Pakistan Disebut Berhasil Bujuk Iran Berunding Gencatan Senjata
Desy Selviany April 06, 2026 06:35 PM

TRIBUNDEPOK-Pakistan disebut berhasil membawa Iran ke meja perundingan gencatan senjata atas perang dengan Amerika Serikat (AS) yang sudah berlangsung lebih dari satu bulan lamanya. 

Disebutkan bahwa Pakistan saat ini tengah menyiapkan berkas perundingan perdamaian yang dibutuhkan untuk Iran dan AS.

Menurut sumber yang terpercaya seperti dimuat Reuters pada Senin (6/4/2026), AS telah menerima rencana perundingan gencatan senjata tersebut.

Pakistan telah memberikan kerangka kerja untuk mengakhiri permusuhan antara Iran dan AS pada Minggu (5/4/2026) malam.

Gencatan senjata itu memiliki pendekatan dua tingkat yang segera diikuti oleh perjanjian komprehensif.

Nota kesepahaman gencatan senjata akan diselesaikan dan dikirim secara elektronik melalui Pakistan.

Saat ini Pakistan disebut satu-satunya saluran komunikasi dalam pembicaraan tersebut.

Sumber itu mengatakan bahwa gencatan senjata berlangsung 15 hingga 20 hari sampai diperharaui perjanjian perdamaian yang permanen.

Kepala Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir disebut telah aktif komunikasi dengan Wakil Presiden AS JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dalam perjanjian gencatan senjata kali ini.

Namun belum diketahui apakah gencatan senjata itu berlaku untuk Israel juga.

Baca juga: Foto Bunda Maria Dipasang Hizbullah di Rudal yang Dikirim ke Israel

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Seyyed Abbas Araghchi menyebut Iran meminta jaminan untuk mencegah perang kembali.

Sebelumnya berkali-kali Iran memastikan menolak gencatan senjata sementara yang bisa membahayakan negara mereka. 

Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araghchi pun mengungkapkan alasannya menolak gencatan senjata dengan AS-Israel. 

Iran menyebut penolakan gencatan senjata bukan berarti bahwa Iran menyukai perang. 

Namun seluruh dunia mengetahui yang memulai peperangan saat ini adalah AS dan Israel terlebih dahulu dengan melakukan serangan Sabtu (28/2/2026). 

“Ketika kita mengatakan bahwa kita tidak menginginkan gencatan senjata, bukan karena kita menginginkan perang,” jelasnya. 

Sehingga kata Araghchi, apabila perang berakhir, maka Iran harus memastikan musuh mereka tidak melakukan kesalahan yang sama seperti 28 Februari lalu. 

“Perang ini harus berakhir dengan cara yang memastikan musuh kita tidak akan pernah lagi berpikir untuk mengulangi serangan ini,” kata Araghchi.

Saat ini Iran juga mau memberikan pelajaran terhadap AS bahwa Republik Islam bangsa yang tidak mudah patuh dan siap bertempur demi membela diri. 

Padahal AS berkali-kali melemparkan sinyal gencatan senjata sebelumnya.

Bahkan Presiden AS Donald Trump beberapa hari lalu menyebut bahwa perang dengan Iran akan berakhir dua hingga tiga minggu ke depan.

Namun demikian pernyataan Trump dibantah mentah-mentah oleh militer Iran. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.