Begadang Jadi Budaya: Ancaman Nyata bagi Kesehatan Remaja
Eddy Fitriadi April 05, 2026 05:03 PM

Oleh:

Ns. Ela Fadilla, S.Kep, Manager Multimedia GEN-A

SERAMBINEWS.COM - Pukul 02.00 dini hari, lampu di dalam kamar masih menyala. Layar ponsel tidak kunjung mati, notifikasi terus muncul, dan video berganti tanpa jeda. Tanpa disadari, waktu untuk beristirahat pun perlahan-lahan terambil. Bagi mayoritas remaja, ini sudah bukan lagi momen sesekali, melainkan bagian dari rutinitas sehari-hari. Pertanyaannya, sampai kapan kebiasaan begadang ini dianggap normal, padahal dampaknya jelas terlihat bagi kesehatan?

Fenomena ini menunjukkan bahwa begadang kini telah menjadi sebuah budaya di kalangan remaja. Aktivitas seperti berkutat di media sosial, menonton film, hingga menyelesaikan pekerjaan rumah dilakukan hingga larut malam. Yang terjadi bukan sekadar perubahan pola tidur, tetapi pergeseran pola hidup yang mengabaikan kebutuhan dasar tubuh. Sebenarnya, tidur sangat penting untuk menjaga keseimbangan fisik, mental, dan emosional seseorang.

Remaja merupakan kelompok yang paling terpengaruh karena mereka berada di masa pertumbuhan yang sangat penting. Pada periode ini, tubuh memerlukan waktu istirahat yang cukup untuk mendukung perkembangan otak, memperbaiki sel-sel tubuh, serta menjaga keseimbangan hormon.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia dan berbagai penelitian kesehatan lainnya, remaja seharusnya mendapatkan waktu tidur sekitar 8–10 jam setiap malam. Namun, kenyataan ternyata sangat berbeda. Data menunjukkan bahwa sebagian besar remaja tidak mencapai waktu tidur yang disarankan. Bahkan, sekitar 6 dari 10 siswa sekolah menengah pertama dan 7 dari 10 siswa sekolah menengah atas dikatakan tidak mendapatkan cukup tidur.

Lebih jauh lagi, kondisi di lapangan menunjukkan hal yang semakin mengkhawatirkan. Sebuah penelitian di Banda Aceh menemukan bahwa sekitar 64 persen remaja memiliki kualitas tidur yang buruk, bahkan angka insomnia pada remaja bisa mencapai 67 % . Angka ini menunjukkan bahwa masalah tidur bukan lagi kasus individu, melainkan telah menjadi fenomena yang meluas di kalangan remaja.

Yang lebih mengkhawatirkan, penelitian terbaru juga menyebutkan bahwa lebih dari setengah remaja tidur kurang dari 5 jam setiap malam. Kebiasaan begadang ini umumnya terjadi dari malam hingga dini hari, khususnya setelah pukul 22.00. Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena ini semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi digital yang pesat.

Remaja kini tinggal di dunia yang tidak pernah "tidur," di mana hiburan dan interaksi sosial bisa diakses kapan saja. Ditambah lagi, perubahan biologis yang terjadi pada remaja membuat mereka cenderung tidur lebih larut, yang memperburuk kebiasaan begadang ini.

Jika dilihat dari sudut pandang penyebabnya, ada beberapa faktor utama yang mendorong budaya begadang tersebut. Penggunaan teknologi menjadi faktor utama. Paparan layar yang berlebihan, khususnya lebih dari 4 jam dalam sehari, terbukti berhubungan dengan meningkatnya risiko masalah mental seperti kecemasan dan depresi.

Selain itu, tekanan akademis juga memaksa banyak remaja untuk mengorbankan waktu tidur demi menyelesaikan tugas atau belajar. Lingkungan sosial turut memperkuat kebiasaan ini, di mana begadang dianggap normal bahkan "keren." Sayangnya, kurangnya pemahaman menyebabkan remaja tidak menyadari bahwa kebiasaan ini dapat menimbulkan dampak serius.

Dampak dari begadang tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga dalam jangka panjang. Dalam waktu singkat, kurang tidur dapat mengurangi daya tahan tubuh sehingga remaja lebih rentan terhadap penyakit. Fungsi otak pun terganggu, yang berdampak pada menurunnya konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan berpikir.

Hal ini tentu akan berpengaruh langsung pada prestasi akademik. Sebuah penelitian bahkan menunjukkan bahwa remaja yang mendapatkan tidur yang cukup memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik, termasuk dalam membaca dan pemecahan masalah.

Dari aspek kesehatan mental, konsekuensinya juga sangat signifikan. Kurang tidur memiliki hubungan yang kuat dengan meningkatnya kemungkinan mengalami stres, kecemasan, hingga depresi. Remaja yang tidak mendapatkan cukup tidur cenderung lebih rentan secara emosional, mudah tersulut emosi, dan kesulitan dalam mengendalikan reaksi diri.

Bahkan, dalam beberapa situasi, kurang tidur bisa berhubungan dengan perilaku berisiko seperti penyalahgunaan zat, tindakan kekerasan, dan pikiran untuk melukai diri sendiri. Dalam jangka panjang, kebiasaan begadang bisa memicu gangguan pada metabolisme tubuh, obesitas, serta penyakit kronis seperti diabetes.

Baca juga: Manfaat Jalan Kaki 10 Ribu Langkah per Hari, Baik Untuk Jantung dan Kesehatan Mental

Menghadapi realitas ini, saatnya untuk tidak lagi memandang begadang sebagai sesuatu yang biasa. Budaya ini perlu dikritisi dan diubah. Remaja harus memahami bahwa tidur bukanlah waktu yang terbuang, tetapi sebuah kebutuhan fundamental yang sangat penting untuk kesehatan mereka. Mengatur waktu dengan baik, mengurangi penggunaan gadget sebelum tidur, dan menjaga rutinitas tidur yang konsisten adalah langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan.

Peran orang tua dan lingkungan sangat krusial dalam menangani masalah ini. Orang tua harus memberikan pengawasan dan membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia dini. Sekolah juga perlu mempertimbangkan beban belajar siswa agar tidak memaksa mereka untuk terus begadang. Selain itu, edukasi mengenai pentingnya tidur harus terus disebarluaskan melalui berbagai media yang dekat dengan kehidupan remaja.

Pada akhirnya, begadang bukanlah sekadar kebiasaan yang sepele, melainkan ancaman serius bagi kesehatan remaja. Jika dibiarkan, budaya ini dapat memengaruhi kualitas generasi mendatang. Saatnya kita mengubah perspektif: tidur yang cukup bukanlah tanda kemalasan, melainkan investasi penting untuk kehidupan yang lebih sehat, produktif, dan seimbang.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.