dilaporkan terkena tembakan musuh, dan sebuah pesawat penyerang A-10 Thunderbolt II jatuh setelah terkena serangan darat, meski pilotnya berhasil selamat.
Dua pesawat angkut AS juga sempat tertahan di pangkalan darurat di dalam wilayah Iran.
Menghindari teknologi sensitif jatuh ke tangan lawan, komandan operasi memerintahkan penghancuran pesawat tersebut di lokasi sebelum tim beralih ke pesawat pengganti untuk keluar dari wilayah Iran.
Keberhasilan evakuasi ini menjadi sangat krusial mengingat protokol ketat militer AS dalam dokumen Personnel Recovery Joint Publication.
Dokumen tersebut menegaskan bahwa setiap personel yang jatuh di wilayah musuh adalah prioritas utama karena risiko intelijen dan propaganda.
Secara historis, tawanan perang dari militer AS sering kali dieksploitasi oleh lawan untuk mendapatkan informasi rahasia melalui tekanan fisik atau digunakan sebagai posisi tawar dalam negosiasi diplomatik.
Selain nyawa personel, penghancuran puing pesawat seperti yang dilakukan pada misi ini bertujuan mencegah musuh melakukan rekayasa balik (reverse-engineering) terhadap sistem radar, komunikasi, dan teknologi persenjataan canggih AS.
"Pejuang berani ini berada di belakang garis musuh, diburu di pegunungan Iran yang berbahaya, namun ia tidak pernah benar-benar sendirian karena seluruh komando memantau lokasinya 24 jam sehari," tambah Trump.
Saat ini, perwira yang mengalami luka akibat proses pelontaran tersebut tengah menjalani perawatan medis di Kuwait.
Militer AS menyatakan bahwa meskipun mengalami cedera, kondisi sang Kolonel dipastikan akan pulih sepenuhnya.