Inovasi biskuit cangkang telur karya mahasiswa USK ini pernah dibagikan kepada ribuan anak terdampak bencana sebagai upaya pemenuhan gizi.
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Beberapa bulan setelah bencana melanda sejumlah wilayah di Aceh, kehidupan masyarakat perlahan mulai kembali berjalan. Anak-anak sudah kembali ke sekolah, aktivitas harian pun berangsur pulih.
Namun, di balik proses pemulihan tersebut, masih tersimpan persoalan yang kerap luput dari perhatian.
Di banyak keluarga terdampak, anak-anak masih mengandalkan makanan yang tersedia seadanya. Apa yang ada, itulah yang dikonsumsi. Secara kasat mata, mereka tampak tidak kelaparan. Padahal, kondisi tersebut belum tentu mencerminkan kecukupan gizi.
Fenomena ini dikenal sebagai hidden hunger, atau kekurangan zat gizi mikro, yang sering terjadi tanpa disadari dan dapat berdampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak.
Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang dirilis melalui Antara, 13 Januari 2026, menggambarkan kondisi kesehatan anak-anak di wilayah terdampak bencana, salah satunya di Desa Sukajadi, Kabupaten Aceh Tamiang.
Tim Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Banda Aceh menemukan berbagai keluhan kesehatan yang umum terjadi pada anak-anak, seperti batuk, pilek, demam, diare hingga penyakit kulit.
Selain itu, hasil skrining status gizi juga menemukan adanya kasus gizi buruk, stunting dan gizi kurang pada balita.
Baca juga: Jadi Wakil Indonesia di Ajang Penemuan Kroasia, USK akan Andalkan Produk Biscatur
Dokter spesialis anak relawan TCK Kemenkes, dr. Hendri Azis, menyebutkan bahwa kondisi tersebut memang sering muncul pada anak-anak pascabencana.
“Keluhan yang paling banyak kami temukan adalah batuk, pilek, demam, gejala infeksi saluran pernapasan atas, diare serta penyakit kulit,” ujarnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa dampak bencana terhadap anak tidak berhenti saat masa darurat, tetapi dapat berlanjut hingga masa pemulihan.
Sementara itu, Dokter Spesialis Gizi Klinik RSU Cempaka Lima , dr. Mutia Winanda, MGizi, SpGK menilai bahwa tantangan terbesar dalam kondisi pascabencana adalah memastikan kualitas asupan gizi anak.
Menurutnya, anak-anak sering kali terlihat cukup makan, tetapi sebenarnya mengalami kekurangan zat gizi mikro.
“Anak tampak cukup makan dari segi jumlah, tetapi sebenarnya mengalami kekurangan zat gizi mikro,” ujar dr. Mutia kepada Serambinews.com, Minggu (5/4/2026).
Baca juga: Tim Biscatur USK Wakili Indonesia pada Ajang Internasional di Kroasia
Ia menjelaskan, makanan yang tersedia dalam situasi pascabencana umumnya lebih berfokus pada pemenuhan energi, sehingga didominasi karbohidrat. Sementara itu, asupan protein, vitamin dan mineral penting belum terpenuhi secara optimal.
Zat gizi yang paling sering kurang antara lain zat besi, kalsium, zinc, vitamin A dan vitamin D.
Padahal, mikronutrien tersebut berperan penting dalam mendukung pertumbuhan, menjaga daya tahan tubuh serta mencegah berbagai penyakit.
Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, anak berisiko mengalami gangguan tumbuh kembang.
Dalam situasi darurat hingga masa pemulihan, bantuan pangan memang menjadi hal yang sangat penting untuk memastikan masyarakat tidak mengalami kelaparan.
Namun, kualitas gizi sering kali belum menjadi perhatian utama.
Baca juga: Tuanku Muhammad Dipercaya Pimpin Komite Nasional Pencegahan Stunting Aceh
dr. Mutia kemudian ikut menyoroti bantuan pangan yang diberikan kepada anak-anak korban bencana, dimana bantuan tersebut mayoritas mengandung karbohidrat dibanding kandungan vitamin lainnya.
“Secara umum, bantuan makanan masih berfokus pada pemenuhan energi atau rasa kenyang di pengungsian waktu itu,” kata dr. Mutia.
Menurutnya, pendekatan ini penting pada tahap awal, tetapi perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kualitas nutrisi agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi.
