Dampak Perang Iran-AS Sampai ke Lebak, Harga Plastik Naik Drastis di Pasar Rangkasbitung
Abdul Rosid April 06, 2026 06:01 PM

TRIBUNBANTEN.COM, LEBAK - Dampak konflik antara Iran dan Amerika Serikat mulai terasa hingga ke daerah, termasuk di Kabupaten Lebak, Banten.

Harga plastik di Pasar Rangkasbitung dilaporkan mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir, memaksa pedagang mengubah strategi agar tetap bisa bertahan tanpa menaikkan harga jual.

Sejumlah pedagang memilih mengurangi penggunaan kantong plastik saat melayani pembeli sebagai langkah efisiensi.

Baca juga: Intip Dosen Wanita di Toilet, Mahasiswa Untirta Banten Dipolisikan

Pedagang Akali dengan Kurangi Plastik

Meti, pedagang bumbu dapur di Pasar Rangkasbitung, mengaku harus mengubah pola pengemasan akibat lonjakan harga plastik. 

“Naiknya tinggi banget. Biasanya dari satu kilo dipisah jadi seperempat-seperempat, sekarang disatuin. Plastik lagi mahal,” kata Meti saat ditemui di Pasar Rangkasbitung, Senin (6/4/2026).

Ia menyebut harga satu ikat plastik yang berisi lima ball naik dari Rp45.000 menjadi Rp65.000.

Menurutnya, pengurangan penggunaan plastik menjadi pilihan agar tidak membebani konsumen.

"Kasian kalau naikin harga jualannya, gak tega ke ibu-ibu, kan yang naik harga plastiknya," kata dia.

Pengemasan Diubah, Barang Digabung

Hal serupa disampaikan Dadan, pedagang rempah-rempah di pasar yang sama. Ia mengungkapkan kenaikan harga plastik mulai terasa sejak akhir Maret 2026.

“Sekarang plastik pada naik semua sejak tanggal 31. Yang biasa Rp 9.000 per pak, sekarang jadi Rp 15.000,” kata Dadan. 

Menurut dia, kondisi ini membuat pedagang harus mengubah pola pengemasan. 

“Biasanya satu dibungkus, sekarang bisa satu plastik untuk dua barang. Pembeli juga banyak yang minta disatuin karena ngirit,” ujarnya.

Dalam kondisi normal, Dadan mengaku bisa menghabiskan hingga lima pak plastik per hari. Namun kini penggunaannya dikurangi untuk menekan biaya.

Kenaikan Dipicu Kelangkaan Bahan Baku

Dari sisi penjual plastik, kenaikan harga plastik disebut sudah terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Irpan (25), karyawan toko plastik di Pasar Tradisional Sampay, Kecamatan Warunggunung, mengatakan hampir seluruh jenis plastik mengalami kenaikan dalam dua minggu terakhir.

“Hampir semua jenis plastik naik. Plastik es, kantong, pokoknya bahan plastik naik semua,” ujar Irpan.

Ia menjelaskan, kenaikan diduga dipicu kelangkaan bahan baku di tingkat produsen. 

“Katanya bahan bakunya susah didapat, jadi harga ikut naik,” katanya.

Irpan menambahkan, beberapa jenis plastik mengalami kenaikan cukup tajam. 

Plastik es naik dari Rp 18.000 menjadi Rp 22.000 per pak, sementara kantong plastik kecil dari Rp 15.000 menjadi Rp 20.000.

Kenaikan paling signifikan terjadi pada plastik jenis polypropylene (PP) atau plastik bening yang banyak digunakan pelaku UMKM.

Harga plastik ini naik dari Rp 32.000 menjadi sekitar Rp 45.000 hingga Rp 48.000 per kilogram. 

“Rata-rata naik sekitar Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per pak. Tapi yang paling besar naiknya itu plastik jenis PP,” ujarnya.

Dampak Perang Iran-AS 

Lonjakan harga plastik secara global memang dipicu konflik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.

Gangguan di jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi utama minyak dunia mendorong kenaikan harga minyak mentah dan gas.  

Padahal, lebih dari 99 persen bahan baku plastik berasal dari minyak bumi dan gas alam. 

Akibatnya, biaya produksi plastik ikut melonjak, bahkan kenaikan harga plastik secara global diperkirakan mencapai 40 hingga 70 persen dan berpotensi berlangsung selama beberapa bulan.  

Selain itu, terganggunya pasokan petrokimia dan distribusi energi global juga membuat bahan baku plastik semakin sulit diperoleh dan mahal, sehingga harga di tingkat pedagang ikut terdorong naik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.