SURYA.co.id – Perang Iran menjadi mobilisasi finansial militer terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
Presiden AS, Donald Trump, mengajukan rancangan anggaran pertahanan sebesar 1,5 triliun dollar AS (sekitar Rp 25,5 kuadriliun) untuk tahun 2027 kepada Kongres AS.
Anggaran ini diajukan untuk memperkuat operasi militer, mengisi ulang stok persenjataan, serta mempertahankan kampanye militer Amerika Serikat di Iran.
Namun rencana ini memicu kritik keras di dalam negeri.
Senator Demokrat, Jeff Merkley, menyebut rencana tersebut tidak realistis.
"Ini hanyalah permohonan yang tidak realistis untuk mendapatkan lebih banyak uang untuk senjata dan bom, dan lebih sedikit untuk hal-hal yang dibutuhkan masyarakat, seperti perumahan, perawatan kesehatan, pendidikan, jalan raya, penelitian ilmiah, dan perlindungan lingkungan," jelas Jeff dikutip dari Reuters, Jumat (3/4/2026).
Banyak yang bertanya-tanya, untuk apa uang sebesar itu?
Angka kuadriliun ini mencerminkan persiapan perang total yang melibatkan seluruh lini teknologi tempur tercanggih, mulai dari dasar laut hingga ruang angkasa.
Anggaran jumbo tersebut sebagian besar dialokasikan untuk mobilisasi kekuatan tempur garis depan Amerika Serikat, mulai dari kapal induk hingga sistem pertahanan rudal.
Amerika Serikat kemungkinan akan menempatkan lebih dari satu Carrier Strike Group di kawasan Teluk Persia.
Operasi kapal induk membutuhkan biaya logistik harian yang sangat besar, termasuk bahan bakar kapal perang, operasional jet tempur, hingga logistik ribuan personel.
Anggaran ini juga mencakup kesiapan jet tempur F-35 serta pengerahan pembom siluman B-21 Raider.
Biaya satu jam terbang pesawat tempur generasi terbaru ini bisa setara harga mobil mewah, dan dalam perang modern, ratusan pesawat harus selalu dalam kondisi siaga.
Fokus utama lainnya adalah pengisian ulang rudal pencegat seperti Patriot dan THAAD.
Sistem ini sangat mahal, tetapi menjadi kunci untuk menangkis serangan rudal balistik Iran.
Selain itu, untuk meningkatkan anggaran militer, pemerintah AS juga berencana memangkas anggaran NASA sebesar 3,6 miliar dollar AS.
Reuters melaporkan bahwa Gedung Putih meminta pemotongan 23 persen untuk lembaga tersebut, termasuk pemotongan dana unit sains yang dapat membatalkan sekitar 40 program penelitian.
Jika dibandingkan, anggaran militer Amerika Serikat dan Iran sangat timpang, tetapi strategi yang digunakan sangat berbeda.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa Amerika unggul teknologi, sedangkan Iran unggul pada strategi perang biaya murah.
Konsep perang yang terjadi bukan lagi sekadar kuat vs lemah, tetapi mahal vs murah.
Dalam banyak simulasi perang modern, Amerika Serikat harus menembakkan rudal pencegat bernilai miliaran rupiah untuk menjatuhkan drone murah.
Jika Iran meluncurkan serangan drone dalam jumlah besar, biaya pertahanan Amerika bisa membengkak sangat cepat.
Iran juga memiliki keunggulan geografis di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia.
Biaya yang harus dikeluarkan Amerika Serikat untuk menjaga jalur ini tetap aman jauh lebih besar dibanding biaya yang dikeluarkan Iran untuk menebar ranjau laut atau menggunakan kapal cepat bersenjata.
Inilah yang membuat Iran sering disebut sebagai “lawan murah yang mahal dikalahkan”.
Anggaran 1,5 triliun dollar AS ini tidak hanya menjadi isu militer, tetapi juga isu ekonomi.
Angka tersebut memicu perdebatan besar di Kongres AS terkait defisit anggaran dan ketahanan ekonomi Amerika dalam jangka panjang.
Banyak pihak khawatir peningkatan anggaran militer besar-besaran dapat memicu inflasi dan memperbesar utang nasional, terutama jika konflik berlangsung lama.
Anggaran sebesar ini juga menandakan bahwa Amerika Serikat tidak bersiap untuk perang singkat, tetapi untuk konflik panjang yang bisa berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Pada akhirnya, Rp 25,5 kuadriliun bukan sekadar angka anggaran, tetapi merupakan pernyataan kekuatan secara finansial.
Amerika Serikat ingin menunjukkan bahwa mereka mampu memenangkan perang dengan keunggulan teknologi dan logistik.
Namun pertanyaannya kini bukan hanya soal siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang lebih tahan secara ekonomi.
Dunia kini menunggu, apakah modal raksasa ini cukup untuk menundukkan perlawanan Iran, atau justru menjadi beban ekonomi yang melemahkan dominasi Amerika Serikat sendiri.