Dalam kondisi keterbatasan akses pangan, fortifikasi pangan menjadi salah satu pendekatan yang dinilai efektif.
Fortifikasi merupakan proses penambahan zat gizi berupa vitamin dan mineral ke dalam makanan untuk meningkatkan nilai nutrisi.
Di Indonesia, makanan yang difortifikasi adalah produk utama yang meliputi tepung terigu dengan penambahan zat besi, seng, asam folat dan garam, ada juga minyak goreng yang diperkaya dengan vitamin A serta garam ditambah yodium hingga produk susu dan sereal sarapan.
Sementara dikutipdari KFI Indonesia, disebutkan program fortifikasi ini terbukti membantu menurunkan angka anemia, stunting, mendukung tumbuh kembang anak dan meningatkan kualitas hidup masyarakat.
“Pangan fortifikasi sangat penting, terutama dalam kondisi seperti pascabencana, karena mampu
menyediakan zat gizi esensial dalam bentuk yang praktis dan mudah didistribusikan,” jelas dr. Mutia.
Pendekatan ini dinilai dapat membantu menutup kekurangan mikronutrien pada anak-anak di wilayah rawan pangan, termasuk Aceh setelah pascabencana.
Salah satu inovasi fortifikasi pangan lokal hadir dari mahasiswa Universitas Syiah Kuala melalui produk Biscatur, atau biskuit cangkang telur, biskuit inovasi tinggi kalsium dan rendah gula yang telah terdaftar di DINKES PIRT.
Produk ini memanfaatkan limbah cangkang telur yang diolah menjadi tepung cangkang telur, menjadi sumber kalsium alami yang aman dikonsumsi.
Kalsium memiliki peran penting dalam pembentukan tulang dan gigi, serta mendukung fungsi otot dan saraf.
Kekurangan kalsium dalam jangka panjang dapat berdampak pada pertumbuhan yang tidak optimal.
Selain menggunakan bahan utama tepung cangkang telur, dikutip dari laman resminya, komposisi Biscatur ini menggunakan campuran susu kambing etawa yang kaya akan protein, asam laktat, kalsium, zinc, magnesium, vitamin rendah gula dan kolesterol.
Kalsium padacanagkang telur telah diolah secara signifikan sehingga meningkatkan densitas tulang tanpa mengendap dalam darah sehingga tidak berbahaya dikonsumsi sehari-hari.
Sementara kandugan gulanya menggunakan palm sugar sehingga idak meningkatkan kadar gula dalam darah dan rendah kalori.
Inovasi ini tidak hanya berhenti pada tahap pengembangan.
Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat pada Desember 2025, tim Universitas Syiah Kuala mendistribusikan sekitar 3.500 paket snack bergizi kepada anak-anak terdampak bencana di Aceh,
termasuk di Kabupaten Bireuen, Pidie Jaya, dan Aceh Tamiang.
Paket tersebut berisi berbagai makanan sehat, termasuk Biscatur, yang dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi anak di tengah keterbatasan akses pangan.
Distribusi dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran darurat dan dukungan psikososial bagi anak-anak.
Menurut dr. Mutia, inovasi seperti Biscatur dapat dikategorikan sebagai fortifikasi pangan lokal.
Pendekatan ini dinilai relevan karena memanfaatkan sumber daya yang tersedia, lebih mudah diterima masyarakat, serta berpotensi berkelanjutan.
Namun demikian, ia menekankan pentingnya memastikan keamanan pangan, proses pengolahan yang higienis, serta daya serap nutrisi agar manfaatnya optimal.
Pemulihan pascabencana tidak hanya soal membangun kembali infrastruktur, tetapi juga memastikan kualitas hidup masyarakat, termasuk anak-anak.
Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, persoalan hidden hunger menjadi tantangan yang tidak boleh diabaikan.
Dalam konteks ini, Biscatur tidak hanya menjadi inovasi pangan, tetapi juga contoh bagaimana fortifikasi pangan lokal dapat diintegrasikan dalam penanganan gizi anak di wilayah rawan pascabencana.
Di balik bentuknya yang sederhana, sepotong biskuit menyimpan harapan agar anak-anak tidak hanya kenyang, tetapi juga tumbuh sehat dan kuat di masa depan. (Serambinews.com/Firdha Ustin)