TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Masjid Raya Sheikh Zayed Solo saat ini menjadi salah satu destinasi wisata religi paling populer di Kota Solo, Jawa Tengah.
Keindahan arsitektur yang megah serta nilai historisnya membuat Masjid Sheikh Zayed Solo selalu ramai dikunjungi wisatawan, terutama saat akhir pekan dan hari libur.
Baca juga: Asal Usul Risol Mayo, Camilan Favorit Warga Solo Raya yang Mudah Ditemukan di Tenongan
Masjid ini merupakan hadiah dari Uni Emirat Arab kepada Indonesia, yang diberikan langsung oleh Putra Mahkota Mohammed bin Zayed Al Nahyan.
Kehadirannya menjadi simbol persahabatan antara kedua negara sekaligus menambah daya tarik wisata religi di Solo.
Masjid Raya Sheikh Zayed berlokasi di Jalan A. Yani No.121, Kecamatan Banjarsari, Surakarta.
Masjid ini merupakan replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque yang terkenal di Abu Dhabi.
Pembangunan dimulai pada Mei 2021 dan rampung pada Oktober 2022.
Masjid ini kemudian diresmikan oleh Presiden Joko Widodo bersama Mohammed bin Zayed pada 14 November 2022, sebelum akhirnya dibuka untuk umum pada 1 Maret 2023.
Berdiri di atas lahan bekas depo Pertamina dengan luas bangunan sekitar 8.000 meter persegi, masjid ini mampu menampung hingga 10.000 jemaah.
Sejak dibuka, jumlah pengunjung terus meningkat dari berbagai daerah di Indonesia.
Kemegahan masjid ini terlihat dari desainnya yang menyerupai versi aslinya di Abu Dhabi.
Bangunan didominasi warna putih dengan ornamen khas Timur Tengah, kubah besar, serta lantai marmer yang menambah kesan elegan.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi destinasi wisata religi yang memberikan pengalaman spiritual sekaligus visual bagi pengunjung.
Pengelola masjid menerapkan sejumlah aturan demi menjaga kesucian dan ketertiban area.
Beberapa aturan yang wajib dipatuhi antara lain:
Seluruh area masjid juga dilengkapi kamera pengawas (CCTV) untuk memastikan aturan ditaati.
Ketentuan ini berlaku bagi semua pengunjung, termasuk non-Muslim.
Masjid ini dibangun dengan biaya sekitar Rp 278 miliar dan dilengkapi berbagai fasilitas modern.
Tersedia area toilet dan tempat wudhu yang terpisah antara laki-laki dan perempuan, yang berada di lantai bawah masjid.
Pengunjung harus menuruni tangga untuk mengakses fasilitas tersebut.
Selain itu, tersedia rak dan loker untuk menyimpan alas kaki, meskipun pengunjung tetap disarankan membawa tas sendiri untuk keamanan.
Jumlah pengunjung masjid meningkat signifikan saat akhir pekan dan hari libur, bahkan bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa.
Puncak keramaian biasanya terjadi pada pukul 11.00 hingga 20.00 WIB, terutama setelah salat Dzuhur hingga Maghrib.
Adapun jadwal operasional ruang utama salat adalah:
Senin–Jumat:
Sabtu–Minggu:
Di luar jam tersebut, area utama ditutup untuk proses pembersihan dan sterilisasi.
Menjelang pukul 22.00 WIB, petugas keamanan akan mengimbau pengunjung untuk meninggalkan area masjid.
Hal ini dilakukan agar petugas kebersihan dapat melakukan sterilisasi sebelum digunakan kembali untuk ibadah Subuh keesokan harinya.
Bagi jemaah yang ingin salat berjamaah, disarankan untuk berwudhu sebelum datang dan mengikuti arahan petugas terkait akses masuk ke ruang utama.
Baca juga: Jokowi di Solo Sebut Pemerintah Tahu Apa yang Harus Dilakukan Terkait Gugurnya 3 TNI di Lebanon
(*)