SURYA.co.id, SURABAYA - Gelaran Muktamar Nahdlatul Ulama yang akan berlangsung tahun ini diharapkan bisa kondusif meskipun potensi dinamika tentu ada mengingat NU menjadi organisasi Islam terbesar. Harapannya, Muktamar berlangsung adem ayem.
Harapan tersebut disampaikan langsung oleh Mohammad Nasih Aschal yang merupakan cicit Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, Senin (6/4/2026).
Sebagai informasi, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan merupakan salah satu ulama besar di nusantara.
Baca juga: Jelang Muktamar, Gus Fahrur : Kiai Miftachul Akhyar Pilihan Paling Rasional sebagai Rais Aam PBNU
Syaikhona Kholil juga dikenal sebagai inspirator pendirian NU.
"Harapan khusus dari saya sebenarnya pelaksanaannya bisa berjalan dengan baik," kata Ra Nasih kepada SURYA.co.id, saat dikonfirmasi di Surabaya, Senin (6/4/2026).
Dalam organisasi NU, Muktamar memang menjadi gawe besar bagi nahdliyin.
Muktamar adalah forum permusyawaratan tertinggi NU yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali dengan memiliki sejumlah agenda strategis.
Di antaranya, meliputi evaluasi kinerja kepengurusan, penyusunan program kerja, pembahasan masalah keagamaan/kebangsaan (Bahtsul Masail), serta pemilihan Rais 'Aam dan Ketua Umum PBNU.
Ini adalah ajang penentuan arah organisasi. Ra Nasih yang juga Anggota DPRD Jatim ini menjelaskan, melalui forum Muktamar ia ingin agar berbagai persoalan bisa diselesaikan dengan baik.
Sehingga, masyarakat tetap percaya pada NU sebagai ormas Islam yang menjadi solusi di masyarakat. "NU itu ya dari dulu sebenarnya bisa menyelesaikan masalahnya," jelas Ra Nasih yang juga Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD Jatim.
Terkait lokasi penyelenggaraan Muktamar, Ra Nasih mendukung penuh dimanapun daerah yang akan dipilih. Utamanya, Jawa Timur sebagai salah satu kandidat kuat pelaksanaan Muktamar pada tahun ini.
Namun, Ra Nasih menegaskan bahwa pemilihan lokasi Muktamar harus didasarkan pada aspirasi mayoritas PCNU. Dimanapun tentu harus didukung termasuk apakah di Jawa Timur atau di Bangkalan.
"Harus didasarkan kepada dalam tanda kutip keinginan mayoritas dari seluruh PCNU di Indonesia," jelas Ra Nasih.
Saat disinggung mengenai calon Ketua Umum hingga Rais Aam PBNU, Ra Nasih mengungkapkan bahwa NU memiliki banyak tokoh yang berkapasitas.
NU tidak kekurangan stok tokoh. "Kalau bicara sosok sebenarnya banyak yang memiliki kapasitas," tandasnya